fbpx
Opini / Gagasan

NU dan Muhammadiyah: Dua Penyemai Pemersatu Bangsa

Oleh: Saiful Bari, Alumnus Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua DPW Banyuwangi Youth Movement Institute

ENERGIBANGSA.ID—Diakui atau tidak, meski Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan pada 30 Desember 2020 kemarin, namun ideologinya masih santer berkeliaran di dunia maya.

Tak hanya itu, eks anggota FPI bahkan berkali-kali mengganti nama dari Front Pembela Islam menjadi Pemersatu Islam, Penjaga Islam atau persaudaraan Islam. Tentu ini adalah warning.

Jamak diketahui, Islam sama sekali tidak butuh pembelaan siapapun. Karena Islam sudah dijaga dan dilindungi oleh Allah SWT.

Maka, adalah sebuah kegagalan paham apabila ada seseorang atau bahkan organisasi yang mengatasnamakan Islam yang menganggap mereka sebagai pembela Islam. Namun, dalam praktiknya, jauh dari asas-asas Islam itu sendiri.

Peran NU-Muhammadiyah

Keberadaan organisasi keagamaan yang seperti itu pada gilirannya membikin citra Islam semakin buruk. Alih-alih membela Islam, yang terjadi justru menjatuhkan ‘marwah’ Islam itu sendiri.

Di tengah krisis dan citra Islam yang buruk di pentas nasional, yang sebagian didominasi oleh tindakan kelompok radikal ekstrimisme dan konflik sektarian.

Maka kehadiran Islam yang dipresentasikan oleh NU dan Muhammadiyah harus mampu menjadi oase dan bahkan, meminjam bahasanya Buya Syafii Maarif (2019), menjadi kiblat baru bagi masa depan Islam di dunia.

Meminjam bahasanya Muhammad Najib Azca (2019), kita tidak boleh larut dalam optimisme atau lebih tepatnya, larut dalam sikap romantik yang tidak kritis.

Harus diakui pula, bahwa Islam yang diusung oleh NU dan Muhammadiyah jauh dari paripurna. Sebab, Indonesia yang menjadi pusat Islam NU dan Muhammadiyah, justru kerap kali mendapat terjangan arus gelombang intoleransi dan radikalisme-terorisme.

Menguatnya arus intoleransi dan radikalisme-terorisme pada gilirannya mampu menciptakan polarisasi. Lebih jauh lagi, mampu meruntuhkan kedaulatan NKRI itu sendiri. Sungguh, ini tentu tidak diharapkan oleh warga Indonesia.

Meski spirit yang diemban oleh NU dan Muhammadiyah berbeda. Namun keduanya mampu memberi ragam warna artikulasi Islam bercorak moderat di Indonesia.

Apabila Muhammadiyah mengemban spirit modernisme yang mengendepankan rasionalitas, pembaruan dan bahkan pemurnian—dipengaruhi oleh gagasan pembaharuan (tajdid) Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Maka NU mengokohkan spirit tradisionalisme yang adaptif dan apresiatif terhadap kekayaan dan tradisi lokal—mengacu pada tradisi yang dibangun oleh para ulama salaf.

Pada titik ini, dua titik antara modernisme dan tradisionalisme secara logika seharusnya bersebrangan. Akan tetapi, perbedaan spirit inilah NU dan Muhammadiyah mampu menyemai dalam persatuan dan bina damai.

Maka, tak ayal perbedaan kultur NU dan Muhammadiyah mampu menyulut ketegangan dan konflik horisontal serta ekslusi sosial. Hal tersebut terlihat terutama pada fase awal pembentukan keduanya.

Di mana gerakan pemurnian keagamaan ala Muhammadiyah secara aktif dan demonstratif mengkampanyekan perang melawan takhayul, bid’ah, dan kurafat (TBC).

Namun uniknya, apabila urusan kenegaraan, misalnya relasi agama dan negara atau ulama dan umara (pemerintah), sejauh pengamatan saya, kedua ormas ini justru saling mengapresiasi.

Tak selalu berseberangan

Dengan kata lain, harus diakui pula bahwa relasi NU dan Muhammadiyah tak selalu diametral, atau tidak selalu berada pada posisi yang saling berhadapan dan bersebrangan.

Jika kita lacak sejarah Indonesia, dua ormas ini pernah berada dalam satu atap Masyumi. Bahkan satu suara dalam memperjuangkan Islam sebagai dasar negara di saat berlangsungnya sidang BPUPK

Sementara di era reformasi, nyaris relasi NU dan Muhammadiyah berjalan bersama dalam meng-counter agenda gerakan transnasional Islam atau ekstrimisme yang mempertentangkan relasi Pancasila dan agama.

Dalam fenomena pembubaran HTI dan FPI yang baru-baru, NU dan Muhammadiyah sepakat dan mendukung keputusan pemerintah untuk membubarkan ormas-ormas tersebut.

Pasalnya, dalam pandangan NU dan Muhammadiyah, siapa pun yang hendak merongrong kedaulatan negara maka tindakannya tak dapat dimaafkan.

Sehingga, tak berlebihan jika dikatakan NU dan Muhammadiyah adalah ormas yang telah berkontribusi secara aktif dan positif terhadap pembangunan perdamaian dan demokrasi di Indonesia.

Kontribusi keduanya dapat kita telusuri dari berbagai aspek. Misalnya dalam bidang pendidikan, kesejahteraan sosial, kesehatan, ekonomi, hingga ikhtiar resolusi konflik dan bina damai.

Dari kesemuanya yang disebut tadi telah secara nyata kita rasakan. Spektrum yang melewati batas suku, agama, ras dan antargolongan inilah yang dibutuhkan oleh setiap ormas di Indonesia.

Ending-nya, setiap ormas yang ada di negeri ini mampu meneladani kiprah kedua ormas tersebut dalam menyemai pemersatu bangsa Indonesia. (*)

Related Articles

Back to top button