Nasional

Larang Memberi Pengemis dan Pengamen, Dinsos Semarang Tegaskan Semangat Kota Layak Anak

ENERGIBANGSA.ID – Perda No 5 tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Semarang dinilai sejalan dengan semangat menjadikan kota Layak Anak. Dalam Perda No 5 tahun 2014 tentang penanganan anak jalanan disebutkan tentang adanya larangan memberi pada anak jalanan, gelandangan, pengemis. Hal dikemukakan Kabid Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Semarang Tri Waluyo.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Pemkot Semarang Jalan Pemuda Kota Semarang, Tri Waluyo menerangkan bahwa anak jalanan, gelandangan, dan pengemis merupakan salah satu permasalahan kesejahteraan sosial di Kota Semarang

Menurutnya hal ini membutuhkan langkah-langkah penanganan yang terprogram, strategis, sistematik, terkoordinasi dan terintegrasi, sehingga dalam pelaksanaannya perlu dilakukan penanganan secara bersinergi antara pemerintah maupun non pemerintah agar mendapatkan penghidupan dan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan

Menurutnya, banyak lembaga atau organisasi sosial yang membutuhkan bantuan dalam memperhatikan anak jalanan maupun orang terlantar.

“Jadi, Peraturan daerah bukan melarang orang untuk beramal. Akan tetapi mengatur agar bantuan tersebut diserahkan lembaga yang bisa dipercaya dalam mengelola bantuan bagi yang membutuhkan,” katanya, Jumat (12/7/2019).

Dia menambahkan, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Sosial juga telah mengalokasikan anggaran untuk anak yatim, piatu maupun yang tidak mampu yang dirawat oleh panti asuhan.

“Kami yang melakukam verifikasi kelayakan panti tersebut. Jadi, jangan khawatir bila memberikan bantuan pada panti asuhan,” terangnya.

Oleh sebab itu, Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang hingga saat ini masih melakukan patroli PGOT (pengamen, gelandangan dan orang terlantar) sebagaimana diakui oleh koordinator TPD, Dwi Supratiwi. “TPD masih aktif berpatroli,” katanya, “jadi, tidak hanya merespon laporan saja,” imbuhnya.

Dicontohkannya, salah satu hasil patroli belum lama ini menemukan warga Sumatera Barat yang terlantar di Pasar Genuk. Mita Tulamita namanya, perempuan 33 tahun mengaku berasal dari Jl. Baru No 14 RT 14 RW 18, Kec. Tebangan, Ranto Prapat, Sumatera Barat.

“Bu Mita kami datangi ketika tidur di emperan Pasar Genuk lantai bawah bersama anak perempuannya yang berusia 2 tahun bernama Putri Ayu Andira,” bebernya.

Kepada TPD, Mita mengaku pergi ke Semarang menjelang lebaran lantaran diajak suami yang menikahinya secara siri.

Dia mengatakan bahwa suaminya, Ginot, orang Palembang yang mengaku ingin pulang ke rumah orang tuanya di Semarang. Namun setelah sampai di Semarang, rumah orang tua suaminya tidak pernah ditemukannya, bahkan dia ditinggal lari sehingga ia kini hidup terlantar.

Ironisnya, uang sakunya digasak habis dan dibawa lari suaminya. “Ia mengaku dari kampung halaman membawa uang sebesar Rp. 6.000.000,-,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menerangkan, Mita mengaku sebagai seorang buruh cuci di kampung halamannya. Setelah ditinggalkan suaminya, ia terpaksa meminta-minta untuk memenuhi kebutuhannya bersama buah hatinya. Selain itu, ia berusaha mengumpulkan uang untuk pulang ke kampungnya. (*)

Related Articles

Back to top button