Energi MudaTeknologi

Lebih Canggih, Mahasiswa ITB Ciptakan Tongkat Cerdas I-Cane Untuk Penyandang Tuna Netra

ENERGIBANGSA.ID – Luncurkan inovasi baru, Mahasiswa ITB jurusan Desain Produk dan Biomedika ciptakan tongkat canggih I-Cane bagi penyandang tuna netra.

Teknologi kian merambah maju dengan kecanggihan yang terus berkembang untuk membantu manusia dalam mengerjakan suatu kegiatan. Hal tersebut membuat anak negeri saat ini semakin inovatif yang tidak ada matinya menciptakan hal baru untuk terus berkreasi.

Peluncuran I-Cane ciptaan Mahasiswa ITB ini hadir untuk dikenalkan di tengah masyarakat yang bertepatan merayakan World Sight Day 2019 di Bandung beberapa pekan lalu. Pembuatan tongkat canggih ini tentu menjadi kabar menyenangkan untuk membantu saudara kita penyandang tuna netra agar lebih terawasi dengan fasilitas GPS yang terpasang.

“I-Cane memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya GPS untuk melacak keberadaan difabel netra (DN),” ujar salah satu mahasiswa ITB yang mengembangkan I-Cane, Eko Agung Syaputra melansir dari Kompas.com

Eko menjelaskan, GPS ini akan memberitahukan pemakainya soal posisi dia berada. Tak hanya itu, GPS ini terkoneksi dengan keluarga difabel netra

Hal ini sebuah harapan baru untuk keluarga atau orang terdekat yang tidak perlu khawatir menacari keberadaan saudara penyandang tuna netra yang beraktifitas di luar rumah. Adanya GPS ini akan memberikan orientasi jika kehilangan arah yang akan terdeteksi dengan mudah lewat tongkat I-Cane.

Tak hanya GPS yang menjadi kelebihan tongkat I-Cane, alat ini sangat memudahkan penggunanya karena dilengkapi sensor dan roda. Sensor yang terpasang sangat sensitif sehingga mampu mendeteksi penghalang dengan mengeluarkan bunyi dan getaran untuk memberitahu apa yang ada di depannya.

Eko Agung Syaputra juga menyampaikan jika daya jangkau deteksi sekitar 1 meter di medan apapun. Roda diberikan untuk mempermudah pergerakan pengguna yang dapat dijalankan ke segala arah dan bisa berubah untuk tumpuan saat di tangga agar tidak licin ataupun di atas permukaan yang tidak rata.

Saat ini, Eko tengah menyiapkan dua prototype lagi. Dua prototype ini hampir sama dengan I-Cane. Bedanya, ukuran prototype lebih kecil. “Kalau ukuran tongkat normal sekitar 110 cm di Indonesia. Di luar negeri panjangnya 130 cm,” imbuhnya.

Pengerjaan I-Cane ini memakan waktu 2 tahun yang awalnya dipersiapkan sebagai karya untuk mengikuti lomba yang digelar oleh Syamsi Dhuha Foundation (SDF). Keikutsertaan I-Cane dalam perlombaan ternyata dilirik oleh minat masyarakat untuk dikomersilkan. Teteapi, Mahasiswa ITB ini belum mengetahui apakah akan di produksi secara missal atau tidak.

Related Articles

Back to top button