fbpx
Ragam Bangsa

Mengenal Seni Mural; Perkembangan dan Prospek Industrinya

Penulis: Tirza Kanya Bestari (Yogyakarta)

energibangsa.id—Seni telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, baik zaman dahulu maupun masa sekarang. Secara etimologi, ‘seni’ berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu ‘Sani’ yang artinya pemujaan, persembahan, dan pelayanan.

Secara umum, seni dapat didefinisikan sebagai suatu ekspresi perasaan manusia yang mempunyai unsur keindahan terdapat di dalamnya dan diungkapkan melalui suatu media yang sifatnya nyata, baik itu dalam bentuk nada, rupa, gerak, dan syair, serta dapat dirasakan oleh panca indera manusia.

Mural merupakan sebuah karya seni dalam bentuk rupa yang dapat dinikmati melalui indera penglihatan.  Menurut Bahasa, kata ‘mural’ diambil dari Bahasa Latin, yaitu ‘murus’ yang berarti dinding.

Sedangkan berdasarkan definisi dari KBBI, ‘mural’ sendiri berarti lukisan pada dinding. Secara luas, mural dapat diartikan sebagai lukisan yang diaplikasikan dalam media berupa dinding, lantai atau plafon yang bersifat permanen. Lantas, apa yang membedakannya dengan seni grafiti?

Mengenal Seni Mural; Perkembangan dan Prospek Industrinya
Pelukis sedang mengerjakan projek melukis dinding (mural)/ sumber: suara sumut

Perkembangan seni mural

Grafiti merupakan karya seni yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot. Sedangkan mural tidak demikian, tidak mesti dalam bentuk tulisan, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat pewarna apapun yang dapat menghasilkan gambar.

Berdasarkan informasi yang beredar, seni mural ini sudah ada sejak 31.500 tahun yang lalu, lho! Tepatnya pada masa pra sejarah. Pada masa itu terdapat lukisan yang menggambarkan sebuah gua di Lascaux, daerah Selatan Prancis.

31.500 tahun yang lalu tentu saja belum ada cat air yang dapat kita temukan dimana-mana seperti masa sekarang ini. Maka bahan yang dijadikan alat melukis pada waktu itu adalah dengan menggunakan sari-sari buah.

Pada awalnya, seni mural ini mungkin hanya sebatas hobi belaka, sebagai sarana untuk mengungkapkan ekspresi dan juga sebagai sarana untuk mengkritik masalah-masalah sosial yang terjadi. Namun pada masa reformasi, seringkali muncul lukisan mural di sudut-sudut kota dengan membawa nilai-nilai persatuan sambil bersuara untuk dilakukannya reformasi di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu yang didampingi pula dengan berkembangnya zaman, seni mural kini mampu menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.  Mural bahkan menjadi seni yang kian marak digandrungi untuk mempercantik tempat-tempat seperti kantor, kafe, hotel, museum 3D atau malah rumah pribadi.

Mural adalah penghias yang mampu menyegarkan mata yang seringkali berhasil memikat perhatian dan menjadi ciri khas suatu tempat. Seringkali kita menemukan seni mural diberbagai tempat sehingga membuat tempat tersebut semakin berwarna dengan berbagai jenis tema, warna dan gaya lukisan mural yang berbeda-beda.

Daya tarik seni mural

Seni mural mampu menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk datang ke kafe, resto atau museum 3D. Hotel dengan tembok yang bermural bisa juga menjadi pertimbangan sebagai pilihan untuk menginap.

Secara tidak langsung, mural mampu menjadi media branding sekaligus mampu menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Kini, banyak industri jasa mural dengan harga terjangkau yang bisa ditemukan dan menawarkan berbagai tema, konsep, serta desain yang menarik.

Studi pada Angela Gracia Pramudita

Tak sedikit pula seniman yang beralih media dari kertas atau kanvas, kemudian “berubah” menjadi pelukis dinding ataupun lantai. Angela Gracia Pramudita, misalnya, seniman mural kelahiran Surabaya yang berkarya di Yogyakarta ini mulai terjun menekuni jasa seni mural sejak tahun 2015.

Angel mengaku bahwa minat konsumen untuk menggunakan jasa pelukis mural ini bisa dibilang tinggi.

“Banyak peminatnya. Mural ini sempat booming banget, hampir setiap kafe ada muralnya. Alasannya, ya, biar ada spot yang instagramable lah istilahnya. Kan bisa menarik perhatian pengunjung, apalagi yang suka foto,” ujar Angel.

Angel juga mengaku kerap mendapat pesanan dari luar kota seperti Solo, Semarang dan Bogor. Berdasarkan pengalamannya, pelanggan yang kerap menggunakan jasa seni muralnya rata-rata adalah pengelola kafe dan hotel.

Eh, tapi pernah juga sih dapet projek rumah pribadi. Tapi ya kebanyakan  kafe,” sambung wanita lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta itu.

Gadis yang juga memiliki hobi menari ini tak sendiri dalam menggarap bisnis tersebut. Ia membentuk kelompok bersama dengan teman-temannya dan mereka mematok tarif antara Rp350.000- Rp500.000 per meter. Semua harga disesuaikan dengan tingkat kerumitannya.

Dalam sebulan mereka biasanya hanya menerima 2 proyek karena pembuatannya memakan waktu yang cukup lama.

“Pembuatannya bisa berhari-hari gitu, nggak bisa double job,” jelas Angel, seniman mural yang merangkap menjadi ZIN (Zumba Instructor Network) sekaligus desainer grafis. (*)

Related Articles

Back to top button