fbpx
Opini / Gagasan

Meraba Kecerdasan Emosional Kita di usia Kanak-Kanak

Oleh: Kukuh S. Aji *

ENERGIBANGSA.ID – Seorang teman bertanya lewat WhatsApp, “Apakah setiap orang dewasa memiliki sifat kekanak-kanakannya pada keadaan tertentu?”

Saya yang mendapuk diri sendiri sebagai praktisi psikologi fundamental langsung menjawab ‘tidak’, agar afirmasi pada kebingungannya tetap berada di tanah dan perlahan ia mau membangunnya.

Sebab kita sudah terlalu banyak bertanya hanya ingin dibenarkan, bukan murni berangkat dari ketidaktahuan akan ilmu pengetahuan.

Akhirnya mau tidak mau, saya yang sudah terlanjur menjawab ‘tidak’ atas pertanyaan tersebut, harus mencari argumentasi dan analogi yang saling cocok.

Perlahan saya membangun jawaban, perlahan ia menyimak, menunggu jawaban atas keresahannya, dan beruntungnya ia tidak tahu bahwa saya juga sedang belajar merancang jawaban itu sendiri.

Sialnya lagi, hidup memang persoalan berproses mencari jawaban. Jadi, saya berada di jalan yang benar, kan?

Sambil ngetik hasil berpikir yang saya lakukan saat itu juga, pun tak lupa memanggil seluruh ingatan pengetahuan untuk menjadi legitimasi atas uraian saya sendiri, akhirnya jawaban saya selesai, dan begini kira-kira bunyinya seperti ini: Kita selalu menganggap bahwa untuk mencapai hal-hal besar maupun menyelesaikan konflik yang terdengar rumit, kita juga butuh effort yang sama besar dan sama rumitnya.

Padahal tidak selamanya begitu. Banyak sekali orang-orang berusaha menyelesaikan masalah tentang masa lalu dengan cara melupakan. Usahanya begitu keras, membuang dan menghindari seluruh hal-hal yang memiliki kemungkinan untuk mendatangkan ingatan itu.

Namun nyatanya tak juga berhasil. Sebab yang dibutuhkan bukan effort yang semacam itu, tapi cukuplah kiranya dengan usaha yang teramat sederhana, yaitu menerima luka dan meyakini setiap luka pasti sembuh.

Anak kecil, mereka selalu suka bermain. Berlarian sana sini, misalnya, kemudian tak disangka ia terjatuh yang bikin lututnya terluka. Benar adanya kalau ia pasti menangis, tapi cuma sebentar.

Setelah itu lari-larian lagi. Dia tak butuh pengetahuan medis dan usaha untuk segera menyembuhkannya, tapi dia cukup menyadari bahwa luka itu ada dan yakin pasti akan sembuh.

Di usia dewasa, konsep berpikir semacam ini makin langka untuk dihadirkan. Padahal berpikir sederhana ternyata penting juga.

Kita orang dewasa terlalu merasa superior sehingga menyelesaikan konflik atau merespon sesuatu dengan konsep-konsep yang rumit. Selain memang pengetahuannya berkembang, rupanya hal demikian cukup memuaskan ego.

Semakin kita terlihat pintar bagi diri sendiri, ego manjadi puas. Yang kronisnya lagi, membentuk citra orang lain agar memandang kita seperti orang cerdas, ego justru tambah puas. Wong Asupannya bukan hanya dari diri sendiri, tapi juga dari luar diri.

Saya manggut-manggut sendiri setelah membaca ulang penjelasan di atas. Ada satu hal yang saya sadari pada waktu itu, ketika mengetik jawaban untuk seorang teman, adalah betapa cerdasnya kita di usia kanak-kanak dalam menguasai coping stress dan pengelolaan batin.

Kita banyak menyederhanakan konflik yang berdatangan, seperti berantem sama teman sendiri sebab permainan kelerengnya dianggap curang, misalkan, kemudian keduanya menangis, sama-sama berhenti bermain dan hanya jadi penonton temannya yang lain yang sedang bermain.

Eh tidak di-nyana, malah mereka berdua main kelereng sendiri di tepian lapangan. Salah satu di antaranya adalah saya.
Mereka tidak pernah menganggap ketegangan antar teman adalah kondisi yang perlu dipanjang-lebarkan. Tidak seperti dewasa kini. Satu orang bersitegang dengan satu orang lainnya, namun lambat laun ketegangan itu melata hingga pada teman-teman selingkarannya. Permusuhan dua kubu dimulai.

Anak-anak juga tidak mengenal, apalagi melakukannya, sebuah konsep berpikir untuk menikmati luka. Mereka sering dicap bandel sebab keaktifannya soal berlarian ke sana dan ke mari.

Kemudian ketika akhirnya mereka terjatuh karna tersandung batu atau karna alasan lain, mereka disumpah serapahi atas kejadian tersebut sebagai akibat ke-“bandel”-annya sendiri.

Mereka merengek sebentar, menepi dari permainan sambil sesenggukkan. Namun tak lama berselang waktu, mereka sudah bisa tertawa kencang dan berusaha mengikuti permainan lagi meski jalannya pincang. Salah satu dari mereka adalah sahabat saya.

Mereka tidak pernah berusaha menyangkal realitas bahwa lukanya yang didapatkan karena terjatuh, bukanlah sebab orang lain, namun sebab kecerobohannya sendiri. Dengan konsep berpikir yang demikian, mereka tidak punya pilihan selain menerima luka itu sendiri.

Penerimaan terhadap luka merupakan gerbang utama untuk memiliki kesembuhan dalam psikoterapi kedukaan. Berbeda ketika kita terus menyangkal realitas ataupun menyangkal keberadaan luka itu. Menyadari adanya luka saja belum, sebab diri kita masih melulu menyangkalnya, apalagi menerima keberadaan luka itu sendiri.

Sedangkan kita sebagai orang dewasa kini, dengan pengetahuan yang makin gemuk dan njlimet, justru seringnya terbelenggu luka karena terlalu banyak berdalih dan mencari alasan-alasan untuk melindungi kecacatan egonya sendiri.

Atas nama pengetahuan dan citra diri yang kita bangun melalui media sosial maupun konvensional selama beberapa rentang waktu, kita merasa bahwa mengakui luka dan kesalahan adalah sesuatu yang tidak baik bagi ego.

Kalau saja ego bisa berbicara dengan kita, barangkali begini kira-kira kalimatnya, Saya orang populer di kampus, saya dikenal banyak perempuan sebagai individu periang dan sering memberi solusi kepada teman-teman yang sedang bermasalah, dan saya juga seorang individu yang cerdas secara pengetahuan, masak iya saya terluka sebab kecerobohan saya sendiri? Tidak mungkin. Tentu itu salah orang lain. Segeralah kamu melakukan manuver seperti itu, agar saya tidak terlihat memiliki luka.

Kembali lagi dengan jawaban saya di atas, bahwa tidak ada unsur kekanak-kanakan bagi orang dewasa pada keadaan tertentu. Yang ada hanya berupa ingatan bahwa kita pernah berada di masa itu, sehingga dengan mudah untuk memanggil kembali pengalaman rasa dari masa lalu.

Namun hal ini bukan berarti menunjukkan bahwa konsep berpikirnya pun juga dapat terpanggil. Sebab mau bagaimana pun, konstruksi berpikir individu dewasa sudah mengalami habituasi untuk berpikir secara abstrak dan kompleks. Menyusupkan rancangan berpikir sederhana seperti waktu kita di usia kanak-kanak, tentu membutuhkan refleksi yang tidak hanya satu atau dua kali, namun terus menerus.

*Kukuh S. Aji, praktisi psikologi afirmasi positif, pemerhati psycho-social dan filosofi Jawa

Related Articles

Back to top button