fbpx
Essai

Mau Makan Apa? Terserah!

Oleh: Eka Kurniawan, penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

ENERGIBANGSA.ID—Sore hari karena lapar, saya pergi ke warung burjo. Kepada si akang penjual, saya bilang, ’’Mi tante satu’’.

Ia tidak memanggil tantenya, tentu saja. Tanpa banyak bertanya, ia langsung membuatkan saya semangkuk mi ’’tante’’ alias tanpa telur.

Sebetulnya saya bisa saja protes dan bilang saya ingin mi buatan tantenya. Atau, mi dengan merek ’’tante’’.

Kalau itu terjadi, saya dan si akang penjual akan ngotot-ngototan siapa yang paling berhak menentukan makna ’’tante’’.

Si akang mungkin akan bertanya ke pembeli lain, mencari dukungan. Saya mungkin akan balik ke rumah, ambil Kamus Bahasa Indonesia, dan memperlihatkan makna kata tersebut.

Lagi pula, saya bisa memesan mi tanpa menyebut ’’tante’’. Menyebut mi saja sudah pasti ’’tanpa telur’’.

Tapi, sialnya, kalau saya mengikuti logika tersebut, saya bisa diberi mi bukan hanya tanpa telur, tapi juga tanpa bawang goreng, tanpa kuah, dan bisa jadi tanpa mangkuk!

Ekspresi dunia

Kita sering percaya bahwa bahasa yang kita pergunakan merupakan bayangan dunia atau realitas.

Itu terjadi karena kita mengekspresikan perihal dunia melalui bahasa. Kita berpikir mempergunakan bahasa.

Kita juga mengetahui apa yang ditangkap orang lain mengenai realitas melalui bahasa yang mereka pergunakan.

Pada saat yang sama, juga sadar bahasa yang kita pergunakan banyak mendistorsi kenyataan.

Pertama, bisa karena keterbatasan bahasa itu sendiri. Kedua, karena keterbatasan penguasaan bahasa si pemakainya. Ketiga, apa yang masuk akal secara tata bahasa sering kali tak masuk akal di kenyataan.

“Soda gembira”

Coba mampir kembali ke warung burjo dan memesan ’’soda gembira’’. Susunan frasa itu tentu saja sah secara tata bahasa.

Itu kan semacam kata benda bersanding dengan kata sifat, macam ’’kucing galak’’ atau ’’tas merah’’.

Masalahnya, di kenyataan kita bisa membuktikan kucing galak memang kucing yang perangainya galak.

Soda gembira? Setelah memesan minuman itu, saya tahu itu memang mengandung soda, tapi di bagian mana ’’gembira’’-nya?

’’Soda gembira’’ tak menggambarkan soda yang gembira, setidaknya menurut saya. Meskipun begitu, tak segala hal memang harus masuk akal.

Itu pertama. Yang kedua, berdasar kesepakatan, soda gembira merujuk ke jenis minuman yang secara umum dikenali sebagai campuran soda, susu, sirup, dan es batu.

Permainan bahasa itu lucu

Permainan-permainan berbahasa ini sebetulnya lucu, dan kalau sudah diterima dengan baik sebagai kesepakatan bersama, tak ada yang akan mempermasalahkannya.

Lihat menu-menu makanan yang semakin hari semakin lucu, seperti sengaja mempermainkan cara berpikir kebanyakan manusia.

Ada menu coto bernama ’’janda’’ alias ’’jantung dan daging’’.

Yang lebih ajaib adalah ketoprak ’’rahasia’’, yang ternyata ’’tidak diberi tahu’’. Itu tentu permainan antara ’’tahu’’ sebagai makanan dan ’’tahu’’ dalam makna mengerti/paham.

Saya ingin “masturbasi”?

Bagaimana kalau saya pergi ke suatu restoran dan tiba-tiba saya bilang ke pelayannya, ’’Saya ingin masturbasi?’’ (padahal itu tak ada di menunya).

Si pelayan mungkin pucat pasi dan menganggap saya gila atau menganggap saya telah melecehkannya.

Pemilik restoran akan memanggil satpam. Padahal, yang saya maksud tak lain dari ’’mi, nasi, telur, bercampur dalam satu porsi’’.

Saya pernah melihat foto menu semacam itu dibagikan orang di internet. Tapi jelas, istilah itu belum tentu dipahami di restoran lain atau oleh pembeli lain.

Sudah lama para pemikir dibikin gelisah oleh kenyataan betapa logika bahasa sering kali tak nyambung dengan logika sehari-hari.

Urusan menu makanan mungkin tak akan terlalu gawat, tapi bagaimana jika distorsi makna tersebut terdapat di undang-undang?

Di berita yang dibaca jutaan orang? Di ucapan seorang tokoh? Pernah ada pembahasan di antara para filsuf, misalnya, tentang kalimat ’’kotak bulat itu tidak ada’’.

Secara tata bahasa betul, tapi pada kenyataan membingungkan. Kalau ’’kotak bulat’’ memang tak ada, kenapa disebut?

Kalau sudah disebut, berarti ada, setidaknya secara konsep? Tapi, secara konsep pun, memang seperti apa ’’kotak bulat’’?

Salah satu jalan keluar untuk kebingungan macam begitu, beberapa pemikir mengusulkan agar kita menciptakan atau mempergunakan bahasa dengan lebih tepat.

Artinya, tak ada distorsi. Kalau kalimat tadi bermasalah, ubah saja kalimatnya menjadi, ’’Tak ada hal yang kotak sekaligus bulat’’.

Benar secara tata bahasa, betul juga dalam kenyataan. Ngomong-ngomong, jalan keluar semacam itu dikatakan oleh Bertrand Russell.

Masalahnya, memangnya kita mau tiap masuk ke warung burjo terus bilang, ’’Saya pesan mi, bungkusnya dibuang, direbus pakai air mendidih, tambahin bawang goreng, dan disajikan di mangkuk’’?

Bisa saja. Banyak restoran menulis menu dengan bahasa positif, dijelaskan demikian benderang macam: ’’Daging sapi panggang dan saus lada hitam’’.

Bahasa memberi ruang untuk beragam salah paham. Membuat dunia penyok ke sana kemari. Tapi, bahasa juga memberi ruang untuk saling mengerti.

Tanpa kehendak saling mengerti, saya yakin kita akan bertengkar terus dengan pasangan setiap kali kita bertanya, “Mau apa?” dan jawabnya, “Terserah”, yang ternyata tak benar-benar terserah. (*)

*Artikel ini telah tayang di Jawa Pos edisi Minggu, 14 Februari 2021

Related Articles

Back to top button