fbpx
Essai

Mengenang Persahabatan Jakob Oetama-Soe Hok Gie Ditengah Isolasi Pers Orde Baru

oleh : Gilang Dwiangga Putra Nababan*

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Barangkali tidak sedikit orang yang mengetahui bila sosok Jakob Oetama, tokoh pers nasional, pendiri Harian Kompas, Majalah Intisari serta Kompas Gramedia Group semasa mudanya berteman baik dengan Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa era 70 an.

Tadi malam, sekitar pukul 20.00, melalui unggahannya di instagram, akun bernama @bysoehokgie mencoba mengenang kembali pertemanan keduanya.

BACA JUGA: Obituari Prof. Abdul Malik Fadjar: Sang Reformator PT Muhammadiyah

Dalam ungghan fotonya tersebut, @bysoehokgie selain mengucapkan perpisahan kepada tokoh pers nasional tersebut yang pada hari kemarin, Rabu (9/9) tutup usia, akun itu juga menuliskan JO, panggilan akrab Jakob Oetama berteman baik dengan Soe Hok Gie.

 Jika melihat lebih dalam lagi, memang beberapa tulisan kritikan dari aktivis yang terkenal lantang menyuarakan pendapatnya di muka umum itu diterbitkan oleh harian kompas yang di asuh JO, sebagai Pimpinan redaksi pada periodesasi tahun 70 an.

Bahkan kehangatan hubungan mereka sudah dimulai ketika JO bersama Petrus Kanisius (PK) Ojong, pendiri kompas lainnya, yang tengah mendirikan majalah intisari waktu itu.

Soe Hok Gie
Soe Hok Gie, Aktivis Mahasiswa tahun 70 an sekaligus pendiri Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia. (sumber: kumparan.com)

Diceritakan sebelum bertemu dengan GIe, JO bertemu lebih dahulu dengan PK Ojong  pada tahun  1958 dalam sebuah kegiatan jurnalistik, yang membuatnya terdorong untuk mendirikan majalah intisari bersama PK Ojong

Ojong sendiri sebelumnya juga sudah aktif di dunia jurnalistik, sebagai pimpinan Harian Keng Po dan mingguan Star Weekly. Namun, pada 1958, Keng Po diberangus pemerintah. Nasib yang sama dialami oleh Star Weekly pada 1961. Keduanya tak disukai pemerintah karena sikap kritisnya.

BACA JUGA: Hari Ini, Pendiri Kompas Jacob Oetama Tutup Usia ……………..

Pada tahun 1963, majalah Intisari resmi berdiri dengan misi mendobrak kekangan politik isolasi yang dilakukan pemerintah. Nah dari situlah JO dan Soe Hok Gie saling bertemu dan mengenal pada periode 1965 – 1969.

Beberapa nama hebat pada zaman itu direkrut sebagai wartawan, di antaranya Nugroho Notosusanto yang kelak menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru dan Soe Hok Djin yang berganti nama menjadi Arief Budiman;

Kemudian ada juga Soe Hok Gie adik dari Soe Hok Djin yang dikenang sebagai aktivis mahasiswa 1966; dan Kapten Ben Mboi yang kelak menjadi Gubernur NTT.

Jakob Oetama
Masa muda Jakob Oetama ketika masih menjadi sekretaris redaksi Harian Penabur. (sumber: warta kota)

JO menggambarkan sosok pendiri Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Univeristas Indonesia (UI) mirip seperti kakaknya, Ilmuwan sekaligus dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Arief Budiman.

Dirinya menuturkan bahwa Gie adalah sosok yang mempunyai gaya bicara lugas, menggugat, berintegritas tinggi, dan sering tampak kurang sabaran.

“Sebagai seorang aktivis, Gie tidak sabaran, mau tembak langsung, sedangkan saya digerakkan oleh naluri kewartawanan dengan sikap with understanding,” ujar pendiri Majalah Intisari tersebut.

BACA JUGA: Penggabungan NPWP-NIK untuk Kenakan Pajak Seluruh Penduduk? Begini Lho Faktanya..

Selain itu masih di mata JO,seperti halnya Arief Budiman, Gie cenderung hitam-putih dalam melihat persoalan. Keuntungannya, ungkap JO, dengan sikapnya itu, analisis Gie menjadi tajam menusuk.  Sementara kerugiannya, nilai JO, analisis Gie bisa menghilangkan nuansa.

’’ Gie misalnya, hanya melihat ada dua pilihan di Indonesia ini: menjadi idealias atau apatis. Saya memutuskan harus menjadi idealias sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah..” Ujar Gie suatu ketika.

Sebaliknya, Gie juga punya gambaran khas tentang sosok JO, yang kemudian kita  kenal sebagai salah satu pilar dalam perjalanan sejarah media dan jurnalistik di Indonesia.

Ia mengatakan, “…karena biar bagaimana pun, dari orang-orang seperti Jakob (Oetama) yang sangat hati-hati tidak dapat diharapkan sikap nekat seperti aku,” tulis Gie, yang bangga betul ketika PK Ojong, menyebutnya sebagai ‘patriot’ dalam rubrik ‘Kompasiana’ tanggal 12 Nov 1969. 

SIMAK JUGA: Arteria Dahlan ‘Digoyang’ Isu Cucu Pendiri PKI Sumbar

Ya, Gie adalah sosok yang senang bila tulisannya dikomentari sarkastis atau anarkis oleh siapa saja termasuk PK Ojong.

Namun sayangnya kehangatan persahabatan mereka harus berakhir  manakala sang aktivis mahasiswa 70 an itu dikabarkan meninggal dunia tanggal 16 Desember 1969 di Puncak Gunung tertinggi Pulau Jawa, Gunung Semeru dan PK Ojong meninggal pada 31 Mei 1980.

Setelah kedua sahabatnya meninggal JO berjuang sendirian mengawal pemberitaan dan menyuarakan  kebenaran di tiga masa pemerintahan berbeda.

Dan kini, menginjak usia 88 tahun, sang Begawan pers nasional pun harus menghentikan perjuangannya dan  kembali bertemu kedua sahabatnya di singgasana yang telah diberikan Sang Pencipta di alam baka sana. Tak ada lagi rasa rindu dan mereka bertiga sudah bebas bertemu, mengenang perjuangan dan cita-cita di masa lalu.

Rasa kehilangan yang cukup besar tentu dirasakan seluruh insan pers Indonesia. Sebab tak bisa dipungkiri ketiga tokoh ini telah memberikan sumbangsih yang begitu besar baik karya maupun buah pikir kepada bangsa Indonesia semasa hidupnya

Meski dengan jalan yang berbeda, Gie yang terkenal lantang dan JO serta PK Ojong lebih halus, mereka tak henti berjuang untuk kemajuan Indonesia karena rasa cinta mereka kepada tanah air ini begitu dalam dan besar.

BACA ARTIKEL LAINNYA: Partai Golkar Siap Penuhi Target di Pilkada 2020

Pun, dengan berberat hati, diakhir tulisan ini, penulis ingin mengucapkan salam perpisahaan dan rasa terimakasih kepada ketiganya, terutama Jakob Oetama yang kemarin tutup usia atas segala yang telah mereka berikan untuk Indonesia. Semoga tenang di alam sana dan biarkan perjuangan kalian kami lanjutkan!.

*Penulis, Pemimpin Redaksi Majalah DIMENSI Politeknik Negeri Semarang (Polines) 2015-2016; Pengagum Ketokohan Soe Hok Gie dan Jakob Oetama

Related Articles

Back to top button