fbpx
Opini / Gagasan

Kuliah Daring dan Limitasi Sosial Mahasiswa

Oleh: Tirza Kanya Bestari, Mahasiswa Semester 5 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

ENERGIBANGSA.ID — Sejak pandemi Covid-19 meluas pada permulaan 2020 lalu, sendi-sendi kehidupan masyarakat mengalami pergeseran dinamika yang signifikan. Oleh sebab latar keadaan, berbagai sektor mengalami pembatasan aktivitas besar-besaran, tak terkecuali dengan sektor pendidikan: dasar, menengah, dan tinggi.

Jutaan pelajar, mahasiswa, dan tenaga pengajar (guru dan dosen) harus melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh dalam rangka mengurangi interaksi langsung yang menjadi penyebab utama penularan virus. Hal ini didukung oleh kebijakan sistematis oleh Kemendikbud untuk mengadakan aktivitas pembelajaran dari rumah secara daring hingga akhir tahun.

Bagi sebagian besar mahasiswa, ketiadaan proses pembelajaran langsung di ruang-ruang kelas, menyebabkan turunnya frekuensi dan pengaruh interaksi sosial secara drastis, di mana interaksi yang dilakukan secara daring tidak dapat menggantikan interaksi langsung, serta timbulnya polemik-polemik baru khususnya dalam hal motivasi belajar dan kesehatan mental

Seperti yang dialami oleh Nathan, seorang mahasiswi di Yogyakarta, mengeluh terkait minimnya interaksi sosial akibat kuliah daring. Ia mengatakan bahwa selama ini keberadaan interaksi langsung sangat berpengaruh pada motivasi belajar dan pemikiran-pemikiran pendukung yang positif. Dengan dilangsungkannya pembelajaran jarak jauh, tantangan-tantangan baru pun muncul karena perubahan situasi belajar dan keseharian.

Hidup sosial?

Menurut Aristoteles, manusia sejatinya ialah makhluk sosial (homini lupus) di mana peranan interaksi sosial sangatlah besar bagi kelangsungan spesies. Manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Interaksi sosial dalam hal ini dapat didefinisikan sebagai hubuangan antar perseorangan, antar kelompok, dan kelompok lainnya.

Sosiolog Erving Goffman berpendapat bahwa masyarakat dapat terbentuk karena adanya interaksi sosial. Tanpa adanya interaksi sangatlah sulit untuk memahami dunia sosial, sehingga peranan interaksi terletak pada tatanan praktis bukan lagi teoretis. Interaksi-interaksi utama dan komunikasi antar individu dijalankan secara langsung, bukan melalui perantara seperti media sosial atau alat komunikasi. Sedangkan selama ini, penggunaan media sosial hanyalah sebagai media alternatif, bukan ditujukan media interaksi utama.

Pandemi sungguh menghentikan kecepatan hiruk pikuk masyarakat kita dan telah menghancurkan sayap interaksi sosial yang tidak terbatas. Di bawah batasan-batasan sosial ini, individu-individu dituntut untuk berdamai dengan realitas isolasi yang menakutkan. Ketidaksiapan emosional untuk bencana biologis semacam ini memiliki efek yang merugikan, salah satunya adalah timbulnya rasa kesepian.

Sebagai individu yang mengalami beratnya proses pembelajaran yang serba daring ini, kami mengharapkan orang tua dan para pengajar juga memahami betapa sesungguhnya dukungan dan peran mereka sangat sangat dibutuhkan. Orang tua juga “dipaksa” mengenal lebih dekat lagi sikap dan karakter anak mereka. Ketar-ketir yang dirasakan oleh mahasiswa maupun dosen serta pihak kampus yang lainnya juga tak bisa luput. Oleh karena itu, kerjasama dan komunikasi antara dosen dan mahasiswa sangat dibutuhkan.

Berdasarkan  elaborasi  yang  telah  dilakukan  pada  bagian  sebelumnya,  bisa disimpulkan bahwa menjalin komunikasi dengan orang lain merupakan sesuatu yang tidak bisa  ditinggalkan manusia sebagai mahluk sosial. Interaksi daring mungkin tetap melibatkan komunikasi  di dalamnya, namun tetap saja ada sebuah sekat yang membatasi ruang ekspresi antar individu, tetap saja ada jurang pemisah untuk mencurahkan emosi dan ekspresi dalam interaksi daring

Isolasi yang kami alami akibat pembatasan sosial mungkin mampu menciptakan ruang baru untuk memahami kondisi diri. Namun, interaksi daring ini tetap tidak akan mampu menggantikan peran interaksi langsung. (*)

Related Articles

Back to top button