Nasional

KRAT Mujana Hadi Nagoro: Kebudayaan Satukan Nusantara

ENERGIBANGSA.ID – Kini semua orang semakin menyadari bahwa energi bangsa ini sangat besar, terlebih dengan keragaman budayanya. Kebudayaan merupakan sebuah entitas untuk mempersatukan nusantara dengan berbagai latar belakang agama, organisasi maupun pendidikan.

Hal ini dikatakan Salah satu trah Kerajaan Pajang, KRAT Mujana Hadi Nagoro seusai kirab budaya dan prosesi penggantian Songsong yang ada di petilasan Kerajaan Pajang, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

“Budaya itu untuk mempersatukan nusantara. Jadi kita tadi melakukan prosesi mengganti Songsong Agung Tunggul Raja. Ini untuk mengingat kebudayaan kita di tlatah Kasultanan Pajang, budaya yang adhi luhung,” katanya, Sabtu (31/8/2019)

Kanjeng Jono, sapaan akrabnya, menjelaskan praktiknya dalam konteks kenegaraan saat ini. Adanya ritual tradisi kebudayaan tersebut menyatukan semua elemen yang ada untuk menyukseskan gelaran tersebut. Karenanya, meski tanpa adanya APBD, kegiatan tersebut dapat berjalan lancar.

Lebih lanjut dia menjelaskan filosofi istilah Songsong Agung. Songsong Agung merupakan payung yang mamayungi, atau lebih tepatnya bersifat melindungi dan mengayomi. Karena itu Songsong Agung hanya dimiliki oleh Raja sebagai simbol pengayom rakyatnya.

Kegiatan penggantian Songsong Agung dilakukan secara turun-temurun untuk menyambut datangnya bulan Suro, bulan pertama dalam penanggalan Jawa. Untuk merawat budaya, berbagai kegiatan dilaksanakan di tempat tersebut, seperti belajar Bahasa Jawa, MC Bahasa Jawa, rutinan selapanan dan sebagainya.

Perwakilan dari Keraton Surakarta yang menjadi penerima simbol agung dalam serah-terima penggantian Songsong Agung, Dewi Kencana Sari mengingatkan agar masyarakat merawat dan menjunjung tinggi nilai luhur yang ada dalam budaya nusantara.

“Jangan sampai kita melupakan budaya kita sendiri. Walaupun kita berbeda-beda agama, tetapi tetap sama,” pesannya.

Dewi menuturkan, agar kebudayaan bangsa ini tidak punah, maka harus dilestarikan. Nguri uri kabudayan, istilah Jawa, dapat diimplementasikan dalam perilaku hidup sehari-hari, seperti sikap lembah manah. Yaitu, bentuk atau praktik dari kata sabar, tidak sombong, dan mau mengalah.

Untuk menjaga area cagar budaya tersebut, gerbang keraton sudah didirikan dan fasilitas pendukung lain sudah mengalami banyak perbaikan, dari yang semula tidak ada. Hanya semak belukar dan area persawahan. Hal ini dibenarkan oleh Mbok Inem (81 th), salah seorang warga yang menghuni sebuah rumah di daerah sekitar petilasan tersebut sejak 60 tahun lalu. (*)

Related Articles

Back to top button