fbpx
Ragam Bangsa

Mengenal dr. Kariadi, Sosok Berjasa di Balik Pertempuran 5 Hari di Semarang

energibangsa.id – Tanggal 15 – 19 Oktober selalu diperingati sebagai Pertempuran Lima Hari di Semarang. Peristiwa ini termasuk upaya mempertahankan Kemerdekaan Indonesia melawan tentara Jepang pada masa transisi kekuasaan ke Belanda.

Dalam pertempuran itu jelas banyak pahlawan yang gugur, salah satunya dr. Kariadi. Dokter Kariadi tewas di sekitar Jalan Pandanaran, Semarang dalam perjalanan ke Reservoir Siranda untuk melakukan pengecekkan terhadap rumor bahwa bak tampungan air tersebut sudah diracun oleh pihak Jepang.

Atas jasa dan kegigihannya, nama Dokter Kariadi diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit besar di Semarang. Kariadi juga diajukan sebagai pahlawan nasional oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). Lalu siapa sebenarnya sosok Kariadi ini?

Biografi dan Sosok Dokter Kariadi

Lahir di Malang, 15 September 1905, Kariadi merupakan anak dari keluarga strata sosial bawah. Setelah kematian kedua orangtuanya, hidup Kariadi semakin memprihatinkan. Karena tidak ada yang mengurusi, Kariadi kecil harus tinggal bersama pamannya.

Sejak kecil, Kariadi memiliki semangat menuntut ilmu yang besar. Bahkan menjadi dokter sudah ia impikan sedari dulu. Maka, tinggal bersama sang paman membuatnya memiliki kesempatan besar untuk menuntut ilmu.

Kariadi memulai pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Malang. Kemudian berpindah ke HIS Sidoarjo, Surabaya hingga tamat di tahun 1920. Pada 1921, Kariadi melanjutkan studi di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) atau Sekolah Kedokteran untuk Pribumi di Surabaya dan lulus pada 1931.

Lingkungan perkuliahan NIAS berlokasi satu kompleks dengan STOVIT (Sekolah Kedokteran Gigi). Di sinilah, Kariadi pertama kali bertemu dengan kekasih hatinya. Hal itu juga menjadi keberuntungan tersendiri bagi Kariadi. Di sana, dia bertemu dengan Soenarti, yang kemudian menjadi kekasihnya.

Pengabdian Sang Dokter

Sejak lulus dari NIAS, dokter Kariadi bekerja sebagai asisten tokoh pergerakan, dr. Soetomo di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) selama tiga tahun. Kariadi diketahui kerap berpindah tugas. Tercatat ia pernah bertugas di Kroya (Banyumas, Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur), Martapura (Kalimantan Selatan), pernah pula di tanah Papua.

Pengabdian sebagai dokter menyisakan kisah unik dalam pernikahannya. Pada 1 Agustus 1933, Kariadi menikahi Soenarti, dokter gigi pribumi pertama di Hindia Belanda. Uniknya, proses pernikahan itu berlangsung tanpa hadirnya sosok Kariadi, melainkan hanya ada sebilah keris milik Kariadi.

Dikisahkan, Kariadi pada saat itu sedang berada di Manokwari untuk mengatasi wabah malaria. Ia juga melanjutkan penelitian yang fokus pada pemberantasan penyakit malaria dan filariasis (kaki gajah). Berkat keberadaanya, Kariadi berhasil menemukan jenis nyamuk baru penyebab malaria.

Atas pengabdian dan pengalamannya, Kariadi diberi amanah sebagai Kepala Laboratorium Malaria di RS Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara), Semarang pada 1 Juli 1942. Sebagai dokter muda, gaji perbulannya hanya sebesar 600 gulden (mata uang Belanda pada saat itu) yang 1 guldennya bisa membeli 7kg gula premium. Namun keluarganya tetap hidup secara sederhana.

Lahir dari keluarga sederhana membuat Kariadi tidak lupa dari mana ia berasal. Kariadi juga dikenal sebagai sosok dokter yang dermawan. Setelah mendapat gaji yang lumayan, tidak jarang dia membantu pasien yang hanya mampu membayar jasa pengobatan dengan hasil pertanian. Bahkan ia rela memberi pengobatan secara cuma-cuma atau gratis. Kariadi juga tak jarang merogoh koceknya sendiri untuk membeli obat-obatan demi membantu masyarakat.

Jabatannya sebagai Kepala Laboratorium membuat Kariadi dekat dengan mikroskop. Pada saat itu, ia membutuhkan cedar olie atau immersion oil yang digunakan untuk pemeriksaan mikroskopik, namun sangat sulit didapatkan. Karena keahliannya, ia berusaha keras mencari bahan penggantinya.

Kemudian dokter Kariadi melakukan percobaan dan penelitian. Ia berhasil menemukan suatu formula minyak dari bahan daun kenanga pada tahun 1944, yang dinamakannya Minyak Semarang.

Atas persetujuan Semarang Iji Hookoo Kai (Himpunan Kebaktian Dokter Semarang) yang merupakan organisasi resmi pemerintah Indonesia yang ada di bawah pengawasan Jepang, minyak tersebut berubah nama menjadi Oleum Promicroscopiekar.

Dari Kariadi, kita bisa belajar banyak hal. Tekadnya yang kuat dilakukan demi menggapai suatu impian. Bahkan setelah ia berhasil menjadi dokter, ia berdedikasi terhadap tugas dan kewajibannya. Ia bahkan rela tak menghadiri pernikahannya sendiri. (Sasa/EB).

Related Articles

Back to top button