fbpx
Opini / Gagasan

Mengenal Konsep Modern Monetary Theory (MMT) dalam Finansial Negara

Oleh: Putri Isnayni, Mahasiswa Komunikasi Universitas Semarang (USM)

ENERGIBANGSA.ID—Modern Monetary Theory (MMT) atau Teori Moneter Modern adalah teori ekonomi makro yang berbasis cetak uang (printing money).

Teori ini merupakan salah satu bentuk kebijakan moneter suatu negara. Dalam teori ini, negara memiliki kebijakan mencetak uang sendiri untuk keperluan dalam negeri. Baik itu untuk membayar utang dalam negeri, proyek produktif dalam negeri, maupun untuk kebutuhan konsumtif dalam negeri.

Di sini bank sentral suatu negara menjadi tidak independen karena dibawah otoritas pemerintah atau dinasionalisasikan.

Teori Mosler

Konsep Modern Monetery Theory (MMT) pertama kali dikemukakan pada 1992 oleh Warren Mosler. Yakni seorang pengusaha, ekonom, profesional keuangan, dan ahli teori Amerika.

Warren Mosler telah menghabiskan waktu hingga 40 tahun terakhir hanya untuk mendapatkan pengetahuan tentang operasi monener.

Mosler juga dikenal karena keterkaitannya dengan pembuatan undang-undang Mosler yang menyatakan tidak ada krisis keuangan yang sedemikian dalam.

Sehingga penyesuaian fiskal yang cukup besar tidak dapat mengatasinya. Relevansi MMT saat ini menyangkut tiga hal, yaitu suku bunga, inflasi, dan jaminan pekerjaan.

Suku bunga

Suku bunga dalam MMT berlaku dengan menaikkan tarif yang dapat meningkatkan pengeluaran total dan mendorong kenaikan harga.

Selain itu menurunkan suku bunga dengan menghilangkan pendapatan bunga dari perekonomian memberikan fungsi untuk mengurangi permintaan dan menurunkan inflasi.

Kebijakan suku bunga tetap 0% dalam MMT mengacu pada harga aset yang mencerminkan penilaian risiko yang dapat disesuaikan dan tidak “terus-menerus berakselerasi” seperti yang dianggap oleh istilah “inflasi harga aset”.

Jaminan pekerjaan dalam pengaplikasian MMT dapat dimanfaatkan sebagai stok penyangga untuk mendorong stabilitas harga dengan memfasilitasi transisi dari pengangguran ke pekerjaan sektor swasta.

Negara-negara yang berhasil mengaplikasikan MMT dalam kebijakan moneternya ialah Amerika, Jepang, China, serta negara-negara di Eropa.

Di negara tersebut MMT berhasil diaplikasikan untuk kebutuhan proyek produktif dalam negeri, sehingga tidak menimbulkan inflasi.

“Penerapan MMT yang benar memang untuk kebutuhan proyek produktif, seperti di Jepang yang inflasinya minus atau Amerika yang bahkan hampir nol inflasinya” kata Rola Nurul Fajria, Dosen Kebijakan Moneter Politeknik Negeri Semarang Jumat (11/12/2020).

Berbeda dengan Argentina dan Zimbabwe yang gagal mengaplikasikan MMT. Karena dalam implementasinya, justru menjadi kesempatan bagi pemangku kebijakan untuk melakukan korupsi. Ini bisa jadi faktor masih banyaknya sumber daya manusia yang belum memadahi.

Rola mengatakan, kegagalan pengaplikasian MMT seperti yang terjadi di Argentina dan Zimbabwe bisa menimbulkan hiper inflasi bila pajak negara tidak memenuhi pemasukan negara.

Lantas, apakah Indonesia bisa mengaplikasikan Modern Monetary Theory (MMT)? (*)

Related Articles

Back to top button