KH. Ahmad Muthohhar energi bangsa
KH. Ahmad Muthohhar sosok Kyai lemah lembut penuh makna (foto : rifki hidayat)
Inspirasi BangsaReligius

Mendalami Tarekat dan Kelembutan Hati KH Ahmad Muthohhar

0

ENERGIBANGSA.ID – Bangsa Indonesia sejatinya memiliki energi dan potensi yang besar dalam pengembangan masyarakatnya, terlebih tokoh masyarakat yang berbasis kiai pesantren. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Futuhiyyah, sebuah pesantren yang terletak di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Kabupaten Demak dan sudah dikenal sejak zaman pendirinya, yakni KH. Abdurrohman bin Qashidil Haq.

Sebagai pesantren yang dikenal sebagai pusat tarekat Qadiriyyah wan Naqsabandiyyah, Futuhiyyah tercatat telah melahirkan ulama ahli tasawuf yang dikenal luas oleh masyarakat, salah satunya KH Ahmad Muthohhar yang menjadi pengasuh setelah KH Muslih bin Abdurrohman.

Untuk diketahui sebelumnya, berikut tim energibangsa.id berikan urutan putra dan putri KH. Andurrohman bin Qashidil Haq :

  1. Hafshah (lahir di kapal dalam perjalanannya menuju ke tanah suci dan meninggal di Jakarta dalam perjalanannya pulang ke tanah air)
  2. KH. Utsman (wafat tahun 1967 M)
  3. Bashirah (wafat sewaktu kecil)
  4. KH. Muslih (wafat tahun 1981 M)
  5. KH. Muradi (wafat tahun 1980 M)
  6. Rahmah (wafat sewaktu kecil)
  7. KH. Fathan (wafat tahun 1945 M)
  8. KH. Ahmad Muthohar (wafat tahun 2005 M)
  9. Hj. Rahmah Muniri (almarhumah)
  10. Faqih (wafat sewaktu kecil)
  11. Tasbihah Muhri

Tarekat adalah sebuah metode mendekatkan diri kepada Allah memberikan karakter yang khas dan bahkan unik bagi para penganutnya. Banyak pemahaman yang sulit dipahami oleh manusia pada umumnya, seperti kelembutan hati KH. Ahmad Muthohar.

Kelembutan hatinya menempatkan setiap manusia yang memelihara makhluk hidup harus memperhatikan hak-hak yang semestinya didapat di alam terbuka. saya ingat betul dalam peringatan 1 Abad PP Futuhiyyah terdapat seremonial pelepasan berbagai burung.

Banyaknya burung yang dilepas bukan berarti membuat mereka langsung bebas. Sebab banyak diantara santri yang berusaha menangkap untuk dipelihara. Penulis masih ingat betul saat berusaha menangkap Burung Parkit bersama santri yang lain dengan maksud untuk dipelihara.

Seusai jamaah shalat ashar, saya dipanggil oleh Mbah Mad, sapaan akrab KH Ahmad Muthohhar, untuk menghadap. Kepada penulis, Mbah Mad meminta agar melepaskan burung parkit, termasuk menyampaikan hal tersebut pada santri yang lain.

Manuke culno yo… kae kanca-kancamu yo dikandani (burung yang tertangkap lepaskan ya… itu teman-temanmu juga diberitahu),” pesannya dalam Bahasa Jawa.

Menurut neliau, burung pada umumnya memakan ulat dan sejenisnya yang menjadi hama pertanian. Selain memberikan nasehat tentang keseimbangan alam, Mbah Mad juga membicarakan tentang hak-hak makhluk hidup.

Memelihara makhluk hidup tak cukup dengan memberikan makan dan minum yang cukup, namun juga memperhatikan bagaimana kandang dapat memberikan kehidupan sebagaimana di alam bebas. Selain itu, ada hak kawin dan reproduksi burung yang kerap disepelekan banyak pemelihara hewan.

Demikian Mbah Mad menuturkan pesan yang dalam dan sarat makna tersebut. Sama halnya kuda yang biasa digunakan tenaganya untuk mengangkut manusia atau barang, maka manusia tidak diperbolehkan menyembelih atau menjualnya.

Wes dialap manfaat tenagane, ora keno didol utawa disembelih (sudah dimanfaatkan tenaganya, tidak boleh dijual atau disembelih,red),” pesannya.

Salah satu putra KH Ahmad Muthihhar, yakni Prof. Dr. KH. Abdul Hadi Muthohhar, MA pada suatu ketika pernah begitu jengkel pada serombongan semut yang merambat di dinding rumah tak jadi meneruskan niatnya untuk membakar semut tersebut lantaran teguran Mbah Mad.

“Tak ada yang berhak membakar makhluk bernyawa kecuali Allah,” katanya. Demikianpendek, tegas dan sarat makna.

Dalam menjaga ketenangan masyarakat, Mbah Mad juga kerap berkeliling Pasar Mranggen sekedar untuk memperhatikan aktifitas perekonomian dan memberikan nasihat bagi yang membutuhkan. Hal ini biasanya dilakukan di pagi hari berselang kurang lebih satu jam setelah Jamaah Subuh. Perlu diketahui bahwa Jamaah Subuh di PP Futuhiyyah dengan sejumlah wiridnya dipastikan selesai setelah waktu dhuha, biasanya santri membubarkan diri setelah selesai membaca wirid dan diumumkan untuk melaksanakan shalat dhuha.

Sekilas tentang KH Ahmad Muthohhar ini penulis sajikan sebagai sebuah petuah bijak seorang penganut tarekat yang memiliki sikap lemah lembut. Meski tercatat sebagai veteran Laskar Hizbullah, tutur kata yang terucap dari mulut Mbah Mad selalu lirih. Semoga beliau bisa menjadi panutan anak-anak muda sekarang agar menjadi energi bangsa di kemudian hari.

*Ahmad Rifki Hidayat, alumnus Sekolah dan Pesantren Futuhiyyah Mranggen, tim Redaksi EnergiBangsa.id

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Film Bali: Beats Of Paradise Karya Sineas Indonesia Dapat Apresiasi Perusahaan Internasional

Previous article

Indonesia dan Rusia Tingkatkan Kerjasama Bilateral di Berbagai Bidang

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.