masjid pekojan
BudayaPojok Bangsa

Mengenal Sejarah Pekojan, Kampung India dan Pakistan di Semarang

0

ENERGIBANGSA.ID – Dibanding provinsi lain, Jawa Tengah selama ini terkenal lebih tenang dan kondusif. Panasnya suhu politik bangsa tidak banyak berimbas pada suasana sosial warga Jawa Tengah, termasuk Kota Semarang yang menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah.

Selain memiliki nilai toleransi tinggi, Semarang juga memiliki ragam budaya yang menonjolkan aspek persatuan dalam keberagaman. Meski memang mayoritas warga muslim tetap dominan, namun keislaman di Semarang ditunjukkan dengan cara yang santun dan damai.

Salah satunya adalah Kampung Pekojan, sebagai contoh dan representasi budaya Islam dan persatuan di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Dari namanya, Pekojan berasal dari kata Koja, sebuah kota di perbatasan India dan Pakistan, hingga kampung yang terletak di Semarang Tengah ini diberi nama Kampung Pekojan.

Dra. Hj. Ismiyatun, peneliti dan pengamat Budaya Internasional di Semarang memuji keberagaman budaya dan tingginya nilai toleransi di ibukota Provinsi Jawa Tengah ini, termasuk soal budaya Koja di Semarang.

“kalau merujuk pada sejarahnya, secara kenegaraan Pakistan dan India itu rivalitasnya tinggi hingga kini, seperti Korut dan Korsel,” ujarnya.

“tapi rivalitas bangsa Pakistan dan India itu sirna dan malah menjadi damai dan membentuk budaya dan tradisi baru di Semarang, ini kan unik dan menarik,” lanjut perempuan yang juga merupakan kepala studi Hubungan Internasional UNWAHAS Semarang.

Menurut Ismiyatun, akulturasi budaya dan keinginan untuk bersatu warga Pakistan dan India di Semarang jauh lebih penting daripada soal historis mengingat perang dan permusuhan bangsanya.

Berasal dari Koja

Konon, nama Pekojan diberikan oleh ulama yang juga penyebar agama Islam asal dua daerah tersebut saat mereka singgah dan berdagang di kota Semarang.

Menurut Annas Salim, salah satu sesepuh Kampung Pekojan, awal cerita kampung dan Masjid Pekojan di Semarang bermula semenjak 150 tahun silam, dimana banyak saudagar Pakistan dan India yang memilih menetap di Kota Lumpia ini.

“Koja sendiri memiliki arti kampung yang didiami oleh suku-suku sempalan dari India dan Pakistan. Suku-suku terdahulu memang memilih hijrah dan syiar Islam di sejumlah tempat. Semarang salah satunya, ” ujar Annas.

“Di daerah yang kini bernama Pekojan inilah simbah-simbah buyut kami berdagang. Dari lima orang jadi 10 orang sampai anak cucu sekarang ini,” kata dia.

Info yang didapat tim energibangsa.id dahulunya Kampung Pekojan juga merupakan tempat pemyembelihan kambing di Kali Angke yang lazim dikonsumsi bangsa Arab.

Kampung ini terletak di Jalan Mt Haryono Jalan Pekojan, Purwodinatan, Semarang sebelum bundaran bubaan.

Kawasan Pekojan sendiri terdiri dari beberapa perkampungan yaitu, Pekojan Tengah, Petolongan, Bustaman dan kampung Begog.

Kawasan Pekojan dikenal sebagai sentra tas, material, perlengkapan garmen, kertas dan lain-lain.

Masjid Pekojan

Selain itu, di jalan kampung Petolongan terdapat Masjid Djami yang konon dahulunya dipercaya sebagai peninggalan leluhur.

Menurut Annas, Masjid Pekojan merupakan simbol penting kaum muslim di Pekojan Semarang hingga kini. Menurutnya, ide awal masjid ini diperkenalkan oleh seorang ulama besar asli Koja bernama Syeh Latief yang juga seorang pedagang terkemuka pada masanya.

Cerita Masjid Pekojan pun berlanjut. Hingga beberapa orang dari suku Aqwan, salah satu suku di Pakistan, membangun masjid yang berwarna serba hijau ini menjadi kian besar hingga kini.

Namun sosok orang yang meletakkan batu pertama masjid ini masih simpang siur, karena banyak saksi sejarah yang telah wafat atau beberapa jejak yang mulai hilang.

Berlalu dari cerita itu, kini perjuangan dan tradisi kaum Koja di Pekojan Semarang masih terus lestari. Beberapa simbol penting masjid ini bahkan masih bisa dijumpai di halamannya, seperti makam Haji Alwan dan Rafii yang konon merupakan aulia besar pada zamannya. Selain itu, sejumlah tokoh lain seperti makam Syarif Al Fatimah, yang tak lain merupakan saudara Haji Aulia juga ada di lokasi masjid.

Bubur Khas Pakistan dan India

Di dalam Masjid Jami’ Pekojan ada sekolahan dan beberapa makam. Budaya khas pada masjid ini adalah tradisi buka bersama di bulan Ramadhan.

Selama lebih dari 1 abad pengurus masjid yang dikomandoi oleh H. Annas ini selalu menghidangkan bubur yang mempunyai resep turun menurun berasal dari India.

Annas mengaku, pembagian bubur India memang dinantikan banyak orang jelang buka puasa. Menariknya, saban harinya, pengurus masjid selalu menghabiskan 20 kilogram tepung beras untuk membuat 200 hingga 300 porsi bubur kepada para jamaah.

“Bubur India ini juga telah ada sejak 150 tahun silam. Resepnya pertama kali dikenalkan saudagar Gujarat yang syiar Islam di sini. Jadi bubur India kini telah menyatu dengan masyarakat setempat,” ujar kakek yang telah berusia lebih dari setengah tahun itu.

Bubur India, menurut Annas, diolah oleh generasi keempat suku Koja. Terbuat dari campuran rempah-rempah pilihan, mulai potongan jahe, salam, daun pandan, irisan bawang bombay dan campuran kayu manis plus cengkeh yang bikin sedap aroma dan rasanya.

“Ada delapan bumbu yang diwariskan kepada kita yang jadi keturunan keempat suku Koja Pakistan. Kelebihannya, bau kayu manis yang dimasak di perapian tungku menjadi ciri khas tersendiri,” kata dia.

Hingga kini, Masjid Djami Pekojan sudah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya diKota Semarang sebagai bangunan peninggalan leluhur.

“Penuturan dari keturunan terdahulu beliaulah (Syeh Latief) yang menginisiasi pembangunan masjid Pekojan ini. Fungsinya menjadi tempat ibadah kaum-kaum kami yang menetap di sini,” ucapnya.

Makam Masjid

Jika sobat energi baru pertama kali berkunjung ke Masjid Jami Pekojan, mungkin akan kaget ketika masuk pada bagian kiri akan melihat ada beberapa nisan makam tak bernama dan letaknya tidak beraturan.

Tidak hanya disisi kiri masjid saja, di sisi kanan masjid dekat makan Syarifah Fatimah dan pohon Bidara juga ada beberapa makam serupa. Makam-makam ini adalah bekas makam dari warga sekitar yang dahulunya tinggal di sekitar masjid. 

Hal ini terjadi karena pada jaman dahulu sebelum bangunan megah itu menjadi masjid, bangunan itu adalah sebuah musholla dan pemakaman umum untuk warga yang wakaf di tanah tersebut.

Seiring perkembangan zaman dan direnovasinya musholla menjadi Masjid Jami’ Pekojan, maka beberapa makam yang masih memiliki wali dipindah ke TPU (Tempat Pemakaman Umum )Bergota.

Namun yang sudah tidak memiliki wali, tetap dibiarkan ada di sekitar Masjid Jami Pekojan. Di Masjid Jami Pekojan, selain mendapatkan nilai luhur keagamaan, anda juga bisa mendapatkan pencerahan baru karena berziarah, dan mengenal manfaat mujarab dari pohon Bidara.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

2020, LBH Ansor Jateng Fokus Genjot Pembentukan Desa Sadar Hukum

Previous article

Pelayanan Disdukcapil Jepara Lambat, Kinerja Lama, Tapi Warganet Bisa Apa?

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Budaya