fbpx
Nasional

Optimisme Indonesia Bisa Menang Lawan Covid-19 Tanpa Vaksin

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Pasien positif Covid-19 yang semakin meningkat membuat masyarakat harus selalu bersikap waspada dan menjaga diri. Banyak cara yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk menekan angka meningkatnya Covid-19. Hingga saat ini vaksin yang diperuntukkan untuk pasien positif Covid-19 juga masih dalam tahap uji coba.

Namun Wiku Adisasmito selaku Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia menyebutkan jika Indonesia dapat terbebas dari pandemi Covid-19 tanpa harus menunggu vaksin. Hal ini juga sempat dinyatakan oleh  Ahmad Rusdan Handoyo, seorang ahli biologi molekuler.

Menurut Wiku, masyarakat hanya perlu menerapkan protokol kesehatan yang telah dibentuk oleh pemerintah dengan ketat agar tidak terpapar dari Covid-19.

“Memang bisa kita bebas dari Covid-19 tanpa vaksin dengan perubahan perilaku, supaya tidak tertular atau terinfeksi ya menjalankan protokol kesehatan. Itu imunitas masyarakat yang murah,” ujarnya melalui pesan teks, Senin (14/9).

Pencegahan virus Covid-19 juga bisa dilakukan dengan metode 3T, yakni testing-tracing-treatment yang didukung juga dengan mengubah pola perilaku di masyarakat.

“Supaya tidak tertular atau terinfeksi ya tetap menjalankan protokol kesehatan,” ucapnya.

Sebelumnya, ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo mengatakan Indonesia tak perlu menunggu keberadaan vaksin Covid-19. Hal ini dikarenakan penemuan vaksin dan obat membutuhkan waktu lama.

Ia mengatakan kunci pemutusan mata rantai pandemi Covid-19 yaitu kombinasi 3T (testing, tracing, dan treatment) serta 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan). Kunci ini juga harus didukung dengan kebijakan lockdown atau PSBB yang harus dilakukan oleh masyarakat.

“Kombinasi 3T, 3M dan ‘lockdown’. Karena uji klinis vaksin belum tentu berhasil, jadi perlu langkah antisipatif,” ujar Ahmad saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu (13/9).

Ahmad mengatakan pandemi SARS dan MERS yang diakibatkan dengan virus corona yang mirip dengan virus SARS-CoV-2 dapat dituntaskan tanpa vaksin dan obat. Kedua pandemi itu berakhir sebelum uji klinis selesai.

Namun penyakit SARS dan MERS cukup mudah diidentifikasi karena menimbulkan gejala bagi orang yang terinfeksi. Sementara Covid-19 kebanyakan pasien tidak menimbulkan gejala, sehingga penanganan sering kali terlambat.

Oleh karena itu, Ahmad mengatakan pentingnya tes PCR untuk mendeteksi kasus Covid-19 yang tak menunjukkan gejala, sebab orang-orang yang tak menimbulkan gejala ini juga sudah bisa menginfeksi orang-orang di sekitar.

“Begitu mulai berkoloni di saluran pernapasan atas, sementara inangnya sudah berangkulan, berbicara bahkan berteriak tanpa menggunakan masker dan jaga jarak maka virus yang sudah bereplikasi akhirnya terbuang di jalur droplet. Itu semua membuat penyebaran sebelum gejala nampak,” kata Ahmad.

“Kalau kita bicara SARS-CoV-2, jumlah partikel virus ini menumpuk sebelum gejala. Jadi kalau kita pakai rapid test antibodi itu kita sudah terlambat. Karena untuk memutus rantai transmisi, mengenali secepat mungkin yang membawa virus ini,” tutupnya. (EB/cnnindonesia).

Related Articles

Back to top button