fbpx
EssaiKolom

Melawan Logika “Mata Najwa”

oleh : Yus Husni Thamrin, Pengamat Ekonomi Politik, Wartawan Senior

ENERGIBANGSA.ID – Seorang perempuan menghampiri kios yang menjual ponsel bekas. Dia melihat-lihat ponsel yang dipajang secara terbuka.

“Itu iPhone Pro Max ya Pak?”

“Berapa harganya?”

“Saya beli Rp100 ribu ya …?” kata perempuan itu sambil mengambil ponsel.

Ditaroknya di situ uang Rp100 ribu. Lalu dia pergi.

Tapi baru beberapa meter dia berjalan, dari jauh seseorang berteriak sambil menunjuk perempuan yang mengambil ponsel tadi.

“Maliiiinggg …, maliiiinggg … !!”

Perempuan itu lari, tapi orang-orang yang ada di situ langsung mengejar dan meringkusnya.

Bak buk bak buk… pukulan dari berbagai arah menghantam kepalanya. Perempuan itu mengangkat tangannya seperti hendak mengatakan sesuatu.

Tapi orang-orang tak peduli, terus menghunjami dengan pukulan dan tendangan. Sampe dia benjut-benjut.

Beruntung segera datang dua polisi. Perempuan itu dibawa ke Pos Polisi terdekat, diikuti pemilik kios dan orang-orang.

“Kamu mencuri henpon kan?” tanya Polisi.

“Tidak … “ jawab perempuan itu.

“Ini buktinya … !” kata Polisi sambil menunjukkan ponsel.

“Saya tidak mencuri, saya membelinya … !”

“Bohong … ! Saya sedang ke toilet, pas keluar saya lihat dia membawa ponsel dari kios saya,” kata pemilik kios.

“Tadi saya lihat-lihat henpon di satu kios. Ada yang bagus, saya tawar Rp100 ribu. Karena nggak dijawab, saya anggap setuju. Saya taruh uang Rp100 ribu di situ, saya bawa henponnya,” dia menerangkan.

“Gila aja iPhone Pro Max dibayar Rp100 ribu? Apalagi saya pas lagi gak di sana… !” pemilik kios nyolot.

“Loh … kalau Najwa Shihab bisa melakukan wawancara imajiner, kenapa saya tidak bisa melakukan transaksi imajiner? Ada dimana keadilan … ??!” protes perempuan itu.

Related Articles

Back to top button