fbpx
Sosial & Budaya

Mengenal Suku Baduy: Asal-Usul, Kepercayaan dan Aturan Kunjung (Bagian 2)

BANTEN, energibangsa.id—Di tengah kepungan hutan beton yang diisi mal dengan beragam diskon serta apartemen dengan harga selangit, terkadang kita masih melihat warga Suku Baduy (Suku Badui) melintas di pinggir jalan, tak beralas kaki, mengenakan baju kain sederhana, berikut ikat di kepalanya. Kalau ditanya, mereka menjawab hendak menjual madu atau mengunjungi saudara di kota.

Orang Baduy menyebut diri mereka Urang Kanekes atau Orang Kanekes. Kata ‘baduy’ merupakan sebutan dari peneliti Belanda, mengacu pada kesamaan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang gemar berpindah-pindah.

Mengenal Suku Baduy: Asal-Usul, Kepercayaan dan Aturan Kunjung (Bagian 2)
Anak-anak Suku Baduy/ Sumber: Dolan Dolen

Pemerintahan Suku Baduy

Mengutip tulisan dari situs resmi Pemprov Banten, Suku Baduy mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia. Dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat.

Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, warga dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat tertinggi, yaitu pu’un. Jabatan pu’un berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya.

Jangka waktu jabatan pu’un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut. Sebagai tanda kepatuhan kepada penguasa, Suku Baduy secara rutin melaksanakan tradisi ‘Seba’ ke Kesultanan Banten.

Sampai sekarang, upacara Seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali. Berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (baca: sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui Bupati Kabupaten Lebak.

Aturan berkunjung

Menurut Indonesia Kaya seperti dikutip CNNIndonesia, Rabu (8/7/2020), Desa Kanekes bisa dikunjungi melalui Terminal Ciboleger sebagai pemberhentian terakhir kendaraan bermotor. Dari sini pemandu akan mengajak wisatawan melintasi bukit masuk ke dalam hutan hingga menemukan desa warga Baduy Luar.

Mengenal Suku Baduy: Asal-Usul, Kepercayaan dan Aturan Kunjung (Bagian 2)
Rumah adat Baduy/ Sumber: Oleh-oleh Khas Banten

Bagi sobat energi yang sempat mengunjungi Suku Baduy pasti bakal terkagum-kagum dengan pemandangan alamnya yang indah dan perilaku warganya yang ramah tamah. Namun selama kunjungan, turis wajib menjaga adat istiadat Suku Baduy.

Aturan berkunjung yang paling utama ialah menjaga kelestarian alam. Antara lain tak membuang sampah sembarang, menggunakan barang dalam kemasan sekali pakai, dan menggunakan pasta gigi dan sabun di sungai. Aturan lain tergantung wilayah yang bakal didatangi, Baduy Luar atau Baduy Dalam.

Karena Suku Baduy punya konsep menjauh dari hal yang berbau duniawi, sebaiknya datang dengan pakaian tertutup serta melupakan gadget yang dibawa, seperti telepon genggam atau kamera. Warga Baduy Dalam juga dikenal tak suka dipotret.

Jika sobat energi masih bingung dengan aturan berkunjung ke sana, sebaiknya datang bersama pemandu wisata yang merupakan warga Suku Baduy. Selain bisa menjelaskan adat istiadat lebih lengkap, usaha ini juga sebagai bentuk memajukan perekonomian Suku Baduy.

Tapi, Desa Kanekes tetap terlarang bagi warga negara asing. Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk untuk mengenal Suku Baduy sampai sekarang pun selalu ditolak masuk. Jadi, Kanekes hanya untuk pribumi dan orang-orang asli Indonesia, ya, sob! (*)

Related Articles

Back to top button