Religius

Setelah Mengetahui Solat Kita Salah Semua, Apakah Wajib Mengulanginya?

ENERGIBANGSA.ID – Sobat energi, sebagaimana kita ketahui bahwa solat fardlu adalah ibadah wajib yang tidak bisa ditawar. Jika kita lupa, atau menunda-nunda solat hingga akhirnya terlambat, maka kita wajib menggantinya atau disebut qodlo’.

Lalu bagaimana jika solat yang kita lakukan selama ini ternyata salah. Kali ini dikutip dari situs resmi PISS-KTB (Pusat Ilmu Sunni Salafiyyah-Kenapa Takut Bid’ah?) ada sebuah pertanyaan fiqih menarik.

“Saya hanya belajar agama dari sekolah umum. Kini setelah umur 50 tahun baru belajar sholat dari Piss-KTB. Ternyata sholat saya selama ini salah semua. Batal semua. Apakah saya wajib mengulangi semua sholat?” – Najih Ibn Abdil Hameed

Jawaban:

Meski sudah tua sekalipun, tetap wajib mengulangi sholatnya, bukan mengulangi sholat selama 50 tahun, atau mengulang solat mulai lahir. Qodlo’ – ganti solat dihitung mulai umur baligh sampai umur 50 tahun.

Ibadah yang rusak itu tidak bisa menjadikan seseorang terbebas dari ‎tanggungjawabnya selaku seorang hamba yang terbebani kewajiban.

Oleh karenanya, adalah hal wajar ‎bila seseorang dinilai masih memiliki tanggungan kewajiban dari ibadahnya yang rusak tersebut hingga ‎ia pun berkeharusan untuk mengulanginya kembali, sebagaimana rekomendasi Rasulullah terhadap ‎seorang pedalaman Arab agar mengulangi shalat yang didalamnya dia meninggalkan rukunnya.

Nabi Muhammad ‎‎SAW memberikan perintah terhadapnya dengan perkataannya: “Ulangilah ‎shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum melakukan shalat (dengan benar)”.

Maka, ‎perintah beliau tersebut merupakan indikasi yang jelas dengan keharusan mengulangi, karena hal ‎mengulangi itu tidak akan menjadi wajib kecuali dengan sebab adanya kerusakan di dalam ibadah yang ‎dilakukannya.‎ 

Barang siapa mengerjakan sholat namun ada sebagian rukun maupun syaratnya yang ia tinggalkan maka wajib baginya mengulang / meng qodo’ sholatnya tersebut.

Adapun hukum-hukum yang masih samar / khofi bagi mayoritas orang awam maka dianggap sebagai udzur jika mereka tidak mengetahuinya, walaupun bukan orang yang baru masuk islam, dan bukan orang yang jauh dari ulama.

Contoh hukum yang mayoritas orang awam tidak mengetahuinya adalah : 1) tata cara sujud yang benar, 2) Berdehem (ehm…) itu membatalkan sholat  3) Takbirnya muballigh dengan tujuan memberi tahu 4) Berdiri waktu mendapatkan 2 rokaat karena lupa tidak membaca tahiyat awal, kemudian ia kembali lagi / duduk lagi 5) Duduk ditempatnya membaca qunut karena ia lupa tidak membaca qunut, kemudian ia kembali lagi / berdiri lagi Sehingga jika yang dilanggar / ditinggalkan seperti yang tersebut di atas maka tidak wajib mengulang sholatnya, karena contoh-contoh tersebut di atas dianggap sebagai udzur.

Jika ragu, apakah perkara tersebut termasuk perkara yang samar / khofi yang ma’dzur ataukah tidak termasuk, maka perkara tersebut dihukumi sebagai perkara yang samar / khofi.

Ada sebuah kaidah :

العبرة في العبادات بما في نفس الامر(ولو ظنا الا اذا ظهر خطاءه) وبما في ظن المكلف

Point pertama harus sesuai aturan syariat (walaupun hanya dalam dugaan kuat, keculai bila ternyata dugaan itu keliru, maka berarti masuk pada bab لا عبرة في الظن البين خطاءه)Jadi selama 50 tahun mengira sudah sesuai aturan syariat lalu ternyata dia tahu bahwa itu keliru, maka tidak dima’fu.


Teknis mengqodho sholatnya, jika sadarnya saat umur 50 tahun, maka dipotong umur baligh misal umur 10 tahun, sehingga yang diqodho cukup 40 tahun saja.Untuk 40 tahun berarti 40 x 356 x 5 = 71.200 solat.

Kalau sudah 40 tahun sholat tidak sah berarti orang ini sudah usia di atas 50, anggap 55, 55 + 40 = 95 tahun, kalau tiap shalat dia bisa dobel maka bisa lunas saat dia berusia 95 tahun, atau jika kuat setiap sholat 5 waktu dia mengqodho 2 kali sholat, maka sampai umur 75 tahun sudah lunas, namun jika tidak bisa tercapai 40 tahun itu terqodho semua, maka ya qodho sebisanya, sisanya bayar fidyah mud beras oleh ahli warisnya saat dia wafat, kalo tak ada modal ya modal bergilir saja.

Kalau tak bisa diqodlo sama sekali ya anggap saja 71.200 x 0.7 kg = 49.840 KgKalo harga 1 Kg  beras Rp 10.000 berarti 49.840 x 10.000 = Rp 498.400.000  Nah beli beras 498,40 Kg seharga 4.984.000, lalu diputar 100 kali.

Namun selama ada harta yang lebih dari cukup, alangkah baiknya tak usah diputar, begitu kata ulama fiqihnya.

Fidyah bukan soal pahala tapi soal mengugurkan kewajiban, sebetulnya itu biar maksimal saja dalam rangka mengupayakan agar si mayat bernasib baik, ya berharap dapat pengurangan dosa, dapat ampunan dan lain-lain.

Itu salah satu solusi dan jalan bagi ahli warist yang ingin berbuat baik pada mayit selain mendoakan seperti lazimnya.

Wallahu a’lam.

tim penjawab : [Abu Abu, Ahmada Subhana, Mbah Kaung Kaung, Faisol Tantowi, Abu Khalid]

Referensi :


بغية المسترشدين ص ٨٣ دار الفكر الطبعة ١٩٩٤( مسألة : ك ) صلى صلاة و أخل ببعض أركانها أو شروطها ثم علم الفساد لزمه قضاؤها مطلقا إلا إن كان ما أخل به مما يعذر فيه الجاهل بجهله مما قرر فى كتب الفقه.
احياء ٤/٣٥ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺪ ﺗﺮﻙ ﺻﻼﺓ اﻭ ﺻﻼﻫﺎ ﻓﻲ ﺛﻮﺏ ﻧﺠﺲ ﺃﻭ ﺻﻼﻫﺎ ﻓﻲ ﺑﻨﻴﺔ ﻏﻴﺮ ﺻﺤﻴﺤﺔ ﻟﺠﻬﻠﺔ ﺑﺸﺮﻁ اﻟﻨﻴﺔ ﻓﻴﻘﻀﻴﻬﺎ ﻋﻦ ﺁﺧﺮﻫﺎ ﻓﺈﻥ ﺷﻚ ﻓﻲ ﻋﺪﺩ ﻣﺎ ﻓﺎﺗﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﺣﺴﺐ ﻣﻦ ﻣﺪﺓ ﺑﻠﻮﻏﻪ ﻭﺗﺮﻙ اﻟﻘﺪﺭ اﻟﺬﻱ ﻳﺴﺘﻴﻘﻦ اﻧﻪ ﺃﺩاﻩ ﻭﻳﻘﻀﻲ اﻟﺒﺎﻗﻲ ﻭﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺎﺧﺬ ﻓﻴﻪ ﺑﻐﺎﻟﺐ اﻟﻈﻦ ﻭﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﺘﺤﺮﻱ ﻭاﻻﺟﺘﻬﺎﺩ
شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم – (1 / 273)(ويعذر في يسير لكلام) عرفاً، وهو ست كلمات عرفية فأقل؛ أخذاً من حديث ذي اليدين، كما بينته في “الأصل”. (إن سبق لسانه) إليه، كالناسي بل أولى (أو نسي) أنه في الصلاة، كأن سلم معتقداً كمال صلاته، فتكلم يسيراً عمداً، أو ظن بطلان صلاته بكلامه ناسياً، فتكلم يسيراً. (أو جهل التحريم) فيما تكلم به فيها وإن علم تحريم جنسه، وهذا إن عذر. إمَّا بخفاء تحريم ما أتى به بحيث يجهله أكثر العوام كالتنحنح، فإنه يجهل أكثرهم بطلان الصلاة به، وتكبير المبلغ بقصد الإعلام؛ لأن العامي إنما يجب عليه تعلم المسائل الظاهرة دون الخفية، فلا تقصير منه فيه فعذر، 
حاشية الجمل – (4 / 198)ولو شك في كون ما تكلم به من الظاهر أو من الخفي .. فكالخفي

Semoga ini menjadi jawaban atas problematika ummat muslim di Indonesia, agar yang solatnya tidak benar bisa diperbaiki dan mengganti solat-solat lama yang tidak benar.

Related Articles

Back to top button