fbpx
Kabar IndonesiaNasionalSosial & Budaya

Lagu “Yamko Rambe Yamko” dari Daerah Mana ?

ENERGIBANGSA.ID (Semarang Raya) – Perdebatan asal lagu “Yamko Rambe Yamko” masih belum berujung karena belum ada pihak yang bisa memastikan mengenai asal usulnya. Lagu yang selama ini diidentikan Papua, justru ditolak oleh seniman Papua karena lirik yang terkandung dianggap bukan dari bahasa adat di Papua.

Kontroversi ini mulai mencuat semenjak akun twitter #papuaitukita membuat cuitan pada 25 Juni 2020, tentang apakah lagu “Yamko Rambe Yamko” bukan lagu dari Papua.

Jefri Zeth Nandisa, salah satu pelaku seni dan pemerhati budaya Papua mengungkapkan bahwa perdebatan mengenai lagu yamko rambe yamko sudah lama terjadi dan hingga kini belum menemui titik terang.

Jefri yang juga merupakan koreografer, mengaku, sering menggunakan lagu tersebut sebagai pengantar tarian kontemporer Papua. Namun, Jefri menilai, bahasa yang digunakan di lagu tersebut belum bisa dipastikan dari daerah mana.

“Kalau dari ketukan dan musiknya lagu ini Papua sekali, tetapi untuk lirik kami belum tahu ini bahasa mana,” ujar Jefri, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (2/7/2020).

Jefri yang yang juga berprofesi sebagai dosen di Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Papua, menyebut, ada beberapa teori yang muncul mengenai asal-usul lagu ini.

Teori di antaranya bahwa lagu tersebut sengaja dibawa oleh guru-guru yang didatangkan pemerintah ke Papua untuk diajarkan kepada anak-anak Papua dan mengklaimnya sebagai lagu daerah Papua.

“Saya secara pribadi menilai lagu ini sudah ada sejak tahun 50-an karena menurut catatan pak SP Morin tahun 1963 di Biak ada guru-guru yang datang mengajarkan lagu yamko rambe yamko dan mengatakan itu lagu Papua,” kata dia.

Tetapi, Jefri juga menceritakan pengalaman kelompok paduan suara Lexi Lawarisa yang mewakili Papua pada lomba paduan suara di Jakarta pada 1977. Saat itu, mereka terkena diskualifikasi karena menyanyikan lagu yamko rambe yamko sebagai lagu wajib daerah.

“Pada 1977 rombongan paduan suara yang mewakili Papua ikut lomba di Jakarta. Kebetulan tim Papua membawa lagu wajib daerah itu yamko rambe yamko. Kemudian mereka dianggap dis karena ketua dewan juri EL Pohan mengklaim itu lagu ciptaannya saat berada di Papua Selatan, dan itu bukan lagu Papua,” tutur Jefri.

Setelah itu, tidak pernah ada penelusuran lebih lanjut mengenai pernyataan EL Pohan. Tetapi, Jefri mengakui bila kontroversi mengenai lagu yamko rambe yamko bisa muncul karena masih minimnya literasi mengenai sejarah dan budaya Papua.

Agus Samori, seorang dosen Antropologi di Universitas Cenderawasih dan juga seorang seniman menyebut, literasi mengenai budaya dan sejarah Papua sudah cukup banyak.

Namun, buku-buku tersebut tidak di buat oleh Indonesia, melainkan oleh orang-orang Belanda, sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa belanda.

“Kalau kami mau melakukan penelitian ya harus ke Belanda dan belajar bahasa Belanda atau terjemahkan buku-buku tentang Papua yang ada ke bahasa Inggris atau lebih baik lagi ke bahasa Indonesia,” kata Agus.

Isu diciptakan Soekarno

Dari berbagai teori yang muncul mengenai lagu yamko rambe yamko, Agus menilai salah satu yang paling masuk akal adalah teori yang menyatakan bahwa lagu tersebut diciptakan oleh Soekarno, saat diasingkan di Boven Digoel.

Menurut dia, Soekarno yang mempunyai bakat seni sangat mungkin menciptakan lagu tersebut, hal itu bisa dilihat dari nada yang diciptakan.

“Mungkin yang bisa terima itu yang dari masa penjajahan, pembuangan, tetapi yang dari (bahasa) Afrika menurut saya tidak ada keterkaitan antara kehadiran orang Afrika di Papua,” kata dia.

“Kalau Sokarno bisa jadi karena dia punya hentakan pertama itu patriotis, lagu yang semangat untuk berjuang dan komposisi melodinya hampir sama dengan unsur etnik di Papua,” sambung Agus.

Ia memandang untuk bisa menemukan asal-usul sebenarnya lagu yamko rambe yamko, diperlukan sebuah penelitian yang komperhensif. Hanya saja, hal tersebut kembali kepada para stakeholder, apakah mereka menganggap hal tersebut penting atau tidak.

“Sebenarnya dari Uncen bisa melakukan penelitian dan Dinas Pendididkan dan Kebudayaan juga bisa, karena lagu itu sudah go international dan sangat terkenal. Kita takut jangan sampai negara lain mengklaim itu punya dia, untuk mengamankan lagu itu sebagai salah satu aset bangsa Indonesia, saya pikir penelitian bisa dilakukan. Kalau nantinya diketahui itu milik orang lain, maka kita harus terima itu,” kata Agus. (dd/eb)

(artikel ini disadur dari kompas.com edisi 2/7/2020)

Related Articles

Back to top button