fbpx
Essai

Meneladani Kiai Muqiet; Akhlak dan Politik-Kemanusiaan

Oleh: Ferdiansah, Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Silo Jember

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) — “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan (Gus Dur)”. Saya percaya, petuah Gus Dur itulah yang senantiasa diperjuangkan sekaligus dijalankan oleh Kiai Muqiet Arif dalam kerja-kerja birokrasi sebagai Wakil Bupati Jember.

Sayangnya, di tengah jalan ia seringkali mengalami berbagai hambatan, terutama dalam aspek rancangan dan realisasi kebijakan. Hal ini sebagai dampak ‘kurang mesranya’ hubungan Bupati dan Wakil Bupati dalam perebutan pengaruh kekuasaan.

Jabatan politis yang diembannya seringkali membuat Kiai Muqiet berpikir dengan jernih sebelum bertindak. Pun, dalam setiap pekerjaannya harus berlandaskan kepentingan rakyat.

Sebagai contoh, dalam suatu forum pertemuan kepala desa/ kelurahan se-Kabupaten Jember hadir Bupati dan Wakil Bupati Jember. Suasana forum kala itu menjadi tak nyaman, tegang, lantaran pernyataan Bupati yang dianggap terlalu keras.

Tapi keadaan pun berubah cair saat Kiai Muqiet memberikan sambutan paripurna. Gelak tawa dan senyum peserta menjadi tak terelakkan. Ini karena pidato tambahan yang disampaikan Kiai Muqiet kepada mereka. Bicaranya teduh, kontekstual dengan sesekali diselingi humor.

Humor bisa menjadi salah satu media untuk membangun komunikasi yang enak. Ini agar tercipta suasana santai dan kondusif. Sikap itu juga membuktikan kepemimpinan yang ‘luwes’, tak kaku dan bisa diterima banyak kalangan.

Kepemimpinan Sang Kiai

Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara menjadi pemimpin pesantren dan wakil bupati, pemimpin rakyat. Saat di pesantren, misalnya, ia menggunakan pola top-down dalam memimpin para santri.

Saat di lingkungan birokrasi, ia lebih mengedepankan loyalitas dan mencakup semua aspek. Baginya, yang lebih penting dalam birokrasi yakni bisa melakukan kerja manajerial yang baik. Dan, itu telah dipelajarinya sejak nyantri di Pesantren Annuqayah.

Dalam perjalanan karirnya, Kiai Muqiet selalu meneladankan akhlak dan kesantunan yang membawa kesejukan. Hal itu pulalah yang ditanamkannya dalam kegiatan-kegiatan politik.

Slogan yang cukup membekas dalam benak hati bahwa: “fitnah, kebencian dan caci maki jangan dibalas dengan hal serupa. Balaslah dengan kesabaran dan akhlaqul-karimah”.  

Sebagai sosok dengan latar belakang pesantren, Kiai Muqiet awalnya cukup ‘kelabakan’ ketika masuk birokrasi yang sarat akan aturan dan protokoler.

Ia mengaku lebih pas dengan dunia pesantren yang akrab dengan tradisi dan kesederhanaan. Awalnya ia juga kurang suka dengan budaya birokrasi yang ribet, meskipun pada akhirnya ia beradaptasi.  

Politik-Kemanusiaan

Sebagaimana Gus Dur, Muqiet juga memberikan ceramah agama yang diselingi humor khas pesantren. Hal itulah yang selalu dirindukan, karena semenjak menjabat wakil bupati waktunya cukup tersita dengan beban kerja administrasi yang melelahkan.

Banyak penghargaan yang diraih Kabupaten Jember baik dari sektor pendidikan, birokrasi dan lainnya. Hal ini tidak lepas juga dari sosok dan peran Kiai Muqiet dalam memberikan advokasi masyarakat.

Politik-kemanusiaan diimplementasikannya dalam kerja birokrasi. Berbagai kritikan pun diterima dengan catatan untuk dievaluasi. Semua dilakukan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat Jember.

Politik-kemanusiaan menjadi visi sekaligus pondasi utama Kiai Muqiet dalam setiap relung geraknya. Dengan visi itu pulalah ia selalu menjalin sinergitas dengan seluruh lapisan masyarakat, bekerja sama dalam menjalankan roda pemerintahan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Dari visi itu, Kiai Muqiet akhirnya tetap dicap sebagai pemimpin yang bijak dan produktif meski tahun ini (2020) menjadi periodesasi turunnya “tahta pemerintahannya”.

Lantas, akankah ia melanjutkan perjuangannya dan kembali mengabdi untuk masyarakat Jember? Kita tunggu saja, semoga Tuhan Yang Kuasa meridhoi setiap langkahnya! (*)

Related Articles

Back to top button