fbpx
Sosial & Budaya

Mengenal ‘Popokan’, Tradisi Unik Desa Sendang, Kabupaten Semarang

ENERGIBANGSA.ID—Tradisi ‘popokan’ di Kabupaten Semarang ini selalu dipertahankan oleh warga di Desa Sendang, Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang. Tradisi itu terkenal dengan nama ‘perang lumpur’. Biasanya, tradisi popokan dilaksanakan pada bulan Agustus, tepatnya pada hari Jumat Kliwon.

Dilansir dari merahputih.com, aksi lempar lumpur dilakukan tanpa emosi. Mereka melaksanakan dengan suka-cita, begitu juga penontonnya. Jika penonton terkena lemparan lumpur mereka tidak boleh marah. Karena, mitosnya jika orang yang terkena lemparan akan mendapat berkah.

Tradisi perang lumpur ini merupakan tradisi pengusiran binatang buas seperti harimau dan macan di sekitar pemukiman warga. Itu karena sering merusak area persawahan. Kegiatan itu bahkana dilakukan nenek moyang mereka jaman dahulu.

Popokan sebagai ritual

Popokan ini dilakukan oleh laki-laki dan masih muda yang saling melempar lumpur antara satu sama lainnya. Biasanya dilakukan di persawahan desa. Tradisi ini sudah turun temurun dari pendiri desa sampai sekarang. Prosesi Popokan diawali dengan pembersihan air atau sendang. Setelah itu warga membawa ambeng atau nasi yang berbentuk gunungan (tumpeng) untuk acara selamatan.

Oleh warga desa, tumpeng tersebut diarak bersama-sama. Selama arak-arakan berlangsung, warga menampilkan seni dan kreatifitasnya masing-masing. Di dalam arak-arakan ini warga juga menggiring hewan macan yang berbentuk boneka.

Wujud rasa syukur

Tradisi ini menjadi simbol penolakan dari segala keburukan yang masuk ke dalam desa. Popokanjuga sebagai wujud rasa syukur warga terhadap hasil panen yang melimpah. Hal ini karena akar sejarahnya berupa gangguan binatang buas yang mengancam tanaman warga.

Masyarakat yang merasa terancam dan takut, akhirnya mengusir macan itu menggunakan tanah atau lumpur. Akhirnya macan itu pergi dan warga merayakan suka- cita itu. Dan, aksi lempar lumpur yang dilakukan secara terus-menerus akhirnya menjadi tradisi. Sekaligus, identitas warga Desa Sendang di Kabupaten Semarang. (Nicola Adella / EB)

Related Articles

Back to top button