NasionalPendidikan

Mulai Berjalan, Kini Sekolah Di Jateng Jadi Menyenangkan

ENERGIBANGSA.ID— Ditandai dengan digelarnya workshop GSM di SMKN 11, Kota Semarang, Selasa (13/8) pagi, Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) resmi berjalan di Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Sebanyak enam SMA/SMK akan menjadi contoh model implementasi GSM. Keenam sekolah ini meliputi SMKN Jambu Kabupaten Semarang, SMKN H Moenadi Ungaran, SMKN 11 Kota Semarang, SMAN 1 Boja Kendal, SMAN 16 Kota Semarang, serta SMAN 1 Singorojo Kendal.

“Jadi keenam sekolah ini akan jadi pionir untuk menerapkan GSM. Nantinya keenamnya akan dievaluasi setiap tiga bulan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, saat membuka worskhop GSM.

Dalam konsep itu, nantinya  guru tidak sekadar mentransferkan pengetahuan saja akan tetapi akan lebih banyak berperan sebagai sutradara atau perencana. Bahkan guru bisa menjadi seperti teman atau sahabat yang bisa diajak sharing.

Menurut Jumeri, program GSM yang berawal dari gerakan akar rumput di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini sejalan dengan program-program yang telah dimiliki Pemprov Jateng. 

 “GSM ini adalah bagian dari sekolah tanpa sekat. Konsep ini linier dengan program-program yang telah kami gagas,” kata Jumeri

Di Jateng, sudah terdapat program berupa gerakan sekolah vokasi internasional, program sekolah tanpa sekat, serta program menambah jumlah sekolah inklusi.

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal (berdiri) kala mengisi workshop GSM di SMKN 11, Semarang, Selasa (13/8) siang (dok republika.co.id)

Sementara itu, pendiri GSM, Muhammad Nur Rizal, mengungkapkan salah satu konsep terpenting dari GSM adalah membangun empati sosial.

Sehingga, nantinya manusia-manusia Indonesia di masa depan tidak akan tergantikan oleh robot atau Artificial Intelligence (AI).

“Kami menekankan bahwa yang harus diajarkan di sekolah saat ini adalah membangun keterampilan berpikir,” terang rizal

Ini tentunya, tambah dia, berbeda dengan menjejali anak-anak didik dengan konten-konten pengetahuan yang nantinya bisa dengan mudah dikuasai oleh robot.

Menurut Rizal, GSM ini merupakan model paling relevan di era industri 4.0. Kebijakan tidak lagi bermula dari pemegang kekuasaan, namun dari suara masyarakat.

Sudah waktunya rakyat menyuarakan kebutuhannya secara massif, baru kemudian kebijakan yang dibuat sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

“Karena itu guru tidak boleh sekadar transfer pengetahuan. Apa yang diberikan bukan cuma materi dan nalarnya bukan standardisasi, tetapi harus terpusat pada kodrat manusia, yakni mengasah imajinasi dan kolaborasi,” jelas Dosen Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Jadi, yang harus menjadi fokus sekolah dan guru-guru bukan memberikan materi sebanyak-banyaknya kepada murid, namun memberikan murid sebuah ekosistem pendidikan yang memanusiakan.

 “Maka dari itu salah kaprah jika ada anggapan bahwa anak-anak didik akan semakin pintar jika diberikan semakin banyak pelajaran,” kata Rizal seperti dikutip energibangsa.id dari republika.co.id.

Sebelumnya, akhir pekan lalu, Dinas Pendidikan (Disdik) dan perwakilan guru SMA/SMK di Jateng mengunjungi dua sekolah model GSM di Sleman, yaitu SMPN 2 Sleman dan SDN Rejodani, Ngaglik, Sleman.

Selain studi banding, kunjungan tersebut juga guna mengoptimalkan workshop GSM nanti yang diselenggarakan selama tiga hari dari Selasa (13/8) hingga Kamis (15/8) mendatang.

Gerakan model sekolah ini di Jawa Tengah akan lebih diterima dan diklaim mampu meningkatkan kualitas sekolah pinggiran.

Karena memusatkan pembelajarannya pada perubahan paradigma guru yang selama ini menjadi hal dasar pendidikan namun kerap dilupakan melalui sistem yang dianut. 

Melalui konsep ini siswapun diharapkan bisa mendapatkan proses belajar yang menyenangkan di sekolah.

Related Articles

Back to top button