Sosial & Budaya

Menyesatkan Cinta (Bagian 2)

EBERGIBANGSA.ID [Cerbung]- Aku melihat Sentia berdiri sibuk mengemasi berkas di atas meja. Ditaruhnya ke dalam map arsip yang ada di almari samping meja. Raut mukanya tampak merona dengan kulitnya yang agak sedikit gelap.

Meski tak berkeringat, namun sesekali ia menyeka keningnya, seperti memikul beban dalam benaknya.

Entah berapa lama aku hanya diam memandangnya sambil duduk di dekat jendela ruang Senat yang tak seberapa luas ini. Sentia memang hitam manis, energik dengan tubuh mungilnya, berpenampilan menarik, dan selalu tampil percaya diri. Satu hal yang membuatku kagum, meski terbiasa tampil di muka umum, ia tetaplah seorang yang pemalu.

Gadis semacam inilah yang jarang kutemui.
Demi melihatnya terus membuatku bimbang.

“Jujur saja, sebenarnya Rina atau kamu yang kuinginkan,” gumamku dalam hati.

Aku jadi teringat Mbah Zuhdi, kiai kampungku yang selalu mengajarkan agama dengan cinta. Berbeda dengan yang kudapati di sini, kampusku, para senior dan mentor yang mengisi kajian keislaman selalu berbicara tentang syariat dan hukum, halal dan haram, surga dan neraka.

Aku ingat Mbah Zuhdi saat mengisi ceramah dalam maulid remaja masjid. Beliau berkata; “Na’am sarô thoifu man ahwâ fa arroqonî. Wal hubbu ya’taridlul ladzdzâti bil alami. Memang benar, perjalanan malam serasa panjang oleh bayangan kekasih yang selalu mengusik keheningan malam, sehingga ingin tidur pun susah. Demikianlah cinta, apabila telah tertanam di dalam hati, ia akan menukar segala kenikmatan dengan penderitaan,” itulah nasihat beliau pada para remaja masjid yang dinukil dari bait atau nadzam Burdah.

Aku pun merasakan rindu akan petuah-petuahnya. “Mbah, aku bingung, cinta ini menyesatkanku, aku tersesat dalam cinta tapi aku tak yakin bahwa cinta itu menyesatkan. Bukankah kau selalu mengajarkan agama dengan cinta? Bagaimana mungkin cinta itu menyesatkan? Ataukah ada yang menyesatkanku dari jalan cinta?” Keluhku dalam hati.

Sayang sekali Mbah Zuhdi tidak mau menggunakan ponsel. Dulu pernah ada yang memberi sebuah ponsel jenis androit keluaran terbaru, tapi beliau enggan menerima dengan alasan takut mengganggu ibadahnya.

“Ketungkul karo Hp, lha terus kapan ngibadahe?” (sibuk dengan Hp, lha terus kapan beribadahnya?), kata Mbah Zuhdi dengan logat Jawanya yang khas. Kalau saja Mbah Zuhdi mau menerima ponsel itu, tentu saat ini aku sudah curhat banyak padanya.

Lamunanku buyar seketika saat mendengar suara Sentia.
Sentia : “Uff… Beres semua. Lho, Mbak Rina mana?,”
Aku : “Eh iya… enggg, langsung cabut tadi selesai rapat,” jawabku sekenanya.
Sentia : “Oh… gitu,”
Sentia : “Eh, sudah lihat hasil UTS? Kayaknya kelasmu sudah ada beberapa Makul yang keluar,” kata Sentia sambil memandangku.
Aku : “Aku malah belum sempat buka Web kampus tuh. Hahaha…”
Sentia : “Makanya…”
Aku : “Makanya apa?”
Sentia : “Hehe… tidak apa-apa.” Ia hanya tersenyum simpul, tak melanjutkan apa yang akan dia sarankan.
Aku : “Eh, idemu tadi memang menarik. Pas, buat kita-kita yang harus segera lengser nih. Suryan yang sedari tadi berdiri di depan pintu langsung menyahut dengan semangat.
Suryan : “Klop pokoknya. Acara ini jadi puncak sebelum kita reorganisasi,”
Aku : Klop apanya. Traktir dulu, baru klop.
Kami pun tertawa memecah kekakuan suasana.
Suryan : “Bolehlah habis ini kita ke Urban. Suryan Prawiro siap mentraktir kalian,” sambil mengerdipkan mata kanannya, kami hanya tersenyum lalu menunduk.
Sentia : “Haduh… maaf, saya tidak bisa ikut kali ini,” ekpresi wajahnya tampak gusar menyembunyikan sesuatu.
Suryan : “Ah, yang bener saja.. Masak gak bisa ???” Sahut Suryan agak kecewa.
Sentia : “He’em, beneran. Saya harus segera pulang. Ada urusan mendadak. Kalian sama Ifada saja ya…”

Ifada hanya senyum saja mendengar ucapan Sentia. Ifada Luthfa Faza namanya, kawan sekelas Sentia.

Mereka memiliki hoby yang sama, yakni pecinta lingkungan karena itu mereka klop dan sering bersama.

Ada juga Alisah Ainun Naja, aktivis lingkungan yang banyak memberikan penyuluhan kesehatan di desa nelayan.

Bersambung



Related Articles

Back to top button