Film dan Hiburan

Menilik Sejarah Reggae di Semarang; Pembaruan Budaya dalam Musik

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Reggae menjadi salah satu genre musik yang turut meramaikan dunia permusikan di Indonesia. Istilah reggae sendiri lebih merujuk untuk gaya musik khusus yang di awal kemunculannya mengikuti perkembangan ska dan rocksteady. 

Selain berlandaskan pada gaya ritmis yang memiliki ciri khas pada off-beat (sinkopasi), secara umum reggae terkenal memiliki tempo musik yang lebih lambat dibandingkan dengan ska ataupun rocksteady.

Awal terbentuk musik reggae

Kata reggae sendiri diperkirakan berasal dari pengucapan logat Afrika “ragged” yang memiliki arti gerak kagok seperti menghentakkan badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae. Pada mulanya, Reggae merupakan jenis musik yang berkembang di Jamaika di sekitar akhir era 60-an. Musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B dan music rakyat Jamaika yang kerap disebut Mento.

Maestro musik reggae Bob Marley

Dari negara inilah, sang maestro musik reggae, Bob Marley terlahir. Bob Marley sendiri dikenal sebagai seorang pencipta, penyanyi, dan seorang musisi reggae. 

Jika dunia mengenal sosok Bob Marley sebagai publik figur yang berkaitan erat dengan musik reggae, maka di Indonesia sendiri juga memiliki sosok tersebut. Ia adalah Tony Q Rastafara.

Musisi reggae nasional Tony Q

Tony Q Rastafara merupakan seorang ikon musisi reggae yang sudah mulai berkiprah di dunia musik Indonesia sejak tahun 1989. Pria berkelahiran di Semarang, 27 April 1961 tersebut mulai mempopulerkan musik reggae di Indonesia melalui lagu “rambut gimbal” pada tahun 1996.

Rupanya kegigihannya untuk menyebarluaskan musik reggae di kalangan masyarakat patut diacungi jempol. Pasalnya ia juga turut serta mengembangkan karakter musik reggae dengan memasukkan banyak unsur ciri khas tradisional Indonesia ke dalam musiknya.

Band reggae asal Semarang

Dan jejak karir Tony Q juga diikuti oleh salah satu keponakannya, Lukman Syah. Bersama dengan grup musiknya yang bernama “Lookman And Jawaica” yang beranggotakan Lukmansyah (vokalis), Sahili (drum), Dicky (guitar), Ryan (keyboard), Pintjuk (perkusi), Tim keroncong Agung (cuk), Heri (cak), Noto (cello), Ganang (Biola) Brindil (jimbe) dan Agus (bass). 

Lukman mengatakan jika untuk eksistensi musik reggae di Kota Semarang hingga saat ini mulai dapat memperlihatkan kualitas musik reggae kepada warga Kota Semarang maupun kepada para tamu pengunjung.

Perkembangan musik reggae

Perkembangan musik reggae sendiri, masyarakat senantiasa memiliki ruang tersendiri untuk menikmati musik yang ia dan teman-temannya bawakan. Tak melihat dari segi usia, entah itu dari kalangan muda maupun tua, musik reggae sukses menempati tempatnya di kalangan masyarakat khususnya penggemar.

“Hampir selama dua dekade saya telah berkecimpung di dalam karir musik dengan membawakan genre reggae bersama “Lookman And Jawaica. Animo yang diberikan masyarakat selalu ada untuk terus menikmati music yang kami bawakan. Generasi mungkin boleh berlalu namun selera musik tetap abadi, nyatanya saya dan band mampu terus bertahan dan terus dinantikan oleh penggemar maupun pecinta music reggae,” ujarnya.

Terus mengenalkan musik reggae kepada masyarakat

Setelah mengikuti jejak pamannya, Tony Q Rastafara yang berhasil membawakan lagunya hingga ke ranah mancanegara, Lukman mengatakan jika ia juga ingin melakukan hal tersebut, khususnya untuk memperkenalkan musik reggae kepada khalayak masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas.

Ia memiliki harapan jika di masa depan, Kota Semarang dapat menjadi barometer untuk perkembangan musik, mampu melahirkan lebih banyak musisi yang dapat memperkenalkan berbagai genre musik khususnya reggae sehingga mampu memperkenalkan Kota Semarang di kancah nasional maupun internasional.

[Tata/EB].

Related Articles

Back to top button