Sosial & Budaya

Menyesatkan Cinta (Bagian 5)

ENERGIBANGSA.ID – Aku berjalan melewati rentetan stand catering, kuperhatikan satu persatu sembari menanyakan kesiapan mereka menyambut para tamu undangan.

Ifada dan Alisah juga turut membantu menyajikan makanan di piring-piring kecil. Mereka menyajikannya dengan rapi, menata sedemikian rupa hingga tampak seperti lomba kreatifitas tata boga. Ya, bisa dimengerti karena keduanya memang hobi dalam tata boga.

Langkahku terhenti di dekat pelaminan. Nampak olehku kedua orangtua Sentia dengan bahagia menyapa para saudaranya dengan ramah.

Aku : “Mengapa Hasyim terus berada di dekat ibunya Sentia?” pikirku curiga. Ia pun menatapku dan melambaikan tangannya.
Hasyim : “Sini Ton.” ajaknya. Aku menyahut lambaiannya dengan anggukan serasa berjalan pelan ke arah mereka. “Bu, ini lho yang namanya Toni.” ungkapnya memperkenalkan.
Bu Tinah : “Oh ini to yang sering kalian bicarakan. Saya Sutinah, ibunya Sentia” kata Bu Tinah dengan senyumnya yang ramah.

Aku hanya senyum sambil membetulkan jasku yang sebenarnya tak bermasalah. Jujur saja pikiranku menjadi semakin bingung, mengapa saya sering dibicarakan oleh mereka. Sesaat kemudian, Bu Tinah kembali melanjutkan ucapannya.

Bu Tinah : “namamu bener Ahmad Kholid Fatoni kan?” Tanya sambil tersenyum. Senyumnya demikian simpul dan membuatku semakin bingung. Aku hanya menganggukkan kepala untuk mengiyakan.

“Kok hanya senyum dan angguk-angguk saja to.. Hasyim itu sering cerita kalau kamu itu jago pidato, jago orasi. Mbok ya bilang apa gitu?” kata Bu Tinah.

“Lha.. Ini kan acara perkawinan, masak sih saya harus berorasi di sini?” Jawabku sekenanya untuk mengajak bercanda.

Mereka lantas menutup mulutnya sambil tertawa lepas. Candaanku memang langsung berhasil, setidaknya aku masih bisa berpikir ada diantara mereka. Tawa ini juga akan menutupi kekalutanku melihat kedekatan ibunya Sentia dengan Hasyim.

“Sepertinya aku harus berperan dalam pesta Sentia dengan Hasyim. Aku harus bersiap mengikhlaskan Sentia bahagia bersamamu Syim.” Gumamku dalam hati.

“Kalian jadi wisuda bulan depan kan?.” kata Bu Tinah memastikan, “Nah, kalau Sentia baru bisa wisuda yang selanjutnya. Katanya sih, sesuai kuota ujian.” Bu Tinah menjelaskan.

“Ohiya, kalian sudah punya rencana …” Bu Tinah tak melanjutkan katanya. Ia hanya memberikan isyarat mata dan senyum.

Aku : “Iya bu, kami wisuda bulan depan. Setelah itu mungkin balik ke desa. Bantu bapak di sawah dulu sambil membuat rencana lanjutan” Jawabku merendah, pura-pura tak memahami maksudnya.

Bu Tinah : “Tidak ada niatan ngajak Sentia ke desa?” Godanya, “Ayo ikut aku.” Katanya sambil menggandeng tanganku.

Aku masih bingung, sementara Hasyim yang berjalan di sampingku hanya tersenyum. Kami masuk di sebuah ruangan sebelah ruang rias, kamar yang sederhana berhias coretan pada lembaran-lembaran kertas yang ditempel pada dinding kamar.

Aku tak menyangka kalau Hasyim mengabadikan momen kebersamaanku dengan Sentia melalui coretannya, momen-momen perhatian yang terselip, curi-curi pandang. Ah, ia tak hanya mendesain kamar Sentia menjadi ruang pamerannya, bahkan ia melengkapi pameran lukisannya beberapa bulan lalu, karya tentang pencarian. Ia menyelesaikannya di sini,”

Bu Tinah : “Rina dan Hasyim yang mempersiapkan ini. Ruang ini adalah acara kalian. Acara kakaknya Sentia biar di luar,” kata Bu Tinah dengan tenang.

Sentia memasuki kamar bersama ayahnya yang berjalan di sisi kanan. Ia menunduk malu dengan hiasan yang mirip seorang pengantin. Bu Tinah segera merapatkan dirinya di sisi kiri Sentia.

Pak Jono : “Nak, saya ayah Sentia, Sujono. Saya dan ibunya Sentia telah mendapatkan seorang anak perempuan dari kakak Sentia, maka kami juga harus bersiap melepas putri kesayangan kami pula, katanya ringkas.

Entah mengapa tiba-tiba suaraku lirih, langkahku tertatih menahan hatiku yang perih. Hmm… Apakah kalian tahu perbedaan antara cinta dan suka? banyak yang berfikir suka dan cinta itu sama, padahal esensinya jelas berbeda.

Kalau suka, kamulah yang menentukan, kamu yang memilih. Tapi cinta? cintalah yang memilihmu, ia lah yang menentukan perasaanmu kepada siapa, meski terkadang kenyatanya ia bukan milik kita.

~ Selesai

———————————————————————

*Ahmad Rifki Hidayat, Penulis, pengurus LTNU Kota Semarang, alumnus Futuhiyyah Mranggen

Related Articles

Back to top button