fbpx
Essai

Mental Miskin Vs Mental Kaya: Catatan dari Ratusan Petani yang Mendadak Jadi Milyarder

Semoga sejumlah 225 warga yang menerima uang penggantian tanah dapat merubah mental, menjadi “mental kaya”

Oleh: Suhu Wan, Ketum AMRI & Owner Idolmart

ENERGIBANGSA.ID—Saat ini lagi viral berita tentang ratusan petani di sebuah desa di Jawa Timur yang mendadak menjadi milyader.

Tercatat ada 225 warga yang murni berprofesi sebagai petani, mendadak menjadi kaya setelah mendapat penggantian lahan untuk proyek kilang minyak Grass Roof Refinery (GRR) Tuban.

Yang menyebabkan berita menjadi heboh adalah karena mereka beramai-ramai membeli mobil dalam satu waktu.

Kabarnya, ada 176 mobil yang dibeli oleh warga, bahkan per rumah bisa memiliki 2 sampai 3 mobil. Selain beli mobil dana didapatkan juga ada yang untuk membeli tanah, merenovasi rumah, serta lainnya.

Belajar dari warga Cikarang

Saya cukup lama tinggal di Cikarang, Bekasi, dan memulai merintis bisnis pertama tahun 2000 sampai 2006.

Di Cikarang ini sangat banyak berdiri kawasan industri seperti Lippo Cikarang, Jababeka, Hyundai, serta ribuan perusahaan lainnya.

Saat kawasan industri berdiri, penduduk asli yang mayoritas petani juga mendapat uang atas penjualan tanahnya.

Pristiwa di Cikarang ini menurut saya banyak kemiripan dengan yang terjadi di Tuban. Bedanya jumlah warga yang terlibat tentunya lebih banyak karena areanya lebih luas dan beritanya tidak viral. Apalagi pada saat itu media sosial (medsos) tidak seperti sekarang.

Saat menerima uang dari hasil penjualan tanah, warga yang mayoritas petani mendadak memiliki banyak uang. Mereka membeli motor, mobil, rumah, dan lain-lain.

Kemudian apa yang terjadi? Sebagian besar dari mereka yang sebelumnya ‘miskin’, tiba-tiba gaya hidupnya berubah drastis menjadi konsumtif, apalagi punya kenderaan sehingga bisa berpergian kemana saja.

Akhirnya mobilnya dijual untuk kebutuhan hidupnya, kemudian mereka kembali ke habitat semula… Kembali miskin! Bedanya, dulu mereka miskin tetapi masih punya tanah, tapi sekarang, mereka miskin dan tidak punya tanah.

Memang ada juga segelintir warga asli yang menjadi kaya atau bertambah kaya setelah mendapat uang dari penjualan tanahnya.

Lantas, apa penyebabnya? Apa yang membedakan segelintir warga ini dengan mayoritas yang kembali menjadi miskin?

Pemahaman “mental kaya” dan “mental miskin”

Perbedaanya terletak pada “mental kaya” dan “mental miskin”. Segelintir warga yang bertambah kaya itu memiliki “mental kaya”. Mayoritas warga yang akhirnya kembali miskin memiliki “mental miskin”.

Saat mendadak menerima uang misalkan Rp1 milyar (dari penjualan tanah atau yang lain), apa yang akan dilakukan oleh si-“mental miskin”?

Beli mobil seharga Rp200 juta, renovasi rumah sebesar Rp100 juta, beli perabotan Rp50 juta, beli gadget untuk sekeluarga, jalan-jalan, hingga kegiatan ‘wah’ lainnya.

Walaupun separoh pada awalnya masih disimpan, namun karena gaya hidup berubah, konsumtif, akhirnya uang yang disimpan mulai diambil.

Lama-lama, uangnya habis. Setelah uang habis maka mulailah perabotan dijual, termasuk akhirnya mobil juga dijual. Dia kembali miskin, bahkan terkadang lebih miskin dari sebelum menerima uang.

Hal itu berbeda dengan yang dilakukan oleh si-“mental kaya”. Saat menerima uang Rp1 milyar, dia tidak buru-buru menggunakan uangnya. Ia berpikir jernih.

Bagaimana uang Rp1 milyar ini jumlahnya tidak berkurang, tetapi justru makin bertambah dari waktu ke waktu. Sementara, dirinya mendapatkan uang masuk (cash in-flow).

Dia melakukan investasi dengan uang tersebut, misalkan dia beli tanah dan buat rumah kontrakan. Setiap bulan dia akan menerima hasil dari sewa rumah kontrakan tersebut dan nilai kontrakan tersebut akan selalu naik dari waktu ke waktu.

Selain rumah kontrakan, dia juga bisa berinvestasi seperti yang lainnya. Misalkan membuka toko, bisnis kuliner, serta usaha lain yang berdampak pada pundi-pundi rupiah.

Kaya mental sebelum kaya fisik!

Sebelum kaya secara fisik, orang harus kaya terlebih dahulu secara mental. Makanya walaupun saat ini si-“mental miskin” sedang menerima banyak uang, namun dengan segera uang itu akan meninggalkannya.

Sebaliknya walaupun saat ini sedang miskin, si-“mental kaya” akan segera berkecukupan dan menjadi kaya.

Semoga saja sejumlah 225 warga yang menerima uang penggantian tanahnya segera terlebih dahulu merubah mental menjadi “mental kaya”.

Syukur-syukur sebelum menerima uang pun mereka sudah ber-“mental kaya”. Karena, konon ada yang menerima uang sebesar Rp26 milyar, tentulah bukan jumlah yang sedikit. Mari kita doakan bersama-sama. (*)

Related Articles

Back to top button