fbpx
EssaiOpini / Gagasan

Nikahku Proklamasiku

Oleh: Muhammad Umar Faruq *

qobiltu nikahaha wa tazwijaha linafsy bil mahril madzkuri haallan

Sepenggal kalimat itu mungkin terkesan remeh, namun kalimat itu sangat sakral; diidam-idamkan dalam benak para lelaki bujangan dan ditunggu-tunggu oleh para wanita yang belum bertemu sang imamnya.

Layaknya proklamasi yang diperagakan Bung Karno dalam kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini, seusai mendengungkan sighot qobul tadi, maka ‘merdeka’ lah para bujangan itu dari penjajahan nafsu dan robohlah tembok-tembok agama yang selama ini mengintimidasi hawa nafsunya terhadap lawan jenisnya.

*****

Dalam al-Quran, Allah telah berfirman berkaitan dengan keberadaan manusia, yakni terdiri dari laki-laki dan wanita, tergolong menjadi bangsa-bangsa dan suku-suku adalah supaya saling mengenal, dan manusia yang paling mulya adalah yang paling bertaqwa (QS. Al Hujurat;13).

Misi penjajahan oleh nafsu atas manusia, telah dimulai sejak penciptaan manusia perdana, Nabi Adam AS, ketika untuk pertama kalinya Hawa (wanita) dititahkan Allah untuk Adam (pria).

Allah tidak menciptakan Hawa (wanita) sebagai komplementer atau sebagai barang substitusi apalagi sekedar objek buat kaum Adam, tetapi Allah menciptakan Hawa sebagai pendukung sekaligus teman yang mendampingi hidup Adam tatkala kesepian di surga dan juga Allah ciptakan wanita sebagai pasangan hidup bagi laki-laki untuk menyempurnakan hidupnya sekaligus sebagai penyebab lahirnya generasi, disamping tunduk dan beribadah kepada Allah tentunya.

Ketika kaum Adam terpesona pada keindahan dan kecantikan yang dimiliki kaum Hawa, maka sesungguhnya lelaki tersebut telah membenarkan firman Allah SWT. yang artinya: “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Ia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Rum; 21).

Tak pelak, wanita memang makhluk yang elok nan indah. Karena itulah syaitan sering memperalat wanita untuk meruntuhkan keimanan seseorang. Seperti yang dikutip dari kitab Bughyatul Mujstarsyidin, Syaikh Abu Laits dalam kitab Bujairami ala Al Iqna’, merangkum 8 golongan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang.

Beliau berkata: “Berkumpul dengan orang kaya, menambah cinta dunia. Berkumpul dengan orang fakir, menambah rasa syukur dan ridlo dengan pemberian Allah.”

“Berkumpul dengan penguasa, menambah kerasnya hati dan kesombongan. Berkumpul dengan para wanita, menambah kebodohan dan syahwat.”

“Berkumpul dengan anak-anak, menambah kesia-siaan. Berkumpul dengan orang fasiq, menambah keberingasan berbuat dosa dan enggan bertaubat.”

“Berkumpul dengan orang shalih, menambah kecintaan untuk taat kepada Allah. Berkumpul dengan ulama’, menambah ilmu dan amal ibadah.”

Manusia memang tak bisa terlepas dari adanya nafsu. Imam Ghozali dalam kitab Ihya`-nya mengakui, bahwa setiap manusia mengandung 4 unsur, yakni Hati (al-Qolb), Ruh (ar-Ruh), Akal (al-Aklu) dan Jiwa (an-Nafsu). Pada hakikatnya nafsu adalah jiwa dan esensi manusia (nafs al insani wa dzatihi). Tetapi ia disifati dengan sifat yang berbeda-beda sesuai dengan kondisinya.

Suatu hari selepas pengajian oleh Sahabat Ibnu Abbas RA, seorang pemuda tak beranjak dari tempat duduknya. Ibnu Abbas lalu menghampirinya: “apakah engkau butuh sesuatu?”

Pemuda itu menjawab: “iya, aku mau bertanya sesuatu, tapi aku malu dan aku juga takut serta sungkan kepadamu”.

Ibnu Abbas menimpali: “Guru kedudukan seperti orang tua. Maka apa yang kau sampaikan kepada Ayahmu, kau pun bisa menyampaikannya pula kepadaku”

Lalu pemuda itu berkata: “aku seorang pemuda yang tak beristri. Maka ketika nafsu birahiku bergejolak, aku pun beronani dengan tanganku. Apakah hal itu termasuk maksiat?”.

Seketika Ibnu Abbas berpaling darinya, kemudian berkata: “menijijikkan, sungguh menjijikkan. Lebih baik engkau menikahi seorang hamba sahaya daripada (onani) seperti itu”.

Dalam kisah ini Imam Ghozali menyimpulkan, bahwa pemuda (normal) yang membujang, akan terkungkung dalam 3 kehinaan. Yang paling ringan adalah menikahi seorang hamba sahaya (budak), dan yang lebih berat dari itu adalah onani (perancapan), dan yang terberat adalah zina.

Masa Penjajahan

Proklamasi berasal dari bahasa latin procalamare. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), proklamasi adalah pemberitahuan resmi kepada seluruh rakyat. Dan telah menjadi asumsi umum bahwa proklamasi yakni pemberitahuan resmi tentang kemerdekaan suatu wilayah yang sebelumnya terjajah oleh bangsa dari luar wilayah itu.

Persepsi makna seperti ini tak jauh berbeda dengan fenomena pernikahan. Jika dinisbatkan dengan kata proklamasi, maka pernikahan adalah pemberitahuan resmi (berupa akad dan disyaratkan adanya minimal 2 orang saksi) tentang kemerdekaan (baca: kehalalan) seseorang terhadap lawan jenis yang dinikahinya (yang sebelumnya diharamkan untuknya).

Bahkan makna kemerdekaan yang tersirat dalam pernikahan tak berhenti pada halalnya menyalurkan nafsu kepada pasangannya. Rasulullah SAW bersabda: “barang siapa menikah, berarti ia telah menjaga setengah dari (cobaan) agamanya. Maka bertakwalah untuk (menghadapi) setengahnya yang lain”.

Imam Ghozali menjelaskan bahwa sesuai dalam hadits itu, ada 2 hal terbesar yang dapat merusak keimanan seseorang, yakni farji (syahwat, urusan dzohiriyah) dan perut (rizki, urusan bathiniyyah). Maka dengan menikah akan mengurangi cobaan berat dalam keimanan kita itu.

Lebih dalam lagi, Ibnu Abbas RA. menambahkan: “tiada sempurna pengabdian ibadah seseorang sehingga ia mau menikah”. Tak dapat dipungkiri, nafsu syahwat memang menjadi fitrah setiap manusia. Manakala belum tersalurkan, maka lazimnya ia akan terus menghantui hati dan pikirannya.

Padahal ibadah dapat dianggap khusyu` dan sempurna dengan metode faragh al-qalb (pengosongan hati dari segala hal yang mengganggu kesempurnaan ibadah).

Oleh karena itu, perlu adanya pemecahan yakni dengan menikah. Bahkan dalam suatu ijtihad ulama` fiqh, tentang kasus pemilihan jama`ah shalat, salah satu kategori untuk berhak menjadi imam adalah yang memiliki istri tercantik.

Meski kategori tersebut berada dalam level terakhir, namun hikmahnya adalah, ketika nafsu syahwat seseorang telah tersalurkan, ia bisa lebih “merdeka” dalam menjalankan ibadahnya, terlebih shalat.

Tak ayal memang, tatkala nafsu syahwat bergelora dan tak diimbangi dengan kuatnya ketaqwaan, dengan mudah ia akan terjerumus ke berbagai lembah comberan kemaksiatan.

Acapkali meskipun dengan sekuat tenaga ia mengendalikan nafsu syahwatnya, maka lazimnya usahanya itu sebatas menahan anggota tubuh dari “mengamini” ajakan nafsunya, yakni menahan pandangan mata dan menjaga kemaluannya.

Adapun mengatur pergerakan hati dari godaan dan lamunan, maka hal itu diluar kontrol kekuasaan seseorang. Bahkan tak henti-hentinya hatinya membicarakan urusan seksualitas, tentang lawan jenisnya, dll, dan syaitan pun tak pernah lelah mengintimidasi alam pikiran kita kapanpun dan di manapun.

Tak jarang, kekhusyu`an saat shalat terkontaminasi dengan pikiran-pikiran jorok yang terbersit dalam hatinya, yang jika diutarakan dihadapan orang lain ia tentu akan malu.

Padahal Allah Maha Mengetahui isi hati manusia, dan posisi hati dihadapan Allah sama dengan posisi lisan dihadapan manusia, sedangkan tolak ukur menuju thoriq al akhirah adalah isi hatinya. Na`udzubillah

Meskipun upaya merobohkan atau minimal menekan nafsu syahwat adalah dengan puasa, akan tetapi hal itu belum tentu dapat mencabut pemberontakan apalagi bisa “merdeka” dari penjajahan nafsu syahwat selama masih mondar-mandir dalam alam pikirannya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “wanita itu aurat, maka jika ia keluar rumah (tanpa busana yang memadai) maka bersiaplah syaitan untuk memanfaatkannya (sebagai racun bagi laki-laki)”.

Beliau SAW juga bersabda: “tiada cobaan lain setelah kematianku yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, kecuali cobaan yang berhubungan dengan wanita”. (HR. Bukhari dan Muslim). Syakh Fayadl bin Najih menambahkan: “ketika kemaluan lelaki telah ereksi maka hilanglah 2/3 akalnya”.

Sebagian ulama lain mengatakan, hilang 1/3 agamanya. Maksud dari dawuh-dawuh ini menunjukkan betapa berbahaya nafsu syahwat yang ada dalam diri manusia. Inilah cobaan yang universal dialami setiap manusia dan sedikit yang bisa lolos darinya.

Pasca Kemerdekaan

Bapak Proklamator Indonesia, Ir. H. Soekarno pernah mengeluarkan statemen: “ perjuanganku (sebelum kemerdekaan) lebih mudah karena melawan bangsa lain (penjajah). Tapi perjuanganmu (pasca kemerdekaan) lebih berat karena melawan bangsamu sendiri”.

Statemen Bung Karno tersebut sebenarnya menunjukkan “kasyaf” beliau terhadap masa depan. Melawan bangsa lain lebih mudah kala itu karena rakyat bersatu. Tapi untuk masa depan (pasca kemerdekaan) perjuangan lebih berat karena kita melawan kejahatan dan kolonialisme yang dilakukan bangsa (baca: saudara) kita sendiri terhadap negeri ini.

Begitu pula dengan adanya pernikahan. Kala masih bujangan, seseorang hanya “melawan” diri sendiri. Namun pasca menikah, ia harus bersiap dengan perjuangan yang lebih berat, yakni menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (QS. At Tahrim: 6).

Jadi adanya prosesi “proklamasi” berupa pernikahan, bukanlah akhir dari perjuangan melawan kompeni “penjajah” (hawa nafsu) kita. Untuk itulah mari kita persiapkan diri kita, baik pra nikah maupun pasca nikah. Merdeka!!!

*Muhammad Oemar Faruq, guru ngaji dan pedagang Kitab

Related Articles

Back to top button