La Galigo Bugis Teater
Salah satu potret dari halaman naskah kuno La Galigo dari Bugis. (dok. indonesia-heritage.net)
Kita IndonesiaPojok Bangsa

La Galigo Naskah Kuno Bugis yang Melalang Buana Hingga Internasional

0

ENERGIBANGSA.ID – Indonesia terkenal dengan kekayaan akan warisan budaya nya. Hal ini tak perlu ditanyakan lagi. Keragaman suku bangsa, adat istiadat dan kebudayaan menjadikan Indonesia memiliki banyak warisan budaya.

Kekayaan warisan budaya Indonesia sangatlah bernilai tinggi. Tidak hanya bernilai historis, tetapi juga memiliki nilai-nilai susastraan yang artistik. Maka tidak sedikit bila naskah-naskah kuno dari suku-suku Indonesia sangat bernilai tinggi dan sarat akan nilai-nilai spiritual dan sebagainya

Salah satu dari sekian banyak naskah-naskah kuno yang bernilai tinggi dimiliki Indonesia adalah La Galigo atau biasa dikenal dengan sebutan Sureq Galigo. Kitab kuno berbentuk puisi ini berisi tentang mitos penciptaan dari peradaban suku Bugis. Bahkan sebagian masyarakat Bugis yang masih menganut agama lokal, yakni kepercayaan Tolotang, meyakini posisi La Galigo merupakan kitab suci bagi kepercayaan mereka.

Salah satu cuplikan halaman dari Naskah Kuno La Galigo dari Bugis. (dok. twitter)

Merujuk deskripsi dari UNESCO, La Galigo disepakati berasal dari abad ke-14. Namun usia sebenarnya dari naskah kuno ini bisa jadi jauh lebih tua dari kesepakatan tersebut. Meskipun bukan teks sejarah, banyak ilmuan yang mengakui bahwa naskah tersbut memiliki pengaruh besar pada cara pandang sejarahwan melihat masa lalu peradaban Bugis, sebelum era masuknya islam karena narasi nya yang kuat.

La Galigo dianggap sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik india, Mahabrata dan Ramayana. Selain itu nisbinya lebih panjang daripada epik Yunani, Homeros.

La Galigo epik mitos terpanjang di dunia dan sebagai Memory Of the World yang telah disahkan serta diakui UNESCO,” Kata Ketua Harian Komisi Nasional untuk UNESCO, Arief Rachman yang dilansir dari tirto.id.

La Galigo ditulis dalam format puisi bahasa bugis kuno, berupa sajak bersuku lima. Naskah ini menceritakan kisah mitos penciptaan dunia dan asal-usul manusia, bercorak pra-islam dan bersifat epik-mitologis.

Cerita La Galigo dibuka dengan penciptaan dunia. Mulai dari dunia yang kosong dan turunnya Batara Guru ke dunia. Mereka turun di daerah Luwu di utara Teluk Bone. Batara Guru, sebagai raja digantikan anaknya La Tiuleng yang bergelar Batara Lattu’.

La Tiuleng punya anak kembar yakni La Madukelleng alias Sawaerigading dan We Tenriabeng. Keduanya dibesarkan terpisah dan baru bertemu lagi ketika dewasa.

Sawerigading, sang tokoh utama dalam naskah ini, terpesona dan jatuh cinta pada We Tenriabeng, saudara kembarnya. Ia pun mengajukan niatnya untuk menikahi We Tenriabeng. Hingga diceritakanlah kepada Sawerigading bahwa We Tenriabeng adalah saudara kembarnya.

Cinta itu pun harus kandas. Kawin dengan saudara sedarah dipercaya bisa mendatangkan bencana. Setalah kejadia itu, Sawerigading kemudian merantau ke Negeri Cina.

Dalam perjalanannya, Sawerigading menghadapi banyak pertempuran. Dia mengalahkan banyak penguasa, termasuk Penguasa Jawa Walio bernama Setia Bonga. Daerah-daerah yang diperkirakan pernah disinggahi Sawerigading adalah Maluku, Nusa Tenggara, Jawa dan Malaka.

Di perjalanan, Sawerigading juga mendapat banyak pengikut. Saat sampai di Negeri Cina, ia berhasil mengawini We Cudai yang tak kalah cantik dari We Tenriabeng.

Dari perkawinannya dengan We cudai, Sawerigading punya tiga anak, yakni Tenridio, Tenribaloba dan La Galigo. Selain kawin dengan We Cudai, Sawerigading juga kawin dengan We Cimpau dan memperoleh seorang anak bernama We Tenriwaru.

Sawerigading dan keluarganya itu sempat kembali ke Luwu. Kendati begitu, ia pernah bersumpah tidak akan kembali ke Luwu setelah gagal kawin dengan saudara kembarnya.

Sekembalinya Sawerihading dan We Cudaiq ke Luwu, kerajaanya yang terdahulu, kapal yang dinahkodainya karam. Mereka berdua lantas menjadi penguasa dunia bawah, sementara saudari kembarnya si We Tenriabeng naik kea lam dewa atau dunia atas.

Tak berselang lama setelah itu, semua manusia perta itu dipanggil kembali pulang kea lam Dewata. Meninggalkan La Galigo dan saudara lainnya di dunia tengah dan menjadi penguasa Luwu

Anak Sawerigading,La Galigo juga tak jauh beda dengannya. Ia diakui sebagai nahkoda dan perantau tangguh. La Galigo punya empat istri dari berbagai negeri. Ia juga Berjaya di perantauan dan tak jadi raja di kampungnya.

La Galigo punya anak bernama La Tenritatta yang kemudia bertahta di Lawu sebagai Raja.

Poster dari Pementasan teater I La Galigo yang sedang di pentaskan. (dok. IndonesiaKaya.com)

Cerita La Galigo menjadi perhatian masyarakat dunia. Sebagaiman informasi diperoleh tim energibangsa.id, Robert Wilsom, seorang sutradara avant garde terkenal dari Amerika Serikat tertarik dan membawa teks ini ke panggung teater Internasional mulai dari negara-negara Eropa seperti Belanda, Spanyol, Perancis dan Italian serta ke Amerika Serikat dan Singapura.

Pada tahun 2006 La Galigo di pentaskan di Indonesia dan di tahun 2011 naskah ini dibawa pulang dengan pementasan di makasar.

Kini setalah melalang buana dan rehat dari pementasan, kemarin, Robert kembali mementaskan cerita La Galigo di Jakarta. Co-Produser dan Direktur Artistik I La Galigo, Restu Imansari Kusumaningrum menyebut pementasan tersebut terakhir kali terjadi pada Oktober 2018 saat pertemuan IMF dan Bank Dunia digelar di Bali.

“Kami berharap pertunjukan yang telah kami rangkai secara modern ini dapat memperkenalkan naskah kuni asli Indonesia kepada generasi muda, sekaligus mengusik keingintahuan masyarakat untuk lebih mendalami seni budaya Indonesia agar tidak punah,” ujarnya,

Jadwal pementasan masih berlangsung hingga 7 Juli 2019 mendatang. Tiket pertunjukan dapat dibeli dengan harga mulai dari Rp 475 ribu hingga Rp 1,850 ribu secara online maupun offline.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Penting, Tipe-Tipe Stroke Mata Yang Harus Kita Ketahui

Previous article

PT INKA Garap Kereta Untuk Filipina

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.