fbpx
Opini / Gagasan

Muharam dan Gelaran Tradisi yang Mengakar

Oleh: Saiful Bari | Alumnus Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua DPW Banyuwangi Youth Movement Institute

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Bulan Muharam, bagi sebagian umat Islam khususnya di Jawa, dikenal dengan sebutan bulan Suro. Sehingga dalam rangka menyambutnya berbagai ekspresi melalui ritual dan tradisi keagamaan dilakukan oleh masyarakat itu.

Ilustrasi keragaman tradisi Muharam (dok: istimewa)

Sedari dahulu, bulan Muharam memang populer di tengah-tengah umat Islam. Namun bagi kalangan Syi’ah bulan ini merupakan hari kesedihan atas terbunuhnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad saw pada peristiwa Karbala tahun 61 H (680 M).

Sedangkan bagi kalangan Sunni, dapat dilihat dari berbagai perspektif, yaitu perspektif hadis (doktrin), perspektif sejarah (historis), dan perspektif budaya masyarakat (antropologis).

Dalam perspektif doktrin, bulan Muharam adalah hari yang disunahkan berpuasa berdasarkan beberapa petunjuk hadis.

Dari historisnya dapat dilihat bagaimana cara pandang peristiwa (tanggal) 1 dan 10 Muharam menurut Sunni, tentu saja berdasarkan data dan fakta sejarah.

Sedangkan dalam perspektif antropologis, bulan ini ditandai dengan berbagai ritual atau tradisi yang beragam di berbagai daerah yang merupakan refleksi dari kesyukuran atas berbagai peristiwa – meskipun validitas argumennya masih dalam perdebatan.

Namun hal yang pasti, dalam Islam, bulan Muharam merupakan salah satu dari empat bulan suci yang secara gamblang tersurat dalam dalam firman-Nya yang berbunyi:

“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram,” (QS. At-Taubah: 36).

Keempat bulan itu, menurut jumhur ulama, adalah Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Oleh karena itu, bulan Muharram, bagi umat Islam, memiliki keutamaan luar biasa karena termasuk dari Arba’atun hurum (empat bulan yang diharamkan) dan bulan mulia yang dimuliakan oleh Allah.

Berangkat dari penggalan surah di atas, dapat dikatakan, bulan Muharam merupakan refleksi dari kemauan Tuhan, secara konseptual ilahiah, bersifat mutlak.

Namun ketika turun kepada manusia, ia berubah menjadi relatif, tergantung pada latar belakang dan kemampuan manusia.

Oleh karena itu pemahaman atau penangkapan terhadap pesan-pesan agama khususnya kemuliaan bulan Muharam ini akan berbeda dari satu orang ke yang lain, dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Dalam konteks Indonesia

Keberagaman budaya dan agama masyarakat telah mewarnai berbagai tradisi dan ritual yang dilakukan masyarakat pada bulan Muharam.

Itu artinya, kondisi kehidupan keagamaan di Indonesia diwarnai oleh adanya perbedaan-perbedaan dalam pemelukan agama sekaligus praktiknya.

Di samping, ditandai oleh faktor yang lain, misalnya sosial dan budaya, seperti perbedaan tingkat pendidikan para pemeluk agama, perbedaan tingkat sosial ekonomi para pemeluk agama, perbedaan latar belakang budaya, serta perbedaan suku dan daerah asal.

Maka, tak ayal berbagai ekspresi masyarakat dalam menyambut dan peringatan bulan Muharam ini pada akhirnya menjadi sebuah tradisi.

Tradisi yang dimaksud antara lain dapat dilihat mulai dari ada yang membuat makanan berupa bubur merah-putih, mencuci keris, membaca doa-doa, menyantuni anak yatim.

Lebih dari itu, sampai-sampai terselenggaranya pula tradisi kirab seperti di Solo dan Yogyakarta, bulan Asan Usen di Aceh, tradisi Tabut di Bengkulu dan Tabuik di Pariaman Sumatera Barat.

Beragamnya ekspresi melalui ritual dan tradisi keagamaan dalam rangka menyambut hari besar Islam ini menunjukkan bahwa betapa pluralitasnya masyarakat Islam di Indonesia dalam memahami teks dan peristiwa yang erat kaitannya dengan bulan Muharam.

Berbagai aktivitas ritual dan tradisi keagamaan tersebut menandaskan bahwa adanya kebiasaan di tengah-tengah masyarakat dalam menyambut kedatangan bulan Muharam.

Sehingga bisa dikatakan bulan Muharam terutama pada tanggal 1 dan 10 Muharam menjadi bulan tradisi. Dikatakan demikian, karena banyak ritual dan tradisi keagamaan yang diekspresikan tepat pada momen itu (*).

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button