Sosial & Budaya

Menyesatkan Cinta (Bagian 1)

ENERGIBANGSA.ID, SASTRA – “Kau memang istimewa, selalu membuatku terpesona,” gumamku dalam hati. Aku tenggelam dalam pandanganku, memujimu yang sedikit bicara.

“Kaulah sosok idaman setiap laki-laki,” meski memiliki tinggi dan postur yang ideal, namun caramu berbusana tak terikat mode, tampak anggun dengan jilbab yang tak begitu lebar dan wajahmu yang bulat, cerah menyembul bak purnama.

“Kau tahu?” Satu hal yang membuatku gemes itu hidungmu yang mungil.
Bukan kali ini saja kami duduk di cafe ini berhadapan. Namun aku merasa, kesempatan seperti ini sangat jarang kurasakan. “Aneh memang,” ujarku dalam hati.

Cafe ini selalu menjadi rujukan tongkrong, letaknya strategis, tak jauh dari gerbang kampus, rangkaian meja-kursi ditata sedemikian rapi dan teduh oleh beberapa pohon, terlebih lagi di sisi kiri dan kanannya sebuah toko dengan bangunan bertingkat sehingga terhindar dari sengatan matahari.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, nama Sentia 15 muncul di layar yang menunjukkan panggilan video.

Sentia : “Assalamu’alaikum bos,” sapanya
Aku : “Wa’alaikumsalam dik,” jawabku sambil melihatnya dari layar ponsel.
Sentia : “Masih ingat sore ini ada rapat Senat?”
Aku : “Jelaslah… siap,” jawabku
Sentia : “Ah, yang bener… sekarang ini lagi Cafe Urban kan… Hayo… pasti sama Mbak Rina nih…” tebaknya.
Aku : “Iya.. noh” jawabku sambil mengarahkan ponsel ke arah Rina.
Sentia : “Hallo mbak… Kak Toni tolong dikirim, dianterin, dikawal sampai ruang Senat ya… ini udah jam 2. Bentar lagi pada dateng,”
Rina : “Beres,” jawabnya sambil mengacungkan jempol.
Sentia : “Thanks’. Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” jawab kami.

Sentia Amalia Sulha, di seluler aku tulis Sentia 15 karena ia angkatan ke 15. Ia kuliah di jurusan Ekonomi Islam, satu fakultas tapi beda jurusan denganku.

Aku mengenalnya sejak semester 1, tepat satu tingkat di bawahku karena saat itu aku baru satu tahun menjadi mahasiswa, dan saat ini kami sudah mengajukan judul skripsi.

Harus kuakui, Sentia memang sangat perhatian dan telaten. Berbeda dengan Rina, Safarina Ulya. Rina yang satu kelas denganku tak begitu sering berdiskusi atau bahkan mengerjakan tugas bersamaku.

Justru Sentialah yang mendorongku untuk terus maju, hampir semua agendaku, dia yang selalu mengingatkan, bahkan sebagian tugas mata kuliah juga dia ingatkan. Boleh dikata Sentia merupakan tokoh dibalik karirku sebagai aktifis mahasiswa saat ini.

Setelah menyelesaikan pembayaran, kami langsung melangkah ke tempat parkir dan bergegas menuju ruang Senat

Bersambung….

*Arif Rifki Hidayat, Pengurus LTN NU Kota Semarang.


Related Articles

Back to top button