fbpx
Sosial & Budaya

Mengenal Suku Baduy: Asal-Usul, Kepercayaan dan Aturan Kunjung (Bagian 1)

BANTEN, energibangsa.id— Suku Baduy (Urang Kanekes) merupakan kelompok masyarakat adat etnis Sunda yang hidup bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (8/7/2020), orang Baduy berbicara menggunakan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Mereka memang punya hubungan dengan orang Sunda, meski berbeda kepercayaan. Ada tiga lapisan di Suku Baduy, yakni Baduy Dangka, Baduy Luar, dan Baduy Dalam.

Mengenal Suku Baduy: Asal-Usul, Kepercayaan dan Aturan Kunjung (Bagian 1)
Suku baduy/ sumber: sejarah.blog

Warga Baduy Dangka sudah tinggal di luar tanah adat. Mereka tak lagi terikat oleh aturan atau kepercayaan animisme Sunda Wiwitan yang dijunjung Suku Baduy. Mereka juga sudah mengenyam pendidikan dan paham teknologi.

Lalu warga Baduy Luar merupakan yang tinggal di dalam tanah adat. Mereka masih menjunjung kepercayaan Sunda Wiwitan. Di tengah kehidupan yang masih tradisional, mereka sudah melek pendidikan dan teknologi. Ciri khas mereka terlihat dari pakaian serba hitam dan ikat kepala biru.

Yang terakhir merupakan warga Baduy Dalam atau Baduy Jero. Mereka bermukim di pelosok tanah adat. Pakaian mereka serba putih. Kepercayaan Sunda Wiwitan masih kental di Baduy Dalam. Warga di sini juga dianggap memiliki kedekatan dengan leluhur.

Mereka tak mengenyam pendidikan, melek teknologi, bahkan tak beralas kaki, karena hidup apa adanya dirasa sebagai cara untuk tetap dekat dengan Yang Maha Esa.

Eksistensi Baduy Dalam dilindungi oleh Baduy Dangka dan Baduy Luar. Kedua lapisan ini bertugas menyaring “hempasan informasi dari dunia luar” sehingga adat istiadat Suku Baduy tetap terjaga.

Jika warga Baduy Dangka banyak yang membuka usaha jasa pemandu wisata, tempat makan, dan penjual oleh-oleh, maka warga Baduy Luar dan Baduy Dalam masih banyak yang berternak dan bertani.

Persawahan di Desa Kanekes masih terjaga keasriannya, meski sudah semakin banyak pabrik yang dibangun di Rangkasbitung. Hasil pertanian mereka biasanya dijual di Pasar Kroya, Pasar Cibengkung, dan Ciboleger.

Kepercayaan dan asal-muasal

Dilansir dari Pesona.Travel, kepercayaan penduduk Baduy (orang Kanekes) adalah keturunan dari Batara Cikal, yakni salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke Bumi.

Asal-usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama manusia. Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes, mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Ahli sejarah mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti. Catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai ‘Tatar Sunda’ yang cukup minim keberadaannya.

Kaitan dengan Kerajaan Sunda?

Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Padjadjaran, atau di sekitar Bogor sekarang. Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung Barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda.

Mengenal Suku Baduy: Asal-Usul, Kepercayaan dan Aturan Kunjung (Bagian 1)
aktivitas suku baduy/ sumber: pegi-pegi

Saat itu, Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Penguasa wilayah tersebut, Pangeran Pucuk Umum, menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu, diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng.

Keberadaan pasukan itulah yang tampaknya menjadi cikal bakal masyarakat Baduy. Masyarakat Baduy sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng. Kerbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup. Tujuannya adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Padjadjaran.

Versi yang berbeda

Teori lain mengatakan, sejarah Baduy dimulai ketika Kian Santang (baca: putra Prabu Siliwangi) pulang dari Saudi Arabia, setelah memeluk Islam di tangan Sayyidina Ali. Konon, sang putra ingin meng-Islamkan sang Prabu beserta para pengikutnya.

Pada akhir cerita, dengan ‘wangsit Siliwangi’ yang diterima sang Prabu, mereka keberatan masuk Islam, dan menyebar ke penjuru Sunda untuk tetap memegang teguh keyakinannya. Prabu Siliwangi dikejar hingga daerah Lebak, yang sekarang menjadi tempat bermukim Suku Baduy. Sang Prabu bersembunyi hingga ditinggalkan oleh pengikutnya.

Lalu, sang Prabu di daerah Baduy tersebut berganti nama dengan gelar baru Prabu Kencana Wungu, yang mungkin gelar tersebut sudah berganti lagi.

Di Baduy Dalam-lah Prabu Siliwangi bertahta dengan 40 pengikut setianya, hingga mangkat di Cikeusik, Baduy Dalam, Desa Kanekes. (*)

(Bersambung Bagian 2)

Related Articles

Back to top button