fbpx
Sosial & Budaya

Mengenal Batik Khas Demak: ‘Batik Mlatiharjan’

DEMAK, energibangsa.id—Kabupaten Demak Jawa Tengah memang populer dijuluki “kota Wali”. Ini karena di Demak terdapat makam ulama tersohor di era Walisongo. Sehingga Demak dijuluki sebagai kota Wali. Dengan begitu, Demak acapkali menyuguhkan wisata religinya.

Demak juga disebut sebagai gudangnya buah jambu kristal dan varian jambu lain. Orang-orang menyebutnya sebagai ‘jambu Demak’. Selain jambu, belimbing juga menjadi hasil kekayaan alam andalan yang juga menembus pasar nasional, bahkan internasional.

Tapi siapa sangka, Demak juga memiliki kekayaan budaya berupa batik. Orang menyebut batik Demak ini sebagai batik Mlatiharjan. Disebut ‘Batik Mlatiharjan’, karena lokasi yang menjadi sentra industri batik ini berlokasi di Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak.

“Nguri-uri” batik Demak

Secara umum, hampir tiap daerah di Jawa Tengah memiliki kekayaan budaya berupa batik. Di Jateng sendiri, batik yang terus berkembang sekaligus menjadi industri adalah Pekalongan dan Solo. Hanya saja daerah-daerah lain pada saat itu tidak mengembangkan secara lebih serius sehingga pamor batik hanya untuk Pekalongan dan Solo.

Mengenal Batik Khas Demak: ‘Batik Mlatiharjan’

Kendati demikian, di tengah arus informasi yang kian maju, setiap daerah di Jateng berlomba-lomba untuk mengenalkan produk batik khasnya. Dan salah satunya adalah “batik Mlatiharjan” yang berlokasi di Kecamatan Gajah Kabupaten Demak.

Mahasiswa KKN kelompok 30 dalam kunjungannya ke sentra batik Mlatiharjan, Kusmidarmini, mendapat jawaban perihal pengembangan batik Demak. Dalam infonya, sentra batik yang dikerjakan Kusmidarmini bermula dari keinginan untuk mengenalkan batik khas Demak.

“Semula, dari dulu saya suka gambar. Ditambah Pak Lurah yang memang ingin mengembangkan wisata edukasi di Desa Mlatiharja ini. Beliau, lalu, mengadakan pelatihan membatik di Balai desa. Nah, dari situ saya tertarik untuk belajar dan mengembangkan batik khas (baca: Mlatiharjan ini),” terang Kusmidarmini.

Ia menambahkan, proses pembuatan batik Mlatiharjan sama seperti batik pada umumnya. Hanya saja corak atau pola yang membedakan, dan itu menjadi khas tiap-tiap daerah.

“Pertama kita bikin gambar atau polanya dulu. Lalu, baru dicanting, diwarnai, dikasih obat juga biar warnanya tidak mudah luntur. Batik juga diproses untuk pembuangan malem atau biasanya disebut ‘dilorot’,” tambahnya.

Motif Mlatiharjan

Motif batik Mlatiharjan sesungguhnya sangat bervariasi. Namun, Kusmidarmini ingin menonjolkan corak buah kelengkeng yang merupakan buah yang dikembangkan di Desa Mlatiharjo.

“Motif batik Mlatiharjan sendiri memang khas dengan motif-motif Demakan. Seperti buah jambu, belimbing, masjid agung, bledeg, dan sebagainya. Khusus di kami, mengembangankan motif kelengkeng. Karena memang di Desa Mlatiharjo ini mengembangkan buah kelengkeng,” ujarnya.

Mahasiswa yang berkunjung diberikan kesempatan untuk belajar membatik. Aris Sairi, koordinator kelompok 30 merasa senang bisa berkunjungan ke sentra batik, sekaligus ‘ngangsu kawruh’ dengan belajar membatik. (*)

Related Articles

Back to top button