Essai

Mari Belajar dari Hanum Rais

ENERGIBANGSA.ID – Netizen dua hari ini dibuat heboh oleh cuitan Hanum Salsabila Rais. Pasalnya, putri politisi senior Amin Rais ini kembali mencari sensasi dari musibah yang menimpa Menkopolhukam Wiranto.

Dalam cuitannya, Hanum nyinyir Wiranto melakukan settingan atas kasus penikaman yang menimpa dirinya dan Kapolsek tersebut.

Meski telah dihapus (pengakuannya dalam tweet setelahnya mengatakan kehapus), namun banyak yang telah mengambil screenshoot. Hal serupa juga dilakukan melalui akun facebooknya.

Nah, sobat energi perlu belajar dari Hanum Rais. Lulus dari Fakuktas Kedokteran Gigi, dan berhasil melenggang menuju kursi legislatif DPRD DIY bukanlah jaminan memiliki etika publik yang baik. Em,, Apa Hanum seronok? Eitz… sabar sobat energi. Jangan negative thinking gitulah.

Etika publik di sini merupakan asas kepatutan tentang cara pikir, dan tindakan yang semestinya dimiliki oleh orang berpendidikan, dan tokoh masyarakat pula.

Menjadi anggota dewan dari parpol besutan papahnya, PAN adalah dalil yang an sich menyatakan dirinya sebagai tokoh masyarakat.

Oh iya, dalam cuitan berikutnya dia nyatakan terhapus. Ini menimbulkan tanda tanya juga guys… Bagaimana mungkin seorang pejuang online yang tak lazim dianggap min jumlatil gaptek? maksud saya Hanum ini bukan dari golongan gaptek, jadi bagaimana bisa ‘kehilangan’ cuitan.

Alih-alih bisa menunjukkan siapa pencuri cuitannya, yang terjadi selanjutnya justru akunnya digembok. Tweet kehapus. Are you sure?

Hal menarik lain yang perlu kita pelajari, selain pernah menjadi presenter berita Reportase di Trans TV, konon kabarnya doi juga seorang penulis. Kalau tidak salah sih, karyanya berupa novel.

So, like you see, tak jauh dari imajinasinya dalam berkarya, dia menyebut Wiranto sedang berakting dengan cuitannya yang menuliskan “Play victim.mudah dibaca sebagai plot”. Imajinasinya berlebihankah?

Mari, belajar dari Hanum Rais. Kehidupan ini tak semestinya diisi oleh kebencian sebagaimana kutipan populer yang menyatakan ‘Para pembenci tak butuh penjelasan atau berbagai klarifikasi, mereka hanya butuh ruang berekspresi’.

Karena itu, semestinya kita manfaatkan energi kita untuk saling mengisi, dan saling melengkapi. Itulah kita, bangsa Indonesia yang terkonsep dalam Bhineka Tunggal Ika.

Kita husnudzon saja, mungkin Hanum Rais berkaca dari kasus hoax dan play victim-nya Ratna Sarumpaet, sehingga dia tidak ingin jatuh di ‘lubang yang sama’. Tapi ingat, rata-rata seseorang berfikir sejauh apa yang pernah dia lakukan.

Mungkin selama lima tahun ke depan ini kita harus bersyukur, karena memiliki wakil rakyat yang seperti ini membuat hati kita terlatih sabar, sambil senyum tipis-tipis.

Related Articles

Back to top button