Essai

Memahami Uniknya NU

oleh : Junaidi Abdul Munif *

ENERGIBANGSA.ID – Setahun ini saya bersentuhan langsung dengan NU dan banom-banomnya. Perbedaan NU sebagai jamaah dan NU sebagai jam’iyah itu nyata dan berlangsung keras.

Dalam arti, orang yang amaliahnya NU, bisa antipati dengan kepengurusan NU. Hal ini menegaskan kembali apa itu NU kultural dan NU struktural. Di ormas lain saya tidak tahu apakah ada juga model kultural dan struktural seperti di NU.

Orang-orang yang memiliki visi membawa NU bergerak juga di bidang kemasyarakatan, sering terbentur tembok kenyataan, bahwa tidak banyak yang berpikir seperti dirinya. Pandangan nyinyir kalau bikin konsep, ide, itu mudah. Pengaplikasian yang sulit.

Namun ada juga fenomena menarik. Banyak warga yang mau urunan untuk selapanan Fatayat, Muslimat, Doa Arwah Jamak. Tapi ketika saya iseng-iseng bilang, acaranya NU. Respon mereka mengejutkan, “buat apa NU narik iuran? NU itu sudah kaya, anggarannya besar.”

Padahal yang bilang seperti itu, Minggu sebelumnya mau menyisihkan sedikit rizkinya untuk iuran pengajian Fatayat-Muslimat. Untung di tataran bawah, belum banyak yang paham kalau keduanya adalah banom NU. hehehe…

Beberapa waktu lalu saya ditanya kawan jauh, “apa kontribusimu ke NU?”

“Wah, belum ada, Kang. Tapi Alhamdulillah saya kini bisa ngaji, ngopi, ngepam, bareng sahabat Ansor dan Banser.” jawab saya sederhana.

Kami sih baru pada level sebagai orang yang terselamatkan karena kumpul bareng wong NU. Kecipratan berkahnya NU melalui Banser-Banser yang keren itu, melalui alumni pondok yang masih mau ngurusi NU.

Allahuma NU pokoke khidmah…

*Junaidi Abdul Munif, Direktur Elwahid Center. Ketua PAC GP Anshor Gubug – Grobogan

Related Articles

Back to top button