fbpx
EssaiPojok BangsaReligius

Li Khomsatun, Jimat di Tengah Wabah

oleh : Rifqi Fairuz

ENERGIBANGSA.ID – Di rumah saya terpasang sebuah kaligrafi di sisi barat ruang tamu. Ukurannya cukup besar, panjangnya sekitar 1,5 meter dengan pigura warna emas. Ia terpampang dengan cantiknya di atas jendela, diapit foto dua Ulama Quran besar sebagaimana lazimnya ruang tamu orang NU, selain logo NU itu sendiri di bagian lain dalam rumah.

Kaligrafi tersebut bertuliskan sebuah syair dengan khat (kalau tidak salah) Farisi :

‏لي خمسة اطفي بها حر الوباء الحاطمة
المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة

Terjemahan syair ini kurang lebih adalah tentang lima “jimat” yang dimiliki dalam hidup, yang dengan wasilahnya diyakini bisa memadamkan segala penyakit dan epidemi yang mengancam manusia, baik yang berpotensi merusak lahir maupun batin.

Kelima jimat pegangan hidup itu berupa lima sosok manusia; yaitu Al-Musthofa (Rasulullah Muhammad), Al-Murtadho (Sayyidina Ali), kedua anaknya (Sayyid Hasan dan Husein) serta Fatimah.

Li Khomsatun, Jimat di Tengah Wabah

Kelimanya adalah perlambang puncak keluhuran manusia dari sisi kemuliaan teladan dan akhlak Al-Musthafa, kebijaksanaan ilmu Al-Murtadha, keberanian dan sifat ksatria Hasan dan Husein, serta kejernihan hati seorang ibu bernama Fatimah.

Di beberapa tempat, suara parau mbah-mbah muazin menembus senja sambil bersenandung dengan syiir ini sembari menunggu iqamat shalat Maghrib. Kadang disertai syair berbahasa Jawa. Meski harus diakui, musala dan masjid kita yang makin ramai justru makin sepi dari senandung indah semacam ini. Pujian yang jadi doa, menyelimuti semua telinga yang dihampirinya.

Akan tetapi sayang sekali jimat ini justru dipandang dengan miring oleh kelompok tertentu. Coba cari kata “li khomsatun” di mesin pencarian Mbah Google itu. Di beberapa situs teratas justru menyandingkan bait tersebut dengan kata “Waspada!” Dan “Syiah”. Ini sama sekali tidak masuk akal saya. Bagaimana mungkin lima sosok luhur jimat alam semesta ini harus diwaspadai? Suul adab namanya, diwaspadai macam maling saja. Tak ada yang perlu diwaspadai dari syiir ini kecuali cuma tuduhan tak bertanggungjawab dari orang-orang tentangnya.

Penyebutan kelima sosok manusia itu sebagai jimat membuat beberapa kelompok menengarai tradisi ini sebagai tanda-tanda Islam kita “terjangkit” paham Syiah yang ‘sesat’.

“Nadyan ibadah sak umur-umur, amal ibadah ora kena diukur, marang limane yen ora akur..”
(Meskipun beribadah seumur hidup, amal ibadah tidak akan bisa diukur apabila memusuhi kelimanya) Begitu penggalan syair mengingatkan kepada kita.

Apalah arti disebut Syiah jika itu berarti mencintai Rasulullah dan keluarganya. Kalau tidak salah, Gus Dur pernah mengutip sebuah syair dari Imam Syafii (jika salah mohon dibenarkan)

إن كان رفضاً حبُّ آلِ محمدٍ … فليشهدِ الثقلانِ أَني رافضي

Tidak aneh pula jika Gus Dur juga menyebut, meski secara aqidah kita Asy’ari, tapi tradisi Islam di Nusantara praktisnya bertradisi mirip Syi’i.

Lagipula, kaligrafi itu datang tidak sembarang datang. Dia datang sebagai kenang-kenangan dari Pondok Yanbuul Quran Kudus, beberapa tahun lalu. Rumah kami keberkahan menjadi lokasi semaan dan pertemuan Santri Yanbu’ul Quran, – yang adik saya Yakhsyallah pernah mondok di sana – dan dirawuhu langsung oleh KH. Ulinnuha Arwani, yang juga menyaksikan penyerahan kenang-kenangan itu. Saya anggap saja itu kaligrafi pemberian Mbah Kyai Ulin, minimal direstui kehadirannya oleh beliau.

Kembali ke “li khomsatun”. Sesuai dengan makna harafiyahnya, wasilah syiir ini diyakini banyak orang bisa melindungi manusia dari ancaman wabah penyakit, bahkan kebakaran. Maka tidak jarang bait ini ditemukan tertempel/ditulis di bagian belakang pintu rumah, atau dalam secarik kertas yang terselip di bingkai jendela.

Kepercayaan atas sebuah nama sudah dimulai sejak manusia pertama. Alkisah, Nabi Adam As bermunajat kepada Allah, dengan berwasilah melalui nama agung Nabi Muhammad Saw dalam pertobatan atas khilafnya. Perihal sebuah nama, tidak bisa kita abaikan begitu saja.

Di tengah wabah penyakit yang tidak menyenangkan belakangan, bayangan kaligrafi di atas jendela itu menyeruak menembus ingatan. Kepala saya dihampiri lagi senyum teduh Mbah Kyai Ulinnuha yang duduk lesehan di ruang tamu. Begitu juga foto ayahanda beliau, Al-Muqri’ Al-Kabir, Mbah Kyai Arwani di sisi kanan kaligrafi itu, dan gambar Mbah Kyai Mufid Mas’ud Allah Yarham di sebelah kirinya.

Beberapa hari belakangan, syiiran ini kembali saya senandungkan selepas tengah malam. Dengan berwasilah kepada nama-nama agung itu, saya berdoa untuk perlindungan bagi kita semua. Karena memang hanya itu yang saya punya.

*Rifqi Fairuz, Santri Nusantara, Gusdurian, alumni Center for Religious and Cross-Cultural Studies di Universitas Gadjah Mada

Related Articles

Back to top button