foto: warningmagz
MusicSemangat Bangsa

Lagu Darah Juang Menggema Saat Demontrasi, Bagaimana Keadaan Penciptanya?

0

ENERGIBANGSA.ID – Minggu ini ramai Mahasiswa turun ke jalan, yang dimulai dari Tagline #Gejayanmemanggil membuat Para aktivis kampus dari berbagai belahan wilayah di Indonesia hadir menyuarakan aspirasi mereka akibat Pasal RUU KUHP yang Kontroversional akan di sahkan oleh DPR RI.

Demo Para Mahasiswa tersebut tentunya tak lepas dengan menyanyikan lagu tentang perjuangan dalam demonstrasi, seperti yang pernah akrab dinyanyikan bagi para aktivis 1990. Dan bagi para mahasiswa tentu tak asing dengan lirik ini

Di sini negeri kami,
tempat pagi terhampar,
samudranya kaya raya,
tanah kami subur, Tuhan.
Di negeri permai ini,
berjuta rakyat bersimbah luka,
anak kurus tak sekolah,
pemuda desa tak kerja.
mereka dirampas haknya,
tergusur dan lapar,
bunda relakan darah juang kami,
tuk membebaskan rakyat,
padamu kami berjanji

Lirik Lagu tersebut berjudul “Darah Juang”, Namun tahukah Sobat Energi siapa Pengarang Lagu Tersebut? Dikutip Brilio.net tim Energi Bangsa menemukan bahwa lagu itu lahir dari seorang musisi yang bernama John Tobing, Alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1994,

Saat tahun 1990 dirinya pernah menjadi aktivis hingga apa yang dirasakan selama pengalamannya ditulis menjadi sebagai sebuah lagu. hingga sekarang sudah ada 600 lebih lagu yang dicipatakannya. Hampir semua berisi tentang semangat pergerakan melawan ketidakadilan.

Jhon tobing mengakui lagu tersebut tercipta di tahun 1991, yang berawal dari kelompok diskusi, lalu ketikaTahun 1988 mulai bergerak dimulai dari Fakultas Filsafat UGM. Kemudian turun ke jalan dan mengajak semua kelompok-kelompok diskusi untuk ikut serta.

“Aku sendiri sebenarnya selalu belajar dari lingkungan sekitar, melihat alam. Dari situ aku melihat Indonesia ini kaya raya tapi kenapa banyak warganya miskin. Hal itu mengganggu banget. Lalu aku bikin lagu. Tapi saat terlalu emosi, entah kenapa aku nggak bisa bikin liriknya. Lalu aku minta seorang kawan membikinkan. Lalu aku tambahi dan kurangi.”ujarnya

Jhon menambahkan bahwa lagu darah juang prosesnya sangat panjang, dimulai dinyanyikan di komunitas Mahasiswa. Kemudian ada llirik yang diubah. Budiman Sujatmiko. Lalu dirubah lagi oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY), kemudian barulah setelah diskusi panjang dibuatlah judul “ Darah Juang”.

Pada saat FKMY kongres di Muntilan lagu tersebut dinyanyikan hingga membuat peserta menangis dan sempat nyanyikan di jakarta ketika ada aktivis meninggal. Lagu darah juanng mempunyai dampak yang luar biasa jhon sendiri baru tahu kalau lagu itu ikut menurunkan Suharto.

Setelah lulus dari UGM jhon pernah sering pindah pindah kerja, katanya pernah kerja di LSM hanya 10 hari. Pindah ke perusahaan pers yakni pers Batak yang cuma sebulan. Dan paling lama mempunyai usaha di Pekanbaru. dengan bisnis mebel 7 tahun.

namun bisnis mebelnya tersendat lantaran sebagai pengusaha kecil nggak bisa menahan laju harga yang naik.dan di tahun 2005 sampai 2010 pernah jadi pengurus DPD PDIP di Provinsi Riau terakhir gagal menjadi Caleg DPRD.

Kini Usia Jhon tak lagi muda,matanya sudah tak normal lagi bahkan pernah berobat ke Malaysia, Dokternya mengatatakan saraf matanya akan putus satu demi satu. Dan diperkirakan di usia 90 akan buta.

John Tobing pernah putus asa, saat kesehatannya menurun dan dia kehilangan pekerjaan. Tapi semangatnya untuk hidup terus dinyalakannya hingga sekarang. Ia bersyukur bisa membesarkan dan mendidik tiga anaknya, meskipun pernah meminta surat keterangan miskin agar bisa menyekolahkan anaknya. Tapi John tetap berpikir positif, bahwa perjuangan dalam hidup tak akan berakhir.

Kini ia penuh semangat bekerja, mencipta lagu, dan memberi manfaat kepada sesama. Ia masih sering menghadiri acara-acara aktivis mahasiswa meski dalam keterbatasan penglihatannya.

Kami tim Redaksi EnergiBangsa ikut prihatin dengan kondisi beliau, padahal sebagai MANTAN seorang aktivis di Organisasi Kampus sering memperdengangkan lagu tersebut, sampai mengajarkan pada adik – adik calon aktivis penerus kami, hingga membuat merinding mendengarnya membakar semangat Juang untuk menolak ketidakadilan. Kami sangat salut dengan perjuanganmu.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Perlu IMTAQ dan IPTEK dalam Bersosial Media

Previous article

Menjadi PNS Bukanlah Cita-Cita

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Music