DuniaOpini / Gagasan

Kontestasi Penguasaan Teknokogi 5G AS-Tiongkok

Rivalitas Tiongkok-AS masih akan terus berlanjut. Keduanya akan tetap bertahan untuk menjadi aktor penting dan saling berebut pengaruh dalam politik global.

ENERGIBANGSA.ID – Dunia internasional di tengah pandemi Covid-19 belakangan ini disuguhkan sikap saling tuduh AS-Tiongkok terkait penyebab utama virus, aksi perang dagang yang memburuk, serta saling unjuk kekuatan militer maritim kedua negara di perairan Laut China Selatan.

Namun hal lain yang bisa saja menjadi pemantik ketegangan kawasan Asia-Pasifik, diantaranya terkait pertarungan penguasaan teknologi 5G yang nyaris dimiliki Tiongkok. Terlebih, penulis menyaksikan lompatan teknologi 5G di Tiongkok, saat berkunjung pada acara Ministry of Commerce RRC 2019.

Kemampuan teknologi 5G yang dimiliki Tiongkok bisa jadi sumber pemicu babak baru perseteruan AS-Tiongkok. Meski rivalitas dua negara besar Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sesungguhnya telah berlangsung sejak lama.

Pada 1950-an, pertarungan ideologi liberalisme (diwakili AS) dan komunisme (diwakili Tiongkok) menjadi awal babak baru pertarungan. Hubungan keduanya, bahkan diwarnai saling propaganda sepanjang Perang Dingin, embargo perdagangan, dan kebisuan diplomatik.

Pasca perang dingin 1990 hingga memasuki era milenial tahun 2000-an, peta konstelasi politik internasional berubah cukup drastis. Pun dengan gaya dan corak rivalitas antarnegara turut mengalami perubahan. Persaingan, kini sebenarnya tak lagi berkutat pada kekuatan militer dan ekonomi tetapi mulai merambah pada kekuatan teknologi.

Jika pada abad 16–18 negara-negara yang mampu menguasai lautan, maka ia akan menjadi penguasa dunia. Inggris Raya telah membuktikan hal itu, diikuti Perancis, Spanyol, Portugas serta Belanda. Namun kini ada sebuah keyakinan bagi negara-negara besar yang maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok bahwa pertarungan masa depan dunia akan bergeser menjadi pertarungan teknologi.

Berebut Teknologi 5G

Pada masa depan, siapa yang menguasai teknologi maka ia akan menguasai dunia sekaligus menjadi negara paling survive dipanggung internasional. AS dan Tiongkok secara tidak langsung juga sedang bergeser dalam pusaran pertarungan dan penguasaan tekonologi. Salah satunya adalah industri teknologi 5G.

Pergulatan ini sangat wajar, sebab ketergantungan dunia terhadap teknologi sangat kuat dari level individu sampai ke level negara. Teknologi internet 5G adalah generasi terbaru dari jaringan internet yang menjanjikan konektivitas serta kecepatan unduhan 10 hingga 20 kali lebih cepat dibanding kemampuan internet saat ini.

Keunggulan lain, termasuk pengunggahan datapun menjadi lebih cepat, didukung jangkauan yang lebih luas serta koneksi yang lebih stabil. Di masa depan, seluruh dunia dipastikan akan mengarah dan menggunakan teknologi tersebut.

Disatu sisi, Tiongkok dan Amerika tengah dalam perlombaan pengembangan dan menyebarkan jaringan teknologi komunikasi 5G dunia. Tiongkok telah berupaya untuk mendominasi secara global teknologi ini. Dan AS sadar, bahwa mereka sedang berada dalam persaingan yang serius.

Jika diamati, AS sementara jauh tertinggal dari Tiongkok. Saat ini Perusahaan Tiongkok seperti Huawei sangat progresif dalam pengembangan industri 5G, bahkan sebagian besar komponen ponsel yang ada di dunia saat ini adalah buatan pabrikan Huawei.

Maka, itu menjadi ancaman serius bagi AS. Tentu Gedung Putih tak ingin kehilangan pengaruhnya di dunia internasional. Ia tau betul, siapa pun yang memimpin dalam sektor ini secara global kemungkinan akan memimpin di banyak sektor lain di masa depan.

Alasan lain yang menjadikan ini sangat berarti bagi Negeri Paman Sam bahwa teknologi ini merupakan tulang punggung revolusi indistri 4.0 yang akan menjadi landasan untuk mengembangkan apa yang dulunya merupakan fiksi ilmiah seperti mobil yang dapat mengendalikan diri, rumah dan kota pintar, operasi jarak jauh, manufaktur otonom, realitas virtual canggih, dan banyak inovasi lainnya.

Ancaman Bagi AS

Kontestasi industri teknologi 5 G sebagai penopang revolusi industri 4.0 adalah kompetisi strategis besar dan Tiongkok saat ini berhasil melalui jagoannya, Huawei. Raksasa telekomunikasi ini telah secara agresif berusaha membangun jaringan 5G di seluruh dunia dengan bantuan subsidi besar dari pemerintah Tiongkok.

Huawei telah beroperasi di 170 negara (melalui kontrak 4G yang ada dan kontrak 5G yang baru). Sementara itu, perusahaan telekomunikasi utama AS hampir tidak memiliki kehadiran 5G internasional. Bagi Amerika progesivitas yang sangat cepat Huawei dalam pengembangan teknologi 5G tentunya menjadi sebuah ancaman.

Pengenalan teknologi nirkabel 5G menjadi pintu masuk dan peluang bagi Tiongkok untuk mencapai keunggulan dan dominasi atas negara–negara lain di dunia termasuk AS. Jika Huawei memenangkan persaingan teknologi 5G, dapat diprediksi 10 tahun ke depan AS telah kehilangan pengaruh sebagai negara dengan teknologi terkemuka. AS akan terkekang oleh sistem teknologi komunikasi Tiongkok, yang dikendalikan secara tunggal.

Ke depan, rivalitas Tiongkok dan AS masih akan terus berlanjut. Keduanya akan tetap bertahan untuk menjadi aktor penting dan saling berebut pengaruh dalam politik global. Metode persaingan keduannya pun tidak selalu mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi di saat negara-negara lain melakukan hal sama yaitu penguatan di bidang militer dan ekonomi.

Kebutuhan industri teknologi masa depan juga akan semakin kuat. Pun dengan tingkat ketergantungan menjadi semakin tinggi. Wajar saja bila tiap negara berlomba menjadi pemegang paten teknologi. Karena mereka akan menjadi penguasa politik global di masa depan.

Adi Joko Purwanto,
Alumnus S-1 Ilmu Hubungan Internasional Unwahas, Magister dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat ini, Dosen dan Peneliti Kajian Asia Timur di Chienese Corner Universitas Wahid Hasyim Semarang

Related Articles

Back to top button