sumber:suaraterkini.com
sumber:suaraterkini.com
Essai

Orang-orang “Demam”

0

Kenormalan baru menyisakan kesadaran publik untuk hidup lebih sehat

Didik T Atmaja (Dokumen: Istimewa)

ENERGIBANGSA.ID – Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia ini di sisi lain justru melahirkan tren dan gaya hidup di kalangan masyarakat. Tren-tren baru tersebut belakangan ini serba dadakan. Mau dikatakan lucu, tapi bagus jugalah kalau diterapkan.

Ya, lucu. Orang yang sebelumnya malas, memble kalau disuruh olahraga. Kini tiba-tiba pada rajin berolahraga. Pagi-pagi, bangun tidur, lari-lari kecil. Siang dikit, berjemur. Dan seterusnya. Apa menyehatkan ? Ya sehatlah, wong olahraga kok !

Lalu, tak ketinggalan, orang-orang kemudian suka bersepeda. Konon, bahasa milenialnya “gowes“. Ramai, saban sore dan jam-jam tertentu. Malah, di hari-hari weekend luar biasa. Rombongan pe-gowes nampak akrab menyesaki jalanan. Bebas, namanya juga pengguna jalan. Bayar pajak juga. Banyak teman, lagi. Hayo, siapa berani !

Nah, kalau dilihat dari jenis dan merk sepedanya. Jelas, orang-orang itu banyak duit. Mereka turut andil sebagai pe-gowes kambuh. Ujug-ujug mereka turut menyemarakkan fenomena gowes akhir-akhir ini. Pakai helm khusus, kadang pula ada yang mengenakan pelindung ‘dengkul’.

Kata penjual sepeda; “Alhamdulillah”, hobi dadakanmu jadi cuan bagiku ! Mereka, para bakul sepeda juga banyak untung dadakan. Awalnya, sebelum pandemi mungkin seminggu laku 1 unit. Setelah “demam” melanda, seminggu bisa laris 10 unit sepeda. Kan keren tuh !

Ada lagi, orang-orang kemudian lebih suka jalan kaki. Dengan kostum khusus, bersepatu, mereka tiba-tiba turun aspal: jalan kaki. Ada yang lari-lari kecil juga. Ciamik ! Jalannya “melenggang kangkung”, asyik, sambil ngobrol sesama temannya.

Ya, namanya juga era kenormalan baru. Jadi ya, apa-apa yang awalnya tidak biasa menjadi dibiasakan. Hal yang tidak pernah dilakukan, kemudian dilakukannya. Wajar dan sah-sah saja. Asal yang dilakukan tetap bernilai positif serta tak merugikan orang lain. Tapi kalau nggowes, terus nerobos traffic light ya berbahaya. Kalau ketabrak pengguna jalan lainnya piye ? Hayo ?

Hematnya, tatanan kenormalan baru ini memang sungguh luar biasa. Itu semua berkat pandemi Covid-19 yang menyisakan kesadaran publik untuk hidup lebih sehat. Yang suka gowes, ya goweslah. Bagi yang seneng jalan kaki, jalanlah. Tapi semua kudu bagi-bagi pengertian ya ? Kasihan pula, pengguna jalan lainnya kadangkala harus “mengalah”, rem mendadak, karena dari arah berlawanan muncul pengendara mobil atau lainnya. Demi menghindari para pegowes atau pejalan kaki yang lagi “demam”. Tabik!

Didik T Atmaja,
Esais dan Kolumnis, tinggal di Semarang

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Sambangi Peternak Arwana, Ganjar: Bagaimana ya, Kalau Digoreng?

Previous article

Hari ini, Jokowi di Jawa Tengah

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Essai