fbpx
Kabar Daerah

Mengenal Gedung Marabunta Kota Lama Semarang yang Megah nan Bersejarah

SEMARANG, Energibangsa.id – Gedung Marabunta menjadi salah satu dari cagar budaya yang berusaha untuk terus dilestarikan oleh Pemerintah Kota Semarang, Gedung Marabunta yang terletak di Kota Lama Semarang menjadi primadona serta ikon baru bagi pariwisata.

Gedung yang terkenal karena terdapat patung dua ekor semut raksasa di atasnya, menjadikan gedung marabunta ini memiliki sisi unik yang berbeda dari gedung-gedung yang telah berdiri sejak zaman dahulu.

Nah, untuk lebih tahu lebih dalam mengenai Gedung Marabunta ini simak penjelasan nya berikut ini:

Sejarah

Pada zaman penjajahan Belanda, Gedung Marabunta ini difungsikan sebagai gedung pertunjukan atau teater. Sejalan dengan itu pula, nama sebelumnya dari bangunan tersebut adalah “Schouwburg” yang dalam bahasa Belanda dapat diartikan sebagai gedung teater.

Para sejarawan Kota Semarang memperkirakan bahwa Gedung Marabunta ini telah berdiri sejak tahun 1824 bersamaan dengan pembangunan Jalan Pos Daendles beserta kawasan Kota Lama.

Dahulunya tempat tersebut digunakan sebagai untuk menyediakan tempat hiburan bagi warga Eropa yang bermukim di kawasan Kota Lama. Dengan menampilkan sandiwara keliling seperti sirkus yang cukup populer di daratan Eropa berjudul Komedi Stamboel hingga pertunjukan tari erotis oleh artis legendaris Mata Hari.

Setelah kemerdekaan, Gedung Marabunta ini diambil alih kepemilikannya oleh Kodam VII Diponegoro lalu setelah itu diserahkan kepada perusahann Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) yang bernama “Marabunta”. Hingga pada tahun 1999, menjadi kafe sebagai untuk menerima tamu asing yang datang ke Kota Semarang.

Harapan di Masa Sekarang

Sehubungan dengan langkah Pemerintah Kota Semarang untuk merevitalisasi Kota Lama menjadi ikon wisata baru di Kota Semarang, membuat Gedung Marabunta tidak luput dari perhatian.

Saat ini gedung yang dahulu dikenal terbengkalai, kini telah berusaha untuk dibenahi dan diharapkan dapat mengembalikan fungsi awal dari gedung ini kembali yakni sebagai gedung pertunjukan seni dan budaya.

Meskipun sempat tertunda karena masalah kepemilikan, namun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang berusaha bekerja sama dengan pemiliki atau pengelola gedung tersebut untuk melakukan perawatan. (Ozan/EB)

Related Articles

Back to top button