fbpx
Inspirasi BangsaKita Indonesia

Lebih Dekat dengan Gus Nung, Politisi Sekaligus Kyai yang Membumi

ENERGIBANGSA.ID – Nama lengkapnya H. Nuruddin Amin, namun beliau lazim dipanggil Gus Nung. Lahir di Jepara, 7 Agustus 1967.  Putra dari KH. Amin Soleh, dan Hj. Aizzah Amin, lulusan Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1998).

Kecintaannya pada tanah air membawa dirinya masuk dalam dunia jurnalistik sejak SMA, karena baginya, ketika mata rakyat ditutup ‘keindahan’ rezim orde baru, jurnalisme harus bisa lebih jujur dalam berita.

Sejak awal semester sudah menekuni dunia tulis-menulis dengan bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa Arena. Baginya menulis adalah bagian dari dakwah dan kejujuran memberi informasi.

Aktif di media pers mahasiswa dengan rekam jejak prestisius, membuat Gus Nung terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fak. Adab pada 1988-1989. Sejak muda, sikap determinan dan aktif dimana-mana sudah menjadi ciri khasnya. Baginya, manusia harus menjadi bermanfaat bagi sesama.

Kegigihannya dalam menggeluti dunia media, membuat dirinya didaulat menjadi Sekretaris Forum Diskusi Wartawan Yogyakarta (FDWY) tahun 1990-1998, dan menjadi wartawan di BERNAS pada 1989-1994.

Sebagai salah satu jurnalis didikan KOMPAS media dan LP3Y (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Pers Yogyakarta), Nuruddin Amin ditempa oleh wartawan senior; Ashadi Siregar, untuk menjadi wartawan yang jujur dan ‘jual mahal’.

Menjadi idealis dan independen adalah ‘wahyu pertama’ yang diberikan KOMPAS agar Gus Nung muda tetap berjalan dalam pemberitaan yang jujur dan pro-rakyat. Saat wartawan lain diberi amplop oleh Pemerintah, agar mau menulis hal yang baik-baik saja, ia tetap pada pendirian untuk mewartakan dalam jujur dan apa adanya.

Jujur, tegas, dan apa adanya menjadi ciri khas Gus Nung sejak muda. Meski resikonya adalah menjadi sedikit dimusuhi wartawan dari Persatuan Wartawan Indonsia (PWI) karena tidak mau menerima ‘amplop’ dari pemerintah.

Para jurnalis idealis ini akhirnya membentuk kelompok diskusi wartawan bernama FDWY. Dan Gus Nung muda akhirnya dilantik menjadi pengurus forum tersebut. Saat menjadi pengurus FDWY, Gus Nung muda bersama kawan-kawan seperjuangan membawa FDWY menjadi salah satu elemen yang menggerakkan berdirinya Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada 1994.

Sebagai salah satu penggiat jurnalistik dan corong media yang pro-rakyat, Gus Nung muda sempat didaulat menjadi presidium AJI, dan menjadi Direktur Penerbit LKiS pada sekitar tahun 1993-2000 di Yogyakarta.

Kepiawaian dalam rekam jejak jurnalistik, membuat Gus Nung muda didaulat menjadi Sekretaris PWNU (Pengurus Wilayah NU) wilayah DIY pada 1997-2002 di bawah komando H. Sofwan Helmy, sebagai pimpinan PWNU DIY.

Jiwa dan nasionalisme Gus Nung muda semakin terbentuk tatkala dia memahami bahwa Bangsa Indonesia tidak hanya butuh media tapi juga butuh manusia-manusia muda untuk mengawal pergerakan, hingga akhirnya beliau diamanahi menjadi Ketua Pengurus Wilayah GP Anshor DIY.

Politik Praktis

Memahami dirinya sebagai kader NU tulen, dan menyandang gelar Gus dari putra kiai besar NU di Jepara yang aktif di dunia pergerakan dan berani lantang membela kepentingan masyarakat. Nuruddin Amin muda menyatakan maju dan masuk sebagai kordinator deklarasi berdirinya PKB pada 23 Juli 1998. di tingkat wilayah DIY, dan menjadi pengurus pertama partai dalam periode 1998-2003.

Pada periode kedua, 2003-2008, nama H. Nuruddin Amin masuk menjadi Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB DIY. Namun sejak wafatnya ayahanda KH Amin Soleh pada 19 November 2002, Gus Nung memilih untuk mengabdikan diri berkhidmah di dua tempat; Jogja dan Jepara.

Lebih Dekat dengan Gus Nung, Politisi Sekaligus Kyai yang Membumi
Gus Nung bersama Abdul Kadir Karding

Membagi waktu menjadi pengurus harian partai di Jogja dan menjadi pengasuh pesantren di daerah Jepara, membadali ayah menjadi pemomong masyarakat di bidang agama, khotbah jumat dan membimbing ibadah haji menjadi tantangan sendiri bagi Gus Nung di masa itu.

Namun belum sampai selesai masa jabat beliau sebagai Sekretaris Dewan Syuro, Gus Nung diminta ibunda pulang dan menetap di Jepara.

“Jika Ummi yang minta, saya sebagai anak tak sanggup menolaknya,” kisah Gus Nung sebagaimana dikutip energibangsa.id dari laman official gusnung.com

Pada bulan September 2003, Nuruddin -Gus Nung- Amin bersama istri; Hindun Anisah, yang merupakan putri Kyai Krapyak Jogja, mulai boyong dari Jogja ke Bangsri Jepara

Selain menjadi pengasuh pesantren, bersama adiknya KH. Zainal Umam, di PP Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara, Gus Nung juga merupakan Ketua Jam’iyyah Thoriqoh Wahidiyyah dalam menyampaikan Islam Nusantara sebagai Islam Rohmatan Lil Alamin.

Menjaga Idealisme; Membela Kaum Cilik

Idealisme Gus Nung sejak masih muda, tak banyak berubah meski sudah menjadi kyai; pengasuh pesantren Hasyim Asy’ari di Bangsri Jepara. Pada 2009 silam, Warga Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara (Jawa Tengah) menjadi saksi bahwa H. Nuruddin Amin (Gus Nung) adalah salah satu tokoh yang menolak keras rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN di desa Balong Jepara.

Pada Rabu, 11 Juli 2007 Ketua PCNU Jepara KH Nuruddin Amin (Gus Nung), melakukan aksi demo tunggal di Korea Selatan (Korsel). Itu dilakukan setelah Pemerintah Korsel melarang demo anti-PLTN digelar dengan melibatkan banyak orang.

Lebih Dekat dengan Gus Nung, Politisi Sekaligus Kyai yang Membumi

Gus Nung melakukan aksinya di siang hari di depan gedung Korean Electric Power Company (KEPCo) Korsel. Aksinya mendapat dukungan Korean Federation of Environmental Movement (KFEM), organisasi peduli lingkungan di Negeri Gingseng. Selain ke Korsel, Gus Nung juga datang ke Jepang. Ia berangkat atas nama pribadi bersama aktivis Green Peace Asia Tenggara, Nur Hidayati.

Dalam demo itu H. Nuruddin Amin, yang lazim disapa Gus Nung meminta Pemerintah Jepang dan Korea Selatan serta pihak swasta di dua negara tersebut tidak memberikan bantuan apa pun kepada Indonesia untuk rencana pembangunan PLTN Muria.

Upaya demi upaya yang dijalani akhirnya membuahkan hasil, PLTN di semenanjung perbatasan Jepara-Kudus Muria tersebut kini tak jadi dibangung.

Beliau sejak muda hinggi kini aktif mengkampanyekan jargon “Dari santri untuk Indonesia.” Pada 2019 kini selain menjadi Ketua DPC PKB Jepara, beliau juga menjadi Wakil Ketua Anggota DPRD Kab Jepara. Baginya, menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama dan membela kepentingan rakyat adalah amanah, dan itu harus diperjuangkan bersama.

Related Articles

Back to top button