Opini / Gagasan

Multi-value dalam Ibadah Qurban

Oleh: Muhammad Fathurrahman*

Mari kita jadikan momentum kurban sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah swt, berbuat baik kepada sesama, agar terjalin keseimbangan antara sipiritualitas dan sosial

ENERGIBANGSA.ID – Kurban merupakan salah satu amalan yang masih eksis dari zaman nabi Ibrahim sampai saat ini. Kita dapat memahami, kurban menjadi salah satu syar’u man qoblana (sesuatu yang di syariatkan sebelum kita/ umat nabi Muhammad).

Kisah nabi Ibrahim dan Ismail ini menjadi sangat fenomenal. Selain dari aspek kenabiannya, terdapat nilai-nilai yang terkandung dalam kisah yang dapat dijadikan sebagai i’tibar atau pelajaran.

Nilai-nilai yang sangat kompleks yang dapat diambil dari kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail, yakni berkenaan dengan penyembelihan hewan itu sendiri. Hal itu dapat dijadikan gambaran pada kita untuk nantinya menjadi orang yang saleh li ta’abud illallah (saleh secara sosial), baik keluarga maupun masyarakat.

Kurban itu sendiri merupakan salah satu usaha mendekatkan diri kepada Allah swt. Yakni dengan cara menyembelih atau berkurban dengan cara-cara yang sudah di syariatkan atau sesuai tuntunan. Oleh karenanya, terdapat suatu persamaan antara kata “qurban” (qoroba) atau “taqorubb” yang artinya mendekatkan diri kepada Allah.

Aspek Sejarah

Secara historis, ibadah kurban merupakan jenis ibadah yang pertama kali dilakukan di bumi oleh dua putra nabi Adam yaitu Habil dan Qabil. Ibadah itu sendiri diabadikan dalam Al-Qur’an pada surat as-Saffat (102-110).

Pada ayat 102, disebutkan “maka kalau anak itu sudah mencapai pada umur baligh dan mampu usaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: “hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”.

Mendengar ucapan sang ayah, Ismail lalu menjawabnya “wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah, kamu akan mendapatiku termasuk ke dalam golongan orang yang sabar” (QS. as-Saffat: 102).

Uraian di atas dapat ditelaah bahwa ada nilai yang sangat menarik pada ayat itu, yaitu mengajarkan kepada kita mengenai pentingnya musyawarah, sifat demokratis dan bijaksana. Selain itu juga dapat dipahami bahwa hubungan antara orang tua dan anak selayaknya diberi ruang dialog yang longgar dengan sikap yang lembut. Tujuannya untuk memunculkan keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak.

Dalam ayat selanjutnya ditegaskan bahwa “maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membandingkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah)” (QS. as-Saffaat 103).

Ada informasi penting pada ayat di atas, yaitu mengenai kepasrahan dan ketakwaan kepada Allah. Kepasrahan ini merupakan suatu bentuk pengabdian hamba yang paling tertinggi atau bisa dibilang intisari dari ajaran agama Islam itu sendiri.

Sebab, dalam kepasrahan terdapat pengakuan kehambaan seorang hamba kepada Tuhannya. Itu berarti, pengakuan sebagai hamba menjadi sesuatu yang lemah, rendah, tak berdaya, tak punya kuasa apapun dan kehinaan diri dihadapan Allah swt.

Banyak sekali simbol kepasrahan diri, namun yang sering dilakukan adalah ketika sedang bersujud dalam shalat. Sujud dalam hal ini menjadi suatu gerakan yang luar biasa. Dimana manusia bersimpuh menundukkan jism mereka; meletakkan kepala di tempat yang serendah-rendahnya dengan memuji Tuhannya.

Penjelasan mengenai orang yang takwa, baik (muhsin) sebagaimana disebutkam dalam ayat 110 yakni: “demikian kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. Hal ini dapat diartikan bahwa syariat kurban itu harus ada continue (dalam artian ibadah) bukan sekedar rutinitas yang bersifat material namun harus di jadikan tolak ukur agar menjadi orang yang muhsin.

Fenomena kurban ini dapat dijadikan sebagai ajang saleh-sosial, bukan hanya dimensi ibadah kepada Allah. Selaras dengan apa yang ditegaskan dalam (QS al-hajj: 36) “dan unta-unta itu kami jadikan untuk bagian dari syiar agama Allah swt, ketika kamu akan menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan kaki-kaki terikat. Kemudian apabila telah mati maka makanlah sebagaimana mestinya dan berilah makan orang-orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta), dan orang yang meminta, demikianlah kami tunjukkan unta-unta itu untukmu agar kamu bersyukur”.

Nilai Psikologis

Pembagian daging kurban itu sendiri merupakan pendekatan secara psikologis terhadap kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Jenis ibadah ini dapat digunakan sebagai wasilah hubungan kemanusiaan yang dilandasi semangat kekeluargaan, kasih sayang antar sesama dalam rangka taqarrub kepada Allah swt.

Namun demikian aplikasi solidaritas sosial yang diimplementasikan melalui kurban harus dilandasi dengan niat ikhlas dan hanya semata-mata untuk Allah swt; bukan untuk mencari nama, popularitas, dan asumsi kedermawanan.

Hematnya, mari kita jadikan momentum kurban ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah swt, berbuat baik kepada sesama, agar terjalin keseimbangan antara sipiritualitas dan sosial. Wallahu’alam bisawab.

Muhammad Fathurrahman, Mahasiswa Program Studi Perbandingan Madzhab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Articles

Back to top button