EssaiKita IndonesiaOpini / Gagasan

Sudah Merdekakah Beragama di Indonesia?

Oleh : Gilang Dwiangga Putra Nababan *

Indonesia, negeri kita tercinta, merupakan kiblat bagi berbagai negara di belahan  dunia dalam urusan keberagaman beragama. Bumi pertiwi selalu dikagumi oleh banyak pihak atas toleransi yang terajut dalam dirinya. Bahkan belum lama ini dunia memberikan penghargaan untuk bumi nusantara atas keberhasilannya menyatukan kehidupan yang penuh perbedaan dan keberagaman

Bila dipandang memang sungguh mengagumkan. Namun ada pertanyaaan yang menggelitik benak penulis untuk menerka-nerka. Yang mana pertanyaan ini bak angin yang berhembus membelai mesra wajah penulis saat ini, :

Benarkah predikat toleransi ini layak kita pegang? Atau pantaskah Indonesia menjadi kiblat bagi berbagai negara di belahan dunia untuk keragaman beragama?

Ya, tak bisa dipungkiri memang, di mata dunia, Indonesia terkenal dengan keberagaman suku, ras, agama, Hal ini merupakan sebuah harta yang diberikan Sang pencipta bagi Indonesia. Sebuah Multikulturalisme. Sebuah keberagaman dan perbedaan yang bukan menjadi penghalangan atau kekurangan melainkan menjadi sebuah kekayaaan yang tentu harus selalu masyarakat nusantara jaga.

Namun harta dan berkah tersebut seakan dikesampingkan begitu saja. Kenapa penulis bisa berkata sedemikian rupa?. Perkataan penulis ini tentu bukan tanpa sebab. Ada asap selalu ada api. Tidak mungkin tidak.

Coba perhatikan bagaimana kehidupan bermasyarakat yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Jika menengok sedikit lebih dalam beberapa peristiwa yang terjadi, kata toleransi hanya menjadi kata tanpa memiliki rupa esensi.

Betapa tidak, alih-alih saling menjaga keberagaman dan perbedaan untuk menjadi kerukunan dan kesatuan malah satu persatu saling mengkukuhkan pembenaran menciptakan permusuhan.

3 hingga 5 tahun belakangan merupakan bukti bahwa perdebatan berujung konflik yang mengatasnamakan agama begitu kentara di negeri kita tercinta.

Lihat saja bagaimana banyak nya penolakan pembangunan gereja diberbagai daerah oleh sekelompok orang yang diketahui dari oknum tertentu mengatasnamakan agama.

Pembakaran rumah ibadah yang juga terjadi diberbagai daerah juga mengatasnamakan agama. Atau ceramah yang dilakukan pemuka agama yang bersifat provokasi dan menjatuhkan salah satu agama di negeri ini. Ini menjadi salah satu contoh konkret yang mampu kita lihat bersama-sama dan begitu jelas.

Berbagai macam tempat beribadatan yang ada di Indonesia. (dok penulis.ukm.um.ac.id)

Hal ini sungguh amat sangat menyedihkan dan mengironikan. Terlebih budaya kita dari dulu adalah budaya saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Yang berbeda biarkan berbeda selama tidak membahayakan keutuhan negara. Yang beragam biarkan beragam bukan untuk dijadikan seragam.

Selain itu dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 jelas mengatakan dan menjamin kebebasan beragama bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada pasal 29 UUD 1945 berbunyi (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dari isi pasal 29 ayat 2 dijelaskan bahwa setiap warga negara memiliki agama dan kepercayaanya sendiri tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun.

Dan tidak ada yang bisa melarang orang untuk memilih agama yang diyakininya. Setiap agama memiliki cara dan proses ibadah yang bermacam-macam, oleh karena itu setiap warga negara tidak boleh untuk melarang orang beribadah. Supaya tidak banyak konflik-konflik yang muncul di Indonesia.

Apalagi pancasila sebagai ideologi bangsa sudah dirumuskan sedemikian rupa dengan melihat kekayaan dan keberagaman yang dimiliki Indonesia,  dimana setiap butir dan nilai yang terkadung didalamnya sebuah tindakan yang seharusnya dilakukan.

Kenapa kita tidak berusaha mengamalkannya? Atau Pancasila hanya sebagai bahan hafalan kita semata? Lantas Apakah kita tidak lagi menyandarkan diri pada UUD 1945 dan Pancasila sebagai pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara?

Saat ini negara kita telah masuk di usia 74 tahun kemerdekaan. Usia ini bukanlah usia muda. 74 tahun merupakan usia yang matang untuk mulai menata Indonesia menjadi negara yang lebih baik dan maju.

Namun melihat hal ini kemerdekaan yang kita raih masih terasa hambar dan belum lengkap. Rasanya kita memang sudah merdeka tapi hal itu belum tercapai 100% merdeka. Sebagaimana yang diungkapkan Tan Malaka dan Jenderal Soedirman.

Ya, tidak ada yang tahu tentang itu, tentang perkataan merdeka 100%. Sebab Tan malaka saja tentu  mungkin tidak diketahui banyak orang di bumi nusantara. Bila mengetahui dalam pikiran mereka sudah tertanam ia adalah tokoh komunis dan kiri mengapa kita mengenalnya seharusnya kita lawan.

Penulis menuliskan referensi perkataan Tan Malakan bukan berarti penulis seorang komunis yang mendukung gerakan itu. Itu tidaklah benar. Yang harus kalian ketahui Tan Malaka merupakan salah satu inspirator bagi para Founding Father kita. Mulai dari Soekarno, Syahrir dan sebagainya dalam membentuk negara kita tercinta.

Tan Malaka juga seorang muslim yang taat dia dilahirkan dalam keluarga islam yang menjunjung nilai-nilai agama.

Dalam bukunya Islam dalam Madilog, dirinya mengungkapkan Ibu dan Bapaknya adalah seorang yang taat dan takut kepada Allah SWT dan selalu menjalankan sabda baginda Rasullullah SAW.

Selain itu Tan malaka juga mengatakan bahwa sedari kecil dirinya sudah bisa tafsirkan Al-Quran dan dijadikan guru muda.

Jadi hal ini yang membuat penulis menuliskan referensi perkataan dari Tan Malaka, apalagi perkataan tentang merdeka 100% memanglah benar.

Negera kita yang sudah merdeka seutuhnya seharusnya tercermin dalam segala aspek, salah satunya beragama.

Bila beragama dan memeluk salah satu agama masih saja menjadi momok menakutkan, hal yang diperdebatkan dan merenggut kemerdekaan bagi siapa saja di Indonesia maka kemerdekaan tersebut belum tercapai 100%.

Sebab sekali lagi negara kita negara ber-Bhinneka Tunggal Ika. Bukan negara satu agama. Bukan negara dengan keseragaman. Dan juga bukan negara berideologi agama.

Oleh karena itu, selayaknya kita menjujung tinggi kebebasan dan kemerdekaan beragama. Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Budha dan Hindu.

Indonesia bukanlah Indonesia bila tidak ada Islam. Bila tidak ada Kristen dan Katolik. Juga bila tidak ada konghucu, Budha serta Hindu. Indonesia terbentuk dari keragaman agama, budaya, suku dan golongan.

Indonesia merdeka juga hasil jerih payah para pejuang yang tidak hanya beragama satu. Ada Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan kepercayaan lokal yang saling bahu-membahu mengusir penjajahan dari bumi nusantara.

Sudah saatnya kita merajut perbedaan untuk menjadi persatuaan dan kerukunan, bukan permusuhaan. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang mampu memandang perbedaan dan keragaman.  Juga berjalan beriringan dengan perbedaan dan keragaman tersebut.

*Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Bumi Atlas.

Related Articles

Back to top button