Ekonomi & BisnisEssai

Menjadi PNS Bukanlah Cita-Cita

ENERGIBANGSA.ID – “Anak-anak belajarlah dengan rajin, biar sukses seperti kakak kelasmu, jadi PNS,” begitulah kata guru-guru dari jaman batu hingga jaman naruto punya cucu.

“Sekolah nak, kalau gede biar jadi PNS,” begitulah kata tetangga.

“Aku maunya nikah sama PNS, yang mapan,” begitulah kata mantan pacar temen saya.

“Itu kakak kelasmu sekarang, kuliah biasa-biasa aja sekarang sukses dia sukses jadi PNS dia,” begitu kata dosen saya yang rasanya ingin saya tampar hehehehe.

Sebenarnya apakah hanya PNS yang sukses? Apakah hanya PNS yang dianggap bekerja? Apakah hanya PNS yang dianggap pekerjaan? Apakah PNS saja yang menjadi favorit di Indonesia? Kok bisa seperti itu?

Untuk menjawabnya, saya akan sedikit sambat tentang hal tersebut. Hal pertama adalah tentang mengapa PNS masih menjadi idaman di era dimana Boruto dan Sarada sudah dilahirkan hingga Boku No Hero aja udah mau rilis season ke-4-nya.

Sebenarnya mengapa seperti itu? Berikut adalah fakta-fakta yang mendukung PNS masih menjadi pekerjaan idaman di negeri +62

  1. Dapat pensiunan
  2. Gaji tetap (plus tunjangan)
  3. There’s no PHK
  4. Bergengsi cuy!
  5. Pegawai ning santuy
  6. Mudah Hutang di Bank

Maka tak heran di jaman yang milenial ini guru, orangtua, mantan, pacar hingga tetangga masih mengedepankan PNS sebagai pekerjaan yang dianggap sukses. Istilahnya adalah “pekerjaan yang terjamin”.

Hmmmm mengapa terjadi mindset demikian? Jika berbicara masalah mindset seperti ini, hal ini berkaitan dengan proses membangun manusia, yaitu karena pendidikan di Indonesia masih ‘membranding’ PNS sebagai pekerjaan yang keren! sukses! Padahal masih banyak profesi lain yang bisa dilakukan lho…

Kok bisa sih pendidikan menjadikan mindset ‘PNS adalah jalan hidupku?’. Akan saya bahas dalam 3 jalur pendidikan yah sebabnya.

Faktor pendidikan Formal yang Kacau
Dalam pendidikan formal alias dunia sekolah, kurikulum kita, guru kita bahkan lingkungan sekolah belum mampu menyalurkan kreativitas, masih bersifat konsep tentang kreatif dan inovatif sehingga output dari pendidikan formal hanyalah orang-orang yang mudah disetir bahkan menjadi penjilat.

Kok bisa seperti itu? Lihat saja dalam kasus kompetensi semu yang ada di sekolah, enggak ngajarin cerdas malah ngajarin saling menjatuhkan antar teman. Meskipun ada materi kewirausahaan atau dasar-dasar kreativitas masih belum mampu mengembangkan daya kreativitas karena sekedar menggugurkan kurikulum saja.

Faktor Pendidikan Informal yang Gengsian
“Oh.. anakmu sarjana, tapi enggak lolo PNS ya?”
Hal semacam itu bisa menjadikan gengsi dalam keluarga yang anaknya enggak PNS, padahal dunia pendidikan informal alias keluarga ini juga penting untuk melakukan asesmen kebutuhan belajar dan menyalurkan bakat sesuai potensi, enggak harus PNS mulu yang diwajibkan untuk diraih!

Pendidikan nonformal yang kurang edukasi, Pendidikan nonformal alias apa yang terjadi dalam masyarakat yang kurang teredukasi masih menganggap PNS menjadi pilihan yang keren dalam bekerja. Mengapa? Karena kurangnya edukasi dan pemberian keterampilan untuk mengembangkan kreativitas.

Terus solusinya apa? apakah harus mengubah sistem? Enggak juga kok. Kita bisa mengubah dari hal-hal terkecil seperti

  1. Memotivasi anak agar berkarya sesuai bidangnya (pendidikan informal)
  2. Pengembangan dunia kursus dan pelatihan keterampilan (pendidikan nonformal)
  3. Asesmen kebutuhan belajar (pendidikan formal)
  4. Hingga kerja sama 3 jalur pendidikan yang saling support satu sama lain.

Mau jadi PNS? Bagus, asal amanah dan tanpa suap. Soalnya uang PNS didapat dari pajak dan pajak dari rakyat, kalau enggak amanah sama aja elu makan gaji buta, dosa! Tapi kalau nggak jadi PNS? bersyukurlah, masih ada banyak profesi lain yang lebih bagus.

*Ary Senpai, penulis buku ‘Maaf, Aku Bukan PNS’

Related Articles

Back to top button