fbpx
Lewat ke baris perkakas
Wisata & Kuliner

Lontong Tuyuhan: Kuliner Khas Rembang, Warisan Sunan Bonang

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Sobat energi, ada yang pernah mencicipi lontong tuyuhan? Atau minimal pernah mendengar nama itu, dan tak asing lagi?

Well ! Sobat energi, lontong tuyuhan merupakan kuliner yang dipadu antara lontong, daging ayam dan kuah kental kuning yang pedas. Mirip-mirip opor, gitu!

Modifikasi menu lontong tuyuhan, yang disajikan mirip lotong-opor. (Sumber: Instagram/ rini_kitchen)

Nah, kuliner satu ini sebenarnya berasal dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Jika kita ke sana, sobat energi bakal menyaksikan para penjaja lontong tuyuhan di sepanjang jalan Tuyuhan.

Mereka berjualan di warung-warung kecil di pinggir jalan. Jadi, sobat energi bisa memilih warung mana yang sedang sepi, tak banyak dikunjungi pemburu kuliner. Sebab, soal rasa hampir semua ‘bakul” memiliki resep leluhur yang hampir sama. Tetep endes!

Satu porsi lontong tuyuhan biasanya disajikan dalam dua piring. Satu piring lontong dan satu piring lagi lauk; ayam bumbu kuning. Yang jadi pembeda dengam opor ayam, menu lotong tuyuhan ini terdapat cabai rawit utuh yang bisa bikin nafsu makan menggila.

Untuk harga, sebenarnya dapat dibilang tak terlalu mahal, ya? Lho, satu porsi lontong tuyuhan yang dipadu dengan ayam kampung plus tahu atau irisan tempe rata-rata hanya dipatok Rp20.000-an saja. Ayam yang digunakan daging ayam kampung, lho. Murah, bukan?

Warisan Sunan Bonang

Lontong tuyuhan yang khas dengan lontong yang berbentuk mengerucut (segitiga) kuah kental kuning, irisan tahu atau tempe, daging ayam serta tambahan cabe utuh (Sumber: Instagram/ orangrembang)

Ternyata, asal mula nama kuliner ini tak lepas dari Sunan Bonang yang berdakwah agama Islam di Kabupaten Rembang, yang berbatasan dengan Jawa Timur itu.

Konon, Sunang Bonang bertemu dengan Blancak Ngijo yang kerap menentang dakwahnya. Lantaran dengan cara halus tidak mempan, maka Sunan Bonang hendak menemuinya secara langsung.

Singkat cerita, saat Bonang hendak menemuinya, Blancak Ngijo sedang menyantap lontong dengan kuah sayur kuning ditambah dengan potongan ayam besar di tengah sawah. Wow, sedap ya sob!

Nah, karena kaget menyaksikan kehadiran Sunan Bonang, Blancak Ngijo berlari sambil terkencing-kencing (kuyuhan). Rupanya ia ketakutan melihat sosok Bonang yang memiliki keilmuan yang tinggi dan kharisma.

Padahal sejatinya Sunan Bonang hanya ingin berbincang. Mungkin kalau di zaman milenial, ya, kira-kira mau ajak “ngopi” ya sob! Hehe …

Terus, dari kasus itulah Sunan Bonang memberi nama daerah itu dengan “Tuyuhan”. Bermula dari situ pula, nama “Lontong Tuyuhan” kian melegenda, di seantero jagad Jawa Tengah bahkan Indonesia.

Sobat energi pernah mencoba? Yuk, berburu kuliner Jawa Tengah! (dd/EB).

Related Articles

Back to top button