PendidikanReligius

Nasaruddin Umar: “Antara Murid dan Pelajar”

ENERGIBANGSA.ID – Murid dan pelajar atau anak sekolahan biasa tidak identik. Kata murid berasal dari bahasa Arab kemudian menyeberang menjadi bahasa Indonesia. Murid dari akar kata arada-yuridu-murid yang berarti orang yang memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan sesuatu. Dalam perspektif tasawuf murid diartikan sebagai orang-orang yang berusaha untuk mencari ilmu pengetahuan dari Allah Swt. Berbeda dengan bahasa Indonesia, murid diartikan dengan pelajar, siswa, atau anak sekolahan, yaitu anak-anak yang berusaha mencari dan menemukan ilmu pengetahuan dari guru. Dalam bahasa Arab, murid berbeda dengan kata tilmidz, yang biasa diartikan dengan pelajar biasa atau anak sekolahan.

Murid padanannya ialah mursyid, yaitu pembimbing yang bisa mengarahkan sang murid menemukan ilmu Allah Swt. Sedangkan tilmidz atau murid padanannya ialah guru atau pengajar (mu’allim). Murid dan mu’allim berbeda dari segi fungsi dan performance. Seorang mursyi dituntut untuk memiliki kepribadian utuh, muru’ah, akhlak karimah, rasa malu yang tinggi (haya’), menghindari dosa, dan selalu berusaha melakukan pendekatan diri kepada Allah Swt. Sedangkan guru (mu’allim) tidak menuntut persyaratan seketat itu.

Seorang murid disyaratkan harus mampu memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Muwafiqat; Sang murid menentang musuh-musuh kebenaran, seperti setan, nafsu, cinta dunia berlebihan, dan mencintai wali/kekasih Allah Swt (Waliyyullah).

2. Mayl; yaitu sang murid selalu cenderung kepada Allah swt. Ia harus menghilangkan “segala sesuatu selain Allah” dari ruang hatinya.

3. Muwanisat; yaitu sang murid meninggalkan segala sesuatu dan mencari Tuahan.

4.Mawaddah; yaitu sang murid berusaha berada dalam keadaan patuh, taat, tunduk, penuh penyesalan dosa, meratapi kesalahan, menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang, serta berada dalam harapan dan kegelisahan.

5. Hawa; yaitu sang murid menjaga ketekunan berjuang melawan dosa dan melembutkan hati.

6. Khullah; yaitu sang murid menjaga agar semua anggota tubuhnya mengingat Allah swt dan hening dari segala godaan dunia.

7. Ulfah; yaitu sang murid berusaha mengosongkan dirinya dari sikap tercela dan terhina dan selalu
cenderung kepada sikap-sikap terpuji.

8. Syagf; yaitu sang murid dengan niat teguh berusaha menghilangkan kejahatan hati dan selalu berusaha mengingat usaha menyingkapkan misteri cinta kepada Allah Swt, kesetiaan, berlindung di bawah kendali dan kesenangan sektase spiritual (wajd).

9. Taym; yaitu sang murid menjadi “budak cinta” dan menenggelamkan diri ke dalam keterpisahan lahiriah (tajrid) dan kesendiriian batiniah (tafrid).

10. Walsyi; yaitu sang murid berusaha bercermin kepada keagungan Allah Swt dan mabuk kepayang dalam cinta kepada-Nya.

11. Isyq; yaitu sang murid menjaga lidah dan hatinya selalu menyebut dan mengingat nama Allah (berzikir), serta rohnya selalu menyaksikan keagungan Allah Swt.

Kriteria murid yang sedemikian ketat membayangkan kepada kita bahwa ternyata menjadi murid yang sebenarbenarnya amat sulit. Kriteria murid sama ketatnya dengan kriteria mursyid. Jika kriteria murid dan mursyid diimplementasikan dalam dunia pendidikan kita maka bisa dipastikan hasilnya akan lain. Mungkin akan lebih berkah, lebih berkualitas, dan sekaligus menghasilkan anak-anak didik yang shalih atau shalihat. Betapa tidak, murid dan guru masing-masing saling menjaga kesucian jiwa dan pikiran. Mereka semua santun dan taat untuk mendapatkan dan sekaligus menyalurkan ilmu Allah Swt.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Wamenag RI 2011-2014.

Tulisan ini telah diterbitkan oleh detikNews (23/6/2020)
















Related Articles

Back to top button