fbpx
Ekonomi & Bisnis

Cegah Permainan Tengkulak, Menteri Trenggono Dorong Petani Garam Kebumen Manfaatkan Media Digital

KEBUMEN, energibangsa.id–Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan para petani garam Kebumen didorong untuk memanfaatkan dunia digital dalam memasarkan produknya, yakni berjualan lewat e-market alias daring.

Selain memperluas pasar, penjualan secara daring juga menghindarkan para petani garam dari tengkulak.

“Penjualan lewat online itu sangat bagus, kita dorong agar tidak ada tengkulak. Dengan begitu, penghasilan petambak garam juga ikut meningkat,” tegas Trenggono, saat kunjungan di Kampung Garam Desa Tlogopranoto, Kecamatan Mirit, Kebumen, Jumat (12/3/2021).

Siapkan infrastruktur

Menteri Trenggono juga mengapresiasi langkah petani garam di Kebumen yang mau berkembang.

Menteri pun menginstruksikan jajarannya agar siap sedia membantu kelompok petani tambak garam menyiapkan insfrastruktur yang dibutuhkan.

“Nanti bisa dibuatkan rumah kacanya. Satu blok dulu untuk model,” ujar Trenggono.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) TB Haeru Rahayu mengatakan, pihaknya segera berkonsolidasi dengan pemerintah daerah untuk membahas rencana pembangunan rumah kaca.

“Kami juga akan koordinasi dengan Pemkab Kebumen,” pungkasnya.

Telah manfaatkan medsos

Menanggapi arahan Menteri KKP, Ketua Kelompok Usaha Garam (Kugar) Cirat Segoro Renges Desa Tlogopranoto, Budi Santoso, mengakui, pihaknya sudah  memanfaatkan media sosial sebagai sarana penjualan.

Namun upaya tersebut belum dilakukan secara serius sehingga hasilnya belum maksimal.

“Kami sudah jual lewat online tapi masih belum banyak. Kebanyakan yang beli datang langsung. Tapi untuk kedepannya memang harus online, sehingga kami mengharapkan pendampingan agar pengemasan dan promosi yang dilakukan secara online lebih besar hasilnya,” ucap Budi.

Selain garam konsumsi, imbuh Budi, Kugar Cirat Segoro Renges juga menghasilkan garam kosmetik dengan harga jualnya Rp30 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram.  Pasarnya ada di Yogyakarta hingga Lampung.

Bahkan, Kugar Cirat Segoro Renges sedang mengembangkan produksi garam piramid yang memiliki harga jual lebih tinggi, yakni mencapai Rp250 ribu per kilogram.

Untuk itu, pihaknya memangembutuhkan infrastruktur rumah kaca, yang mana rumah kaca sebagai tempat produksi.

Sebagai informasi, teknologi rumah kaca adalah sebuah inovasi pembuatan garam di dalam ruangan berbentuk prisma yang terbuat dari kaca.

Metodenya dengan memanfaatkan suhu panas dan kelembaban udara yang diatur dengan alat pemanas khusus.

Dengan memanfaatkan teknologi rumah kaca, para petani garam tidak lagi harus bergantung pada panas matahari.

Hasilnya, kualitas dan kuantitas produksi garam dapat diatur dan ditingkatkan. (dd)

Related Articles

Back to top button