fbpx
Sosial & Budaya

Makna Sajian Lontong Cap Go Meh dalam Tradisi Imlek Sejak 1973

ENERGIBANGSA.ID – Perayaan tahun baru China bukan hanya saat hari Imlek ditetapkan saja. Tetapi pada hari ke lima belas dari awal penanggalan awal Imlek juga, yakni Cap Go Meh.

Perayaan tahun baru China Cap Go Meh di Indonesia berbeda dengan di belahan dunia lainnya.

Di Indonesia, sajian khas Imlek bagi Tionghoa-Jawa biasa adalah Lontong Cap Go Meh.

Makanan ini berisi lontong yang disajikan dengan kuah santan sayur labu, opor ayam, dan sambal goreng hati.

Mirip ketupat

Lauk di Lontong Cap Go Meh bisa dibilang sangat mirip dengan ketupat yang selalu hadir dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Menurut banyak sumber, memang seperti itulah asal usul Lontong Cap Go Meh yang merupakan produk peranakan Tionghoa Indonesia.

“Orang China membuat lontong cap go meh, terinspirasi dari ketupat tetapi ada bedanya dengan ketupat, lontong tak bersudut,” ucap ahli gastronomi dari Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito.

Ada filosofi di balik itu semua, seperti bentuk lontong lingkaran. Menurut Murdijati, lingkaran adalah representatif dari bulan purnama.

Dari budaya Islam

Senada dengan Murdijati, Pemerhati budaya Tionghoa, Agni Malagina menyebutkan bahwa lontong cap go meh berasal dari budaya umat muslim.

Seperti di Lasem, Jawa Tengah ada lontong bentuk segi tiga. Mirip dengan lontong China Peranakan.

Menurutnya, dalam dunia kuliner saling serap dan saling pinjam resep dan teknik pembuatan adalah hal yang wajar terjadi.

“Lontong Cap Go Meh ini bentuk makanan adaptasi, bentuk baru untuk kaum peranakan. Bukan menggantikan, mereka menghormati tradisi masyarakat setempat (di pesisir Laut Jawa). Lontong Cap Go Meh ini murni untuk merayakan Cap Go Meh. Mereka ingin memunculkan identitas asli mereka karena kan peranakan itu gak tahu resep masakan asli,” ujar Agni saat dihubungi.

Hanya di pesisir Pantura

Jenis makanan ini hanya bisa ditemukan di pesisir Laut Jawa. Di daerah-daerah peranakan China lain seperti di Singkawang, Palembang, atau Bangka Belitung tradisi sajian ini tidak mereka ketahui.

“Akulturasi di Bangka Belitung, Singkawang di Pontianak, memang baru-baru datang ke nusantara pada abad ke-19 karena untuk mengisi tenaga kerja perkebunan dan tambang. Interaksi dan asimilasi di sana kurang mendalam dibandingkan imigran-imigran dari China ke Pulau Jawa,” imbuhnya.

Lain halnya di Jawa, akulturasi terjadi sejak zaman Laksamana Cheng Ho pada Dinasti Ming tahun 1368-1644 masuk ke wilayah pesisir Laut Jawa di sisi Semarang.

Jalur pesisir Jawa merupakan jalur perdagangan laut pada masa itu. Laki-laki imigran China banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat seperti perkawinan dengan perempuan-perempuan Jawa.

Setelah itu, masyarakat China peranakan melihat kuliner itu dan mencicipi ketupat dan opor ayam mereka tertarik untuk membuat sendiri sebagai identitas kelompoknya.

Hingga akhirnya, Lontong Cap Go Meh kini identik dengan sajian saat Cap Go Meh atau tanggal15 kalender China setelah Tahun Baru Imlek di Indonesia.

(Ara/ EB)

Related Articles

Back to top button