fbpx
Kabar Daerah

Pabrik Rokok Kecil Tak Persoalkan Cukai Naik, Asalkan…

KUDUS, energibangsa.id – Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan tarif cukai hasil temabakau (CHT). Namun, beberapa pemilik pabrik rokok skala kecil yang berada di Kabupaten Kudus ini tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Dilansir dari Antarajateng.com, Jumat (11/12), beberapa pemilik pabrik rokok tidak mempermasalahkan bahkan tidak menolak dengan adanya kebijakan tersebut. Namun, disisi lainnya jika pemerintah melakukan tindakan terhadap rokok illegal secara masif.

Pemilik rokok Rajan Nabadi Kudus, Sutrisno mengatakan, sebagai perusahaan rokok skala kecil hanya bisa patuh dan mengikuti kebijakan yang ada. Menurutnya, kenaikan ini merupakan hal biasa yang sering terjadi pada pabrik rokok.

Harapannya pemerintah melakukan pemberantasan rokok illegal secara masif sehingga para pemasok di Kawasan tertentu jadi berkurang. Dengan begitu, maka rokok legal menjadi alternatif konsumen untuk mengkonsumsinya dan berubah yang tadinya konsumsi rokok illegal menjadi konsumsi rokok legal.

Sehingga perlu dilakukan perimbangan untuk menindak peredaran rokok illegal agar rokok legal pun bisa bersaing di pasaran dan masih tetap bisa berproduksi. Hal ini dikarenakan harga jual dari rokok illegal terbilang murah yaitu Rp 10.000 isi 20 batang. Sedangkan rokok legal berkisar Rp7.000 dengan isi 12 batang.

Hanya berlaku untuk sigaret kretek mesin (SKM)

Kebijakan pemerintah pusat tentang kenaikan cukai rokok hanya berlaku untuk rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM). Sedangkan untuk sigaret kretek tangan (SKT) dikabarkan tidak mengalami kenaikan.

Kabar ini masih simpang siur di kalangan pemilik pabrik rokok. Jika kabar ini benar maka usaha PR Rajan Nabadi Kudus juga akan merasakan dampaknya di tahun 2021 karena sudah mengajukan izin. Ketika izin pendaftaran merek rokok baru SKM sudah  keluar dan dipasarkan baru bisa dirasakan.

Sedangkan pemilik PR Kemabng Arum Kudus, Peter Muhammad Farouk mengatakan, untuk produksi rokok dengan skala kecil maka dirinya juga tidak lagi memproduksi SKM karena sulit bersaing dipasaran. Sehingga Ia beralih ke SKT dan harapannya tidak ada kenaikan tarif karena padat karya yaitu dengan melibatkan banyak pekerja.

Peter Muhammad Farouk juga mengakaui bahwa rokok SKT golongan III dikabarkan tidak naik. Kenaikan ini hanya berlaku untuk rokok jenis SKM golongan I dan II. Ia juga berharap, pemerintah untuk bisa memaksimalkan penindakan terhadap rokok illegal. Dengan begitu, rokok legal juga diharapkan bisa menggantikan posisi rokok illegal dan bisa bersaing dengan adil. (*)

Related Articles

Back to top button