mudik
Essai

Menyudahi Perdebatan “Mudik”

0

ENERGIBANGSA.ID – Belakangan ini perdebatan atas isu “mudik” dan “pulang kampung” terus menggejala baik dalam percakapan langsung maupun lewat postingan pada media sosial. Facebook sebagai salah satu media sosial paling ramai diminati masyarakat segala kalangan dan usia seakan-akan menjadi sarana paling ampuh untuk curhatan, luapan emosi, kritik bahkan berbuntut pada caci-maki hingga hinaan. Tak peduli siapapun dapat menjadi sasaran “amukan” kata-kata, termasuk presiden.

Di tengah pandemi wabah Covid-19, tema “mudik versus pulang kampung” tak henti-hentinya ‘digoreng’ dan dipublikasikan bebas. Wajar saja, di tengah iklim demokrasi setiap orang berhak bersuara dan mengkritik apa dan siapa saja. Namun jika luput dari kontrol sosial, fenomena ini menjadi tak berujung dan terus berkecamuk padahal di dalamnya cenderung berujung rasis, hinaan dan makian yang sesungguhnya jauh dari nilai moral dan edukasi.

Diskursus mudik dan pulang kampung bermula dari tayangan eksklusif Trans7 Najwa Shihab dengan Presiden Joko Widodo yang salah satu point-nya membincang fenomena mudik dan pencegahan penyebaran virus Corona pada Rabu (22/4) lalu. Entah presiden sedang terpojok atas pertanyaan-pertanyaan Najwa yang dikenal tajam atau memang secara kondisi psikologi seorang Jokowi sedang tertekan atas beban pemerintah yang amat berat, istilah mudik dan pulang kampung yang disampaikan kemudian menjadi bahan lelucon masyarakat. Tragisnya pada beberapa grub perteman FB, tema tersebut populer dan menjadi bahan caci-maki dan ejekan yang tidak mendidik. Sontak, para penggemar dan pendukung Jokowi merespon beragam tudingan itu dengan menyerang balik pada si pemosting.

Tidak cukup disitu, serangan balik itu kemudian dilayani dengan serangan balasan dari penulis status dengan dukungan orang-orang lainnya. Sampai sini, tanpa disadari telah terbentuk dua kubu; antara pembela presiden serta kubu anti-Jokowi yang ternyata gabungan dari kelompok salah satu calon yang kalah dalam pertarungan Pilpres 2019. Deretan nama tokoh politik nasional seperti Prabowo Subianto, Anis Baswedan, tokoh partai politik dan anggota kabinet tak luput ‘terseret’ dalam peperangan itu.

Sikap saling ejek yang diembel-embeli kata “Cebong” dan “Kadrun” serasa menjadi menu tambahan yang khas dan tidak bisa ditinggalkan. Sikap saling balaspun menjadi makin sengit dan seru untuk disimak. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pertarungan antarkelompok pendukung Jokowi dan Prabowo (eks Pilpres 2019) belum usai. Dendam kebencian pasca pemilu rupanya masih terbawa hingga saat ini, meski Prabowo telah masuk dalam Kabinet Indonesia Maju.

Di tengah pandemi wabah Corona saat ini, masyarakat seharusnya sadar bahwa ancaman virus itulah yang patut dilawan secara sinergi. Masyarakat harus kompak, tidak mengambil sikap sendiri-sendiri dan egois. Bukan sebaliknya, massa justru mencari-cari kesalahan pemerintah kemudian menggorengnya sebagai bahan kelemahan negara atas rakyatnya. Menghadapi pandemi Covid-19 bukanlah perkara mudah, melainkan penuh kehati-hatian dan kerja ekstra. Jangankan Indonesia negara berkembang, Amerika Serikat dan Eropa yang notabene negara maju pun dibuat kacau oleh Corona.

Pergulatan definisi “mudik” dan “pulang kampung” sejatinya tidak esensial untuk diperdebatkan saat ini. Yang jelas, keduanya memiliki arti “bali ndeso”. Toh, sesungguhnya critical point yang dilayangkan Najwa kepada presiden pada saat itu adalah bagaimana penanganan pergerakan virus jika melampaui batas wilayah, hingga ke desa. Mereka bukan berdebat soal pemaknaan atau penafsiran mudik dan pulang kampung layaknya Kuis Cerdas Cermat !

Kini, larangan mudik telah diputuskan. Fiks, masyarakat yang berada di perkotaan tidak diperbolehkan “bali ndeso”. Sarana transportasi juga dilarang beroperasi guna menghambat laju mudik menjelang Ramadhan dan lebaran Idul Fitri 2020. Tentu, tidak sedikit masyarakat yang protes atas kebijakan ini. Apalagi pemeriksaan dan razia kendaraan yang melaju ke daerah terus diadakan. Namun bagaimanapun juga hanya cara ini yang bisa diambil, kecuali masyarakat dibebaskan untuk mudik dan pulang kampung dengan menyisakan jutaan kematian di pedesaan. Mau ?

Didik T. Atmaja, Pemerhati Netizen, tinggal di Semarang.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Mengenal Bossman Mardigu, Pencipta Uang Digital Pertama di Indonesia

Previous article

Yes, Usia di Bawah 45 Tahun Boleh Beraktivitas Seperti Biasa!

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Essai