EssaiKita IndonesiaOpini / Gagasan

Luka Papua adalah Luka Kita

oleh : Gilang Dwiangga Putra Nababan*

Hal memilukan sedang terjadi di tanah Papua saat ini. Lagi, rasa kekecewaan harus menyelimuti di hati para saudara-saudara kita yang berada di Bumi Cendrewasih tersebut.

Kemarin tepat sehari sebelum negara ini merayakan Hari Kemerdekaan  yang seharusnya dirayakan dan diperingati bersama seluruh rakyat Indonesia dengan khidmat, penuh kebahagiaan dan keceriaan, juga memaknai lebih dalam rasa kesatuan dan persatuan harus ternoda dengan insiden yang sangat mengironikan dan tak bisa ditolerin bagi masyarakat Papua.

Pada tanggal 16 Agustus,  sejumlah mahasiswa Papua yang tinggal di asrama di Surabaya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan oleh sejumlah orang yang menyantroni tempat tinggal mereka.

Para mahasiswa Papua itu, dikutip dari tirto.id,  mendapat berbagai ujaran dan makian yang bernada rasial berupa anjing, babi hingga monyet dari sejumlah orang yang melakukan pengepungan tersebut.

Lebih dari itu, bak seorang teroris, mereka juga mendapat tembakan gas air mata hingga membuat beberapa mahasiswa Papua yang berada di dalam asrama mengalami luka-luka dan harus bertahan selama berjam-jam disana.

Peristiwa ini terjadi sebernanya dipicu dari main duga yang dilakukan sejumlah orang tersebut. Berawal dari pesan whatsapp yang beredar bahwa bendera merah putih yang berkibar di depan asrama mengalami perusakan dan pembuangan diselokan, sejumlah orang yang diketahui dari aparat dan organisasi masyarakat reaksioner langsung menduga hal itu dilakukan oleh oknum mahasiswa Papua yang tinggal disana dan melakukan pengepungang tanpa melakukan investigasi lebih lanjut.

Perlakuan itu pun akhirnya pecah dan terjadi. Hingga keesokan harinya tanggal 17 agustus, sejumlah orang tersebut berhasil merangsek masuk dan menggiring para mahasiswa Papua yang memilih bertahan ke Polrestabes Surabaya.untuk menjalani pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, seluruh mahasiswa Papua mengaku tak tahu menahu perihal perusakan bendera merah putih yang ditemukan di depan asrama mereka. Pihak aparat akhirnya memulangkan 43 mahasiswa Papua pada minggu dinihari.

Peristiwa ini lantas menambah daftar deretan panjang catatan hitam atas perlakuan tidak menyenangkan yang selama ini diterima oleh warga Papua. Sikap diskriminatif dan persekusi seringkali dialami oleh mereka di berbagai tempat.

Harus kita akui, hal ini tak lepas dari stereotipe kita terhadap warga Papua yang menghasilkan stigma negatif. Ditambah lagi sikap sentimen yang belum mampu kita hilangkan terhadap warga Papua terkait masalah Papua Barat dalam sejarah Indonesia.

Seperti terbentuknya Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada tahun 1965 dengan keinginan untuk memisahkan diri dari Bumi Nusantara atas bujuk rayu Belanda hingga kini dianggap sebagai organisasi pemberontak dengan segala teror yang mereka lakukan.

Namun sejatinya itu tidak menjadi sebuah momok dan bayang-bayang yang mengelayuti benak masyarakat Indonesia sehingga terjadi sentimen terhadap warga papua.

Sebab pada  Penentuan Pendapat Rakyat (Perpera) yang terjadi tahun 1969 dimana memberi kesempatan pada masyarakat Papua untuk memilih menentukan nasibnya sendiri, dengan keteguhan hati rakyat Papua pun memilih untuk tetap  dalam lingkungan Republik Indonesia. Maka sejak itu Papua menjadi integral dari Indonesia.

Dari itu pun dapat menunjukkan dengan jelas bagaimana komitmen dan kesungguhan hati warga Papua untuk bergabung dan hidup bersama dalam lingkungan Indonesia.

Apalagi yang tergabung dalam OPM hanya beberapa atau segelitir warga Papua saja bukan seluruhnya. Kita seharusnya tidak mudah untuk asal menuduh dan men-judgment begitu saja kepada semua warga Papua terlebih yang saat ini berada di luar Papua seperti mahasiswa Papua. Kita harus lebih arif dalam melihatnya dengan cara person to person bukan dengan memukul rata.

Malah dengan perlakuan seperti itu atau sikap diskriminatif dan persekusi yang sering kita tunjukan sebagaimana yang telah terjadi di Surabaya ini bisa membuat warga Papua mengurangi rasa simpatiknya terhadap pemerintah Indonesia.

Buktinya cukup nyata, dari peristiwa yang tak manusiawi itu telah memantik rasa kecewa cukup dalam bagi seluruh warga Papua. Ditambah dengan beredarnya hoax terkait peristiwa tersebut. Tak ayal warga Papua melakukan demo besar-besaran di rumah mereka sebagai bentuk protes atas perlakuan didapat saudara mereka di Surabaya.

Bahkan tak hanya di Papua saja tapi menjalar ke berbagai kota di Indonesia. Warga Papua yang berada di luar juga tersulut rasa kecewa dan melakukan bentuk protes serupa. Parahnya warga Papua yang ada di Medan dalam melakukan aksi protesnya diiringi dengan menyanyikan lagu kebangsaan Papua dan mengibarkan Bendera Bintang Kejora yang dibuat oleh OPM.

Maka dari itu, sudah selayaknya kita mulai menyikapinya dengan baik dan bijak bestari. Jangan sampai dari perlakuan yang kita lakukan dan tunjukkan selama ini terhadap warga Papua kedepannya menjadi buah simalakama yang membuat Papua memisahkan diri dari Indonesia.

Hilangkan segala sikap diskriminatif dan persekusi yang selama ini kita lakukan dan tunjukkan terhadap warga Papua. Tidak hanya itu sikap sentimen pun juga harus kita redam. Sekali lagi tidak semua warga Papua adalah anggota dari OPM. Janganlah memukul rata begitu saja.

Juga bagi Pemerintah, mulai saat ini harus lebih serius dalam memperhatikan dan memberi perhatian terhadap masalah-masalah yang terjadi di Papua. Pemerataan Kesejahteraah dan Pembangunan di Bumi Cendrawasih harus terus konsisten digalakan demi mewujudkan kemajuan dan kesejaterahan Papua. Jangan hanya berkutat pada pembangunan berbasis Jawa Sentris yang selama ini menghinggapi pemerintah Indonesia.

Selain itu kita  harus mengedepankan dan meningkatkan rasa persaudaran kita. Masyarakat Papua juga merupakan bagian dari kita, dari Rakyat Indonesia. Mereka bukan tamu yang menumpang di negeri kita. Jadi jangan pernah membeda-bedakannya. Dengan begitu kita dapat mempererat rasa persatuan dan kesatuan kita.

Mahasiswa salah satu perguran tinggi swasta di kota Atlas.

Related Articles

Back to top button