Essai

Menikmati Bhinneka Tunggal Ika

oleh : Setyo Hajar Dewantoro

Kita, hidup di tanah yang sama, mereguk air yang sama, menghirup udara yang sama. Kita punya sumber kehidupan yang sama. Kita bisa saja menjuluki Sang Sumber Hidup ini dengan nama berbeda, tapi realitasNya tetaplah sama.

Dia adalah yang meliputi segalanya dan menjadi esensi segala yang ada. Realitas ini terus menerus mengalirkan daya hidup kepada semua manusia, dengan kasih yang murni, tanpa diskriminasi.

Maka, mereka yang menyadari kemenyatuan dengan Sang Sumber, tertuntun dan digerakkan oleh Sang Maha Hidup yang bersemayam di dalam diri, pastilah punya kesadaran humanisme universal. Dia, mengasihi semua manusia tanpa diskriminasi atas dasar apapun: perbedaan suku, bangsa maupun agama.

Inilah kesadaran luhur yang diwariskan nenek moyang kita. Atas dasar ini Nusantara di masa lalu menjadi tanah surgawi. Semua diterima dengan sukacita di tanah ini. Keguyuban, kegotongroyongan, dijalankan oleh warga Nusantara yang berbeda suku dan agama.

Maka, warga dari etnis Jawa, Bali, Sunda, India dan Tionghoa, dan lainnya, di masa lalu, bisa berkolaborasi harmoni menghasilkan negara yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Mereka yang berbeda-beda disatukan oleh api kebenaran esensial yang sama.

Semangat inilah yang dirumuskan dalam ujaran: Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangnya. Sewajarnya ini kita hidupkan kembali di dalam sanubari kita. Sudah beberapa tahun ini, saya digerakkan untuk menyebarkan kesadaran spiritual yang berpadu dengan bangkitnya nasionalisme, rasa cinta dan bakti pada tanah air Indonesia.

Maka, terbentuklah secara natural komunitas dengan latar berbagai suku dan agama. Yang berkumpul dalam komunitas yang sangat cair ini, dihubungkan dan disatukan oleh rasa persaudaraan murni yang muncul dari laku keheningan.

Maka, secara kulit dan etnis kita bisa berbeda, ada yang putih, coklat, kuning, hitam, Jawa, Bali, Sunda, Tionghoa, India, Arab dan lainnya – kita membaur tanpa sekat apapun. Tumbuh kesadaran yang kukuh: kita Indonesia, kita Pancasila.

Ibu Pertiwi memanggil anak-anaknya untuk kembali mencintai tanah dan air ini, untuk menjadi Patriot Indonesia. Dasar patriotisme ini adalah tumbuhnya kesadaran spiritual dan kasih murni di dalam diri Saatnya kita pastikan Indonesia menjadi tanah surgawi, menjadi rumah pengayoman bagi semua warganya, tanpa kecuali, tanpa diskriminasi.

Merdeka!

* Setyo Hajar Dewantoro, Penulis, Guru Meditasi, dan Founder Mahadaya Institute

Related Articles

Back to top button